dr. Zakiah Novianti, Sp.P, M.Kes – Pandemi COVID-19 menjadi beban bagi hampir semua negara. Tidak hanya permasalahan kesehatan namun juga ekonomi, sosial, pendidikan dan hampir semua aspek ikut terdampak. Permasalahan ini terus berlanjut bahkan ketika telah sembuh dari COVID-19. Penderita COVID-19 yang sudah dinyatakan sembuh umumnya bisa pulih kembali seperti sedia kala. Namun, ada juga sebagian penderita yang masih mengalami gejala atau keluhan tertentu. Penyintas COVID-19 ada yang masih mengalami sequele gejala yang dikenal dengan Long COVID. Dampak long COVID pada penyintas antara lain ketidakmampuan kembali bekerja secara normal, kehilangan pekerjaan, keterbatasan interaksi keluarga serta keterbatasan ekonomi, pangan dan stigma masyarakat. Setidaknya 1 dari 5 orang yang terinfeksi COVID-19 mengalami kesehatan yang buruk terus berlanjut setelah fase akut infeksi. (Office for National Statistics, 2020)

Menurut WHO, long COVID merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan individu dengan gejala COVID-19 yang menetap setelah periode 2 (dua) minggu sejak awal muncul gejala.

Istilah lain dari long COVID adalah long haulers, post COVID-19 syndrome, post acute COVID-19 syndrome, post acute squelae of SARS COV-2 infection (PASC).

Sebanyak 13.3% penyintas COVID-19 mengalami gejala >28 hari, 4.5% hingga > 8 minggu, dan 2.3% hingga >12 minggu. (Sudre et al, 2020)

Sedangkan menurut Carfi et al, pada hari ke- 60 setelah muncul gejala 12.6% bebas gejala, 52% masih mengalami satu gejala, dan 55% masih mengalami 3 (tiga) gejala atau lebih.

Sampai saat ini belum diketahui pasti mengapa pada satu orang bisa pulih sepenuhnya sedangkan pada yang lain terjadi long COVID meskipun telah dinyatakan sembuh. Ada beberapa faktor risiko yang diperkirakan menjadi penyebab long COVID seperti usia lanjut, komorbid, severity / beratnya penyakit, perawatan dengan terapi oksigen, dan perawatan dengan non-invasive ventilator atau ventilasi mekanik.

Gejala-gejala apa saja yang bisa dirasakan?

Menurut Carfi et al gejala yang paling banyak hingga yang paling jarang adalah sebagai berikut :

–      Kelelahan berlebih

–      Sesak / napas pendek

–      Nyeri sendi

–      Nyeri dada

–      Batuk

–      Anosmia

–      Pilek

–      Sulit berkonsentrasi

–      Hilang pengecapan

–      Nyeri kepala

–      Produksi dahak berlebih

–      Nafsu makan menurun

–      Nyeri tenggorokan

–      Vertigo

–      Nyeri otot

–      Diare

Sebagian besar penyintas long COVID mengalami kelelahan yang ekstrem. Dampak long COVID ini benar-benar melemahkan kehidupan mereka. Bahkan, berjalan kaki dalam waktu singkat saja sudah sangat meletihkan bagi mereka.

Selain kelelahan yang berkepanjangan, masih ada beragam keluhan lainnya yang terus melekat pada tubuh. Misalnya sesak napas selama berbulan-bulan, nyeri sendi dan otot, batuk yang tak kunjung sembuh, sakit kepala, hingga hilangnya indra penciuman.

Bagaimana kondisi paru paska COVID-19?

Kondisi paru paska COVID-19 perlu mendapat perhatian karena berbeda dengan sebelum mengalami COVID-19. Ada istilah sindroma pernapasan paska COVID-19 dimana gejala menetap, terdapat gangguan fungsi paru dan terjadi fibrosis / scar paru.

Sindrom pernapasan pasca COVID-19 terdiri atas 2 (dua) kategori yaitu :

Post acute COVID-19 syndrome

  1. Pasien pernah terkonfirmasi COVID-19.
  2. Terdapat gejala / gangguan paru dan pernapasan yang menetap > 4 minggu sejak awitan gejala COVID-19 sampai 12 minggu.
  3. Terdapat salah satu atau lebih gejala dan/atau tanda berikut :

–      Batuk kering atau berdahak

–      Sesak napas / napas berat / napas terengah-engah / lekas lelah

–      Aktivitas terbatas

–      Nyeri dada

–      Tenggorokan sakit atau gatal

–      Terdapat kelainan hasil pemeriksaan radiologis atau kelainan faal paru

Pasca COVID-19 chronic

  1. Pasien pernah terkonfirmasi COVID-19.
  2. Terdapat gejala / gangguan paru dan pernapasan yang menetap ≥12 minggu sejak awitan gejala COVID-19
  3. Terdapat salah satu atau lebih gejala dan/atau tanda berikut :

–      Batuk kering atau berdahak

–      Sesak napas/napas berat/napas terengah-engah/ lekas lelah

–      Aktivitas terbatas

–      Nyeri dada

–      Tenggorokan sakit atau gatal

–      Terdapat kelainan hasil pemeriksaan radiologis atau kelainan faal paru.

Mengingat kondisi long COVID ini sangat kompleks dan berimplikasi pada aspek kehidupan penyintas maka penilaian dan manajemen harus  disesuaikan dengan masing-masing masalah individu. Sehingga dibutuhkan pendekatan multidisiplin untuk penilaian dan pengelolaan long COVID. Ada beberapa tahapan dalam mendeteksi long COVID. Tahapan tersebut terdiri dari anamnesis / wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan oleh dokter spesialis. Untuk itulah disarankan sedini mungkin bagi penyintas COVID-19 yang masih memiliki keluhan segera berkunjung ke rumah sakit agar keluhan segera tertangani. Dan perlu diingat, cara terbaik untuk mencegah terjadinya komplikasi long COVID adalah dengan mencegah tertular COVID-19 itu sendiri.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Carfì A, Bernabei R., Landi F. Persistent Symptoms In Patients After Acute COVID-1 JAMA. 2020. 324(6):603-5.
  2. Office for National Statistics. The Prevalence of Long COVID Symptoms and COVID-19 Complications. London : ONS. 2020. https://www.ons.gov.uk/news/statementsandletters/theprevalenceoflongcovidsymptomsandcovid19complications.
  3. Selina R., Khunti K., Alwan N., Steves C., Greenhalgh T., et al. In The Wake of The Pandemic. Preparing For Long COVID. Denmark : World Health Organization. 2021. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/339629/Policy-brief-39-1997-8073-eng.pdf.
  4. Sudre CH et al. Attributes and predictors of LongCOVID : Analysis of COVID Cases and Their Symptoms Collected By The Covid Symptoms Study App. medRxiv. 2020.10.19.20214494. doi : 10.1101/2020.10.19.20214494. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-care/late-sequelae.html