Fakta tentang Air Ketuban

dr. Puska Primi Ardini, Sp.OG (K) – Minum yang banyak, supaya ketubannya juga banyak… Masih ada yang berpikiran seperti ini? Mari kita cek faktanya…

Ketuban atau amnion adalah membran yang membungkus fetus (janin). Ketuban berupa membran ekstra-embrional yang tipis namun kuat yang melapisi korion dan berisi embrio yang kelak menjadi fetus, dengan cairan ketuban di sekitarnya.

Selaput ketuban terdiri atas 2 lapisan besar, amnion dan korion. Amnion adalah membran janin yang paling dalam dan berdampingan langsung dengan cairan ketuban. Air ketuban adalah cairan yang terdapat di dalam rongga amnion yang diliputi oleh selaput janin.

Air ketuban berwarna jernih, serta mempunyai bau yang khas, agak amis dan manis. Air ketuban terdiri atas 98% air, sisanya terdiri atas garam an-organik serta bahan organik dan bila diteliti benar, terdapat rambut lanugo (rambut halus berasal dari bayi), sel-sel epitel, dan verniks kaseosa (lemak yang meliputi kulit bayi).

Volume air ketuban bertambah banyak dengan makin tuanya usia kehamilan. Pada usia kehamilan 12 minggu volumenya ± 50 ml, pada usia 20 minggu antara 350-400 ml, dan pada saat usia kehamilan mencapai 36-38 minggu kira-kira 1000 ml.

Air ketuban berasal dari transudasi plasma maternal, masuk menembus selaput yang melapisi plasenta dan tali pusat. Pada kehamilan lanjut, urin janin akan ikut membentuk air ketuban. Volume cairan ketuban pada kehamilan cukup bulan kira-kira 1000-1500 cc.

Peredaran air ketuban terjadi cukup baik pada rongga amnion atau rongga ketuban. Dalam 1 jam didapatkan perputaran lebih kurang 500 ml. Mengenai cara perputarannya, antara lain adalah si bayi menelan air ketuban yang kemudian dikeluarkan melalui air kencingnya.

Ginjal janin mulai mengeluarkan urin sejak 12 minggu dan setelah mencapai usia 18 minggu sudah dapat mengeluarkan urin sebanyak 7-14 cc/hari. Janin aterm mengeluarkan urin 27 cc/jam atau 650 cc dalam sehari.

Fungsi Air Ketuban :

  1. Melindungi janin terhadap trauma dari luar.
  2. Media janin bergerak dengan bebas.
  3. Mengatur suhu tubuh janin.
  4. Meratakan tekanan di dalam uterus pada partus, sehingga serviks membuka.
  5. Membersihkan jalan lahir (jika ketuban pecah) dengan cairan yang steril, dan mempengaruhi keadaan di dalam vagina, sehingga bayi kurang mengalami infeksi.

Keberadaan dan fungsi air ketuban memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan janin. Kelainan jumlah cairan ketuban dapat terjadi, dan seringkali merupakan pertanda yang paling awal terlihat pada janin yang mengalami gangguan.

Kelainan jumlah cairan ketuban dapat menimbulkan gangguan pada janin, seperti hipoplasia paru, deformitas janin, kompresi tali pusat, Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT), prematuritas, kelainan letak dan kematian janin.

Air ketuban dapat digunakan untuk melakukan evaluasi tentang kelainan kongenital janin, gangguan tumbuh kembang janin intrauteri, kematangan paru, dan sebagainya.