Tim Promkes RSST – Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan hidup manusia semakin meningkat. Hal ini terjadi pada seluruh kalangan. Di sisi lain, kesibukan-kesibukan dalam berbagai aktivitas seperti pekerjaan sering kali membuat kita menomorduakan kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti makanan. Hal tersebut rupanya disadari oleh berbagai pengelola badan usaha sebagai peluang untuk mencari keuntungan. Semakin hari badan usaha berlomba-lomba untuk memproduksi bahan makanan tidak terkecuali produk mie instan. Banyaknya makanan mie instan yang beredar di pasaran semakin memanjakan berbagai konsumen tidak terkecuali mahasiswa yang jauh dari orang tua (kos) yang suka sesuatu yang instan dan tidak mau ribet.

Kalangan mahasiswa (terutama mahasiswa kos) merupakan salah satu konsumen favorit mie instan karena menggunakan mie instan sebagai sarana (strategi mengatasi kebutuhan selama menempuh studi), sebagai suatu pilihan pada saat-saat tertentu seperti anggaran habis, malas makan nasi, makan pagi, makan malam, ataupun menikmati sensasi rasa yang ditawarkan mie instan. Pilihan konsumsi mahasiswa kos terhadap mie instan merupakan cerminan gaya hidup terhadap produk yang peka terhadap tuntutan zaman. Konsumsi mie instan sebagai salah satu pilihan rasional dalam mengikuti perkembangan zaman yang penuh dengan segala sesuatu yang cepat, praktis, efisien, dan ekonomis.

Perlu kita ketahui bahwa, remaja belum sepenuhnya matang, baik secara fisik, kognitif, dan psikososial. Mereka cepat terpengaruh oleh lingkungan, kegemaran yang tidak lazim, seperti pilihan untuk menjadi vegetarian, atau food fadism.

Mie instan yang relatif efisien, murah keberadaannya mengundang banyak pertanyaan karena komposisi dari bahan tambahan yang digunakan oleh mie instan yaitu Monosodium Glutamate (MSG). MSG dapat menimbulkan hipertensi, asma, kelemahan otot. Konsumsi MSG di atas 12 gram sehari juga memiliki potensi gangguan lambung, tidak bisa tidur dan mual.

Menjadi peringatan bagi kita semua bahwa mie instan tidak boleh dimasak bersamaan dengan bumbunya karena MSG yang terkandung di dalamnya bila dimasak di atas suhu 120°C akan berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker. Perhatikan prosedur penyajian pada bungkus mie instan, semua menganjurkan agar masak mie dulu baru ditaburi bumbu atau bumbunya di taruh di mangkok.

Banyak alasan mengapa sebagian besar mahasiswa sangat gemar mengkonsumsi mie instan menurut KTI yang dimuat oleh Halysha Ashryy pada hari Sabtu, 29 Maret 2014. Yang telah menyebarkan angket dan diapun mendapatkan beberapa alasan mengapa masyarakat Indonesia sangat menggemari mie instan. Sebagian besar beranggapan bahwa mie instan adalah makanan yang praktis dan mudah penyajiannya. Sebagian lagi beranggapan mie instan adalah makanan yang murah dan mudah didapat.

Dalam pembahasan di atas, sudah memberikan kita gambaran tentang dampak mie instan bagi kesehatan tubuh. Banyaknya zat-zat berbahaya yang terkandung dalam mie instan, tentu akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Di bawah ini adalah dampak buruk yang ditimbulkan mie instan bagi tubuh :

Menyebabkan Kanker

Banyaknya bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam mie instan, dapat berpotensi tinggi menumbuhkan sel-sel kanker dalam tubuh.

Menghambat Metabolisme Tubuh

Apabila dikonsumsi terus menerus dan dalam jangka waktu yang panjang, maka mie instan dapat menghambat metabolisme tubuh. Akumulasi zat kimia berbahaya seperti pengawet dan pewarna akan menjadi racun di dalam tubuh.

Kegemukan

Tingginya kandungan lemak dalam mie instan dapat menimbulkan kegemukan bagi para pengkonsumsinya. Jika kita terlalu sering mengkonsumsi mie instan, maka kandungan lemak tersebut dapat menumpuk di dalam tubuh dan dapat menimbulkan kegemukan.

Merusak organ-organ penting dalam tubuh

Zat-zat berbahaya yang terkandung dalam mie instan, tentu saja akan merusak organ-organ penting dalam tubuh. Akibatnya, fungsi organ-organ tersebut akan terganggu. Dan proses-proses dalam tubuh yang seharusnya berjalan dengan lancar, akan terganggu.

Berdasarkan Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) tahun 1987, MSG dimasukkan ke dalam kategori Acceptable Daily Intake (ADI) not specified, artinya MSG dapat digunakan secukupnya yang diatur sesuai dengan cara produksi pangan yang baik. Jumlah bahan tambahan makanan ini dikonversikan per kg berat badan yang juga dikonsumsi setiap hari seumur hidup tidak akan memberikan risiko bagi kesehatan. Meskipun demikian, MSG tidak diperkenankan untuk dikonsumsikan kepada bayi berumur kurang dari 12 minggu atau 3 bulan.

Oleh karenanya mie instan bila dikonsumsi dalam jumlah banyak dan sering juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan, karena dalam mie instan mengandung bahan bahan rekayasa yang dibuat agar mie tersebut memiliki rasa yang hampir mirip dengan bumbu yang sebenarnya, walaupun bahan-bahan tersebut diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh manusia, tetapi apabila dikonsumsi dalam kurun waktu tertentu dan frekuensi yang cukup tinggi bisa menyebabkan kelainan fungsi. Sedangkan menurut Marius Widjajarta dari Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) mengungkapkan bahwa mengkonsumsi vetsin (MSG) dalam jangka panjang dan terus menerus dalam makanan dapat menyebabkan ketidakmampuan belajar.

Dan tentunya mie instan belum dapat dianggap sebagai makanan penuh (wholesome food) karena belum mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang bagi tubuh. Mie yang terbuat dari terigu mengandung karbohidrat dalam jumlah besar, tetapi sedikit protein, vitamin, mineral dan serat. Hal yang perlu diingat adalah fungsi pemenuhan kebutuhan gizi mie instan hanya dapat diperoleh jika ada penambahan sayuran dan sumber protein. Jenis sayuran yang dapat ditambahkan adalah wortel, sawi, tomat, kol, atau tauge. Sumber proteinnya dapat berupa telur, daging, ikan, tempe, atau tahu. Satu takaran saji mie instan berjumlah 80 gram mampu menyumbangkan energi sebesar 400 kkal, yaitu sekitar 20% dari total kebutuhan energi harian (2.000 kkal). Energi yang disumbangkan dari minyak berjumlah sekitar 170-200 kkal. Hal lain yang terkadang kurang disadari adalah kandungan minyak dalam mie instan yang dapat mencapai 30% bobot kering. Hal ini perlu diwaspadai bagi penderita obesitas atau orang yang sedang dalam program penurunan berat badan. Jadi, wajar jika mie instan disukai, karena selain praktis, cepat, lezat dan murah.

Kita ketahui banyak dari kalangan masyarakat menyukai mie instan karena proses pembuatannya yang sederhana dan harganya yang terjangkau. Dibalik rasanya yang enak ternyata mie instan memiliki banyak bahaya bagi kesehatan tubuh karena adanya kandungan lilin, MSG dan natrium yang berbahaya bagi kesehatan. Dampak akibat terlalu sering mengkonsumsi mie instan itu dapat memyebabkan kurangnya metabolisme dalam tubuh, penghambatan penyerapan nutrisi bahkan bisa mengakibatkan kanker.

Kepraktisan dan kemudahan yang dibawa oleh mie instan memang membuat kita menjadi gemar untuk mengkonsumsinya. Boleh kita mengkonsumsi mie instan, akan tetapi tidak berlebihan. Dan sebagai langkah tepat jika kita harus konsumsi mie instan, tentunya kita konsumsinya tidak setiap hari namun bisa 1 sampai 2 kali dalam seminggu itupun harus di tambahkan juga beberapa bahan makanan lainnya yang tentunya mengandung gizi misalnya bisa kita campurkan sayuran sawi, wortel, kol, tauge atau bisa juga ditambahkan telur, daging, tempe atau tahu untuk sumber protein sebagai pelengkapnya. Selain itu juga dan tentunya untuk menghindari bahaya yang mungkin timbul dari mie instan, sebaiknya kita harus mengurangi konsumsi mie instan dari sekarang, dan lebih banyak konsumsi makanan yang bergizi untuk kesehatan tubuh kita. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Arisman. 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGK.
  2. Ashryy, Halysha. 2014. Dampak Mengkonsumsi Mie Instan Bagi Kesehatan.
  3. Pratiwi, Ayu. 2013. Zat yang Terkandung dalam Mie Instan.
  4. Wahyu Pamungkas. 2003. Perilaku Kosumen Mie Instant / Studi Pola Konsumsi Mie Instant di Kalangan Mahasiswa Kos di Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta : FIB (Antropologi) UGM.
  5. www.msg.org.an/pdf/Bulletin Indonesia.pdf.