Tim Promkes RSST – Kafein merupakan zat psikoaktif yang memiliki efek stimulan dan paling luas digunakan di seluruh dunia. Pengaruh gaya hidup membuat konsumsi produk berkafein khususnya kopi dan minuman energi meningkat di kalangan masyarakat. Kafein dalam dosis rendah mampu memberikan efek positif. Namun tidak semua produk mencantumkan kadar kafein di dalamnya sehingga perlu diwaspadai  risiko efek samping yang dapat terjadi. Kopi merupakan salah satu sumber kafein yang tersebar luas dan dapat diperoleh secara bebas, di samping produk lain seperti minuman energi, cocoa dan softdrink. Pengaruh gaya hidup dan semakin maraknya cafe serta kedai kopi memberikan kontribusi dalam peningkatan jumlah konsumen kopi.

Menurut National Coffee Association United States tahun 2011, terdapat peningkatan konsumsi kopi harian pada remaja usia 18-24 tahun. Konsumsi kopi sebagai sumber utama kafein meningkat sebesar 98% dalam 10 tahun terakhir di Indonesia.

Konsumsi kopi juga nampaknya sudah menjadi sebuah tren di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk memberikan stimulasi, menambah energi dan menghilangkan kantuk saat menjelang ujian. Hal ini tidak menutup kemungkinan menjamurnya bisnis yang menjajakan minuman kopi, baik yang terlihat sederhana sampai dengan caffe yang modern berkembang pesat bak jamur di musim hujan.

Konsumsi kafein dalam dosis rendah memang terbukti memberikan manfaat. Dalam sebuah studi oleh Smit dan Rogers (2000) dikatakan bahwa 12,5 – 100 mg kafein dapat memberikan efek positif dan jarang menimbulkan efek samping. Namun tidak semua produk berkafein seperti kopi dan minuman energi mencantumkan kadar kafein yang terkandung di dalamnya. Kadar kafein dalam kopi diketahui bervariasi tergantung pada jenis kopi. Pada kopi instan terkandung 66 – 100 mg kafein per sajian. Kadar kafein pada minuman energi cukup tinggi yaitu sekitar 80 – 141 mg per sajian.

Kafein yang bekerja dalam tubuh dapat memberikan efek positif maupun efek samping. Studi deskriptif oleh Bawazeer dan Alsobahi (2013) menunjukkan bahwa 34,3% peminum minuman energi yang mengandung kafein mengaku mengalami efek samping di antaranya palpitasi, insomnia, nyeri kepala, tremor, gelisah, serta mual dan muntah. Selain itu, konsumsi kafein secara reguler dapat menimbulkan efek ketergantungan.

Ketergantungan pada kafein juga merupakan salah satu permasalahan yang harus diwaspadai. Diagnosis caffeine dependence hingga saat ini masih diperdebatkan dan belum dimasukkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM)-IV-TR oleh karena kurangnya bukti klinis terhadap ketergantungan kafein.

Oleh karena itu, dalam hal ini diperlukan studi lebih lanjut untuk mengetahui pola konsumsi serta efek samping kafein pada masyarakat secara umum. Bila dimungkinkan dapat dikembangkan menjadi studi analitik untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi timbulnya efek samping kafein. Sebagai langkah yang bijak, konsumsi kopi sebisa mungkin dengan pola takaran yang sedikit untuk menghindari kemungkinan efek samping yang ditimbulkan bagi kesehatan. Namun demikian, bagi penggemar minuman berkafein ini konsumsi kopi juga tidak harus berlebihan, dan sesuai dengan takarannya, terlebih mungkin bagi orang yang bukan sebagai penggemar kafein. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Bawazeer N. A., AlSobahi N. A. Prevalence and Side Effects of Energy Drink Consumption Among Medical Students at Umm Al-Qura University, Saudi Arabia. International Journal of Medical Students 2013; 1(3) : 104-8.
  2. Ingrouille K. Effect of Caffeinated Beverages Upon Breakfast Meal Consumption of University of Wisconsin-Stout Undergraduate Students. 2013. Diunduh dari : http://www2.uwstout.edu/content/lib/thesis/ 2013/2013ingrouillek.pdf.
  3. Juliano L. M. Griffiths R. R. A Critical Review of Caffeine Withdrawal : Empirical Validation of Symptoms and Signs, Incidence, Severity and Associated Features. Psychopharmacology 2004; 176: 1-29.
  4. Norton T. R., Lazev A. B., Sulivan M. J. The “Buzz” on Caffeine : Patterns of Caffeine Use In a Convenience Sample of College Students. Journal of Caffeine Research 2011; 1(1):35-40.
  5. Somogyi L. P. Caffeine Intake By The U.S. Population. 2009.
  6. Sadock B. J., Sadock V. A. 2007. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry : Behavioral Sciences / Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York : Lippincott Williams & Wilkins. p:413-7.
  7. Ogawa N., Ueki H. Caffeine Dependence. Nihon Rinsho 2010; 68(8) : 1470-4.