Tim Promkes RSST – Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah yang lebih tinggi dari normal. Keadaan ini ditunjukkan dengan tekanan sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg. Hasil riset Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2013 menyatakan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 25,8%. Hipertensi memiliki banyak komplikasi antara lain penyakit stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan penyakit pembuluh darah lain. Tingginya prevalensi hipertensi dan komplikasi yang ditimbulkan menyebabkan peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit tersebut. Penderita hipertensi akan melakukan berbagai upaya untuk mengontrol tekanan darah, antara lain dengan membatasi konsumsi makanan yang diduga dapat meningkatkan tekanan darah. Salah satu makanan yang diduga meningkatkan tekanan darah adalah daging kambing.

Daging kambing banyak disukai oleh masyarakat, karena mudah didapatkan, mudah cara pengolahannya, banyak variasi masakan yang dapat dibuat, dan lebih murah jika dibandingkan dengan daging sapi. Daging kambing juga mempunyai kandungan nutrien yang sangat baik bagi tubuh manusia yaitu zat besi, potasium, dan tiamin yang cukup tinggi. Hasil analisis yang dilakukan peneliti sebelumnya menunjukkan bahwa daging kambing memiliki lemak total, kolesterol, dan lemak jenuh yang lebih rendah dibandingkan dengan daging lain pada umumnya. Penelitian mengenai efek daging kambing terhadap peningkatan tekanan darah menunjukkan hasil yang tidak konsisten.

Satu penelitian menyatakan bahwa daging kambing menyebabkan peningkatan tekanan darah, sementara yang lain menyatakan sebaliknya. Dalam kaca mata agama Islam, daging kambing merupakan makanan yang thayyib (baik). Hal tersebut terbukti dengan terdapatnya perintah menyembelih kambing pada saat Idul Adha dan aqiqah.

Dalam sebuah penelitian menyebutkan, daging kambing berpotensi meningkatkan tekanan darah karena mengandung protein cukup tinggi, dalam penelitian ini terkandung 6,25 mg protein. Sementara itu mengonsumsi makanan khususnya protein dapat menimbulkan respon spesific dynamic action yang lamanya tergantung besar protein yang dikonsumsi. Protein dapat meningkatkan metabolisme tubuh sebesar 30% dimulai dari 60 menit sampai tiga atau 12 jam sesudahnya. Peningkatan metabolisme tubuh ini akan diikuti dengan peningkatan aliran darah sistemik yang memungkinkan peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah dimungkinkan dapat menurun setelah 12 jam, akan tetapi penelitian ini tidak mengukur tekanan darah setelah 12 jam. Suhu tubuh tikus yang mengonsumsi daging kambing lebih tinggi dari pada konsumsi daging kelinci karena daging kambing menstimulasi sekresi hormon tiroid yang digunakan untuk metabolisme.

Kandungan lemak jenuh pada daging kambing diketahui dapat memicu kenaikan berat badan yang berisiko meningkatkan tekanan darah, selain itu tertimbunnya lemak jenuh di dalam tubuh akan meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Sejalan dengan penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi lemak jenuh akan berisiko terserang hipertensi sebesar 7,72 kali dibandingkan orang yang tidak biasa mengonsumsi lemak jenuh. Namun penelitian ini hanya satu kali pemberian daging kambing, dimana penelitian sebelumnya menunjukkan sebaliknya.

Dengan demikian bahwa untuk mengonsumsi daging kambing masih dapat diterima karena daging kambing memiliki kandungan gizi yang tinggi, akan tetapi dalam mengonsumsi tidak dianjurkan berlebih-lebihan, karena keseimbangan diet sangat diperlukan. Apabila seseorang mengonsumsi daging secara berlebihan akan berdampak pada meningkatnya tekanan darah. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2013.
  2. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 11th ed. Jakarta : EGC; 2007.
  3. Harris MM, Stevens J, Thomas N, Schreiner P, Folsom AR. Associations of fat distribution and obesity with hypertension in a bi-ethnic population : the ARIC study. Atherosclerosis Risk in Communities Study. Obes Res. 2000 Oct;8(7):516-24.
  4. Jenie IM, Adi DK. Respon Akut Tekanan Darah terhadap Konsumsi Daging Kambing. Jogjakarta : UMY. 2008. Yogyakarta : UMY.
  5. Khalid I, Sja’bani M. Pengaruh makan sate daging kambing dibanding dengan sate daging sapi terhadap kenaikan tekanan darah pada subjek normotensi [Tesis]. Universitas Gadjah Mada; 2001.
  6. Mancia G, De Backer G, Dominiczak A, Cifkova R, Fagard R, Germano G, et al. 2007 Guidelines for the management of arterial hypertensio n: The Task Force for the Management of Arterial Hypertension of the European Society of Hypertension (ESH) and of the European Society of Cardiology (ESC). Eur Heart J. 2007 Jun;28(12):1462-536.
  7. Noor RR. Kandungan Nutrisi Daging Kambing. 2008.
  8. Samaria K, Inayah G, Kurniati Y. Perilaku Berolahraga dalam Upaya Pencegahan Hipertensi pada Wanita Usia Produktif di Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Archive of Community Health. 2014 Apr 23;1(2):109-19.
  9. Sawicka K, Szczyrek M, Jastrzębska I, Prasał M, Zwolak A, Daniluk J. Hypertension – The Silent Killer. JPCCR. 2011 Dec 30;5(2):43-6.
  10. Secor SM. Specific dynamic action : a review of the postprandial metabolic response. J Comp Physiol B, Biochem Syst Environ Physiol. 2009 Jan;179(1):1-56.
  11. Sheps SG. Mayo Clinic Hipertensi : Mengatasi Tekanan Darah Tinggi. Jakarta : Intisari Mediatama; 2005.
  12. Wakamatsu J, Fujii R, Yamaguchi K, Miyoshi S, Nishimura T, Hattori A. Effects of meat species on the post prandial thermic effect in rats. Anim Sci J. 2013 May;84(5):416-25.
  13. Widyaningrum S. Hubungan antara Konsumsi Makanan dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia (Studi di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember) [Skripsi]. Universitas Jember; 2012.