Agus Suharto, S.Kep.Ners – Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit menular yang paling sering mengenai parenkim paru, biasanya disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (Brunner & Suddarth, 2013). TB merupakan penyakit menular (airborne disease) penyebab kematian utama dari agen infeksius, dan masih menjadi masalah kesehatan global. Menurut laporan World Health Organitation Global Tuberculosis Report (2018), kasus penularan penyakit tuberkulosis masih tinggi, diperkirakan di seluruh dunia mencapai 10 juta jiwa. Sementara angka kasus kematian karena TB pada tahun 2017 sebanyak 1,3 juta orang dengan HIV negatif dan 300.000 orang dengan HIV positif. Menurut WHO Global Report (2018) menyebutkan bahwa terdapat 22 negara dikategorikan sebagai high-burden countries terhadap TB. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai beban tuberkulosis yang terbesar di antara 8 negara yaitu India (27%), China (9%), Indonesia (8%), Philippina (6%), Pakistan (5%), Nigeria (4%), Bangladesh (4%), dan Afrika Selatan (3%) (Global Tuberculosis Report, 2018; h1). Insiden TB di Indonesia mencapai 842 ribu kasus dengan angka mortalitas 107 ribu kasus. Pada tahun 2017 Indonesia termasuk peringkat ketiga setelah India dan China dalam prevalensi penyakit tuberkulosis di dunia (WHO, 2018). Notifikasi kasus TB di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Notifikasi tahun 2016 ke tahun 2017 meningkat 24%, tahun 2017 ke tahun 2018  meningkat 15%. TB juga masih menjadi permasalahan setiap tahun di Jawa Tengah, hal ini terbukti setiap tahunnya terjadi peningkatan kasus. Hasil cakupan penemuan  kasus TB di Jawa Tengah tahun 2018 sebanyak 82.975 penderita dengan Case Detection Rate (CDR) 80,8%, sedangkan angka notifikasi kasus atau Case Notification Rate (CNR) kasus TB di Jawa Tengah tahun 2018 sebesar 194 per 100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2018). Klaten sebagai bagian Jawa Tengah menyumbang angka morbiditas TB pada tahun 2016 sebesar 77 penderita per 100.000 penduduk, yang mengalami peningkatan sebesar 85 penderita per 100.000 penduduk di tahun 2017  (Dinkes Kabupaten Klaten, 2016, 2017). Peningkatan angka kejadian Tuberkulosis disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam maupun faktor dari luar. Pasien TB mengalami beberapa masalah psikologis, fisiologis, keuangan, faktor sosial. Faktor sosial yang membuat pasien merasa terisolasi dari teman-teman dan keluarga, standar pengobatan yang memerlukan waktu yang lama, faktor psikologi yang dialami oleh  pasien dapat menyebabkan cemas dan depresi karena kurangnya pengetahuan  mengenai proses penyakit dan pengobatan. Masalah-masalah tersebut mempunyai  dampak yang besar pada kesejahteraan pasien TB, sehingga dapat menurunkan kualitas hidup pasien yang menderita Tuberkulosis (Ermalynda S., 2017). Peningkatan prevalensi pasien Tuberkulosis perlu dilakukan analisis penyebab dan pencegahan agar angka peningkatan ini dapat menurun. WHO menyatakan, keberhasilan program penanggulangan Tuberkulosis sangat tergantung pada tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat yang dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat. Menurut penelitian Huddart S, Bossuroy T, Pons V, Baral S, Pai M, Delavallade C (2018) menyebutkan bahwa meningkatkan pengetahuan pasien Tuberkulosis adalah  komponen penting dari strategi pengendalian TB, pengetahuan pasien tentang TB dapat mendorong perilaku pencegahan infeksi dan meningkatkan kepatuhan berobat. Hal-hal yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang Tuberkulosis antara lain melalui media massa (surat kabar, radio dan TV), media cetak (leaflet, poster,  billboard) serta penyuluhan langsung oleh petugas kesehatan baik  individu maupun kelompok. Pengetahuan tentang Tuberkulosis yang masih kurang dapat menyebabkan individu tidak dapat menerima suatu kebenaran bahwa dirinya terkena Tuberkulosis atau menolak dikatakan menderita Tuberkulosis, enggan untuk  menanyakan karena  kurangnya pengetahuan tentang penyakit Tuberkulosis (Departemen Kesehatan RI, 2015). Edukasi kesehatan penting untuk memberdayakan pasien dan mendorong kontribusi mereka dalam mengontrol Tuberkulosis, di Afrika Selatan kegiatan edukasi kesehatan diintegrasikan ke dalam layanan yang disediakan di tingkat perawatan kesehatan primer (PHC). Penelitian dilakukan di daerah metropolitan dengan beban TB tinggi di Afrika Selatan. Tujuannya adalah untuk menilai pengetahuan terkait TB, sikap dan praktik pengendalian infeksi pada pasien yang datang berobat ke fasilitas puskesmas (Kigozi,et al, 2017). Program intervensi edukasi kesehatan juga efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik mengenai Tuberkulosis pada pasien TB-HIV (Human Immunodeficiency Virus) (Bisallah CI,et al, 2018). Edukasi adalah suatu pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan, meningkatkan kondisi kesehatan, penunjang perilaku sehingga tercapai kesehatan yang optimal dan kualitas  hidup yang baik (Notoatmodjo, 2016). Menurut Kozier dan Erbs (2010), edukasi  kesehatan merupakan aspek besar dalam praktik keperawatan dan bagian penting dari peran dan fungsi perawat sebagai nursing educator. Edukasi tidak terlepas dari media karena dengan melalui media, pesan yang disampaikan dapat lebih menarik dan dipahami, sehingga sasaran dapat mempelajari pesan tersebut, sehingga dapat memutuskan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan ke dalam perilaku yang positif (Notoatmodjo, 2011). Beberapa macam media yang dapat digunakan untuk edukasi meliputi : leaflet, booklet, poster, flip chart / lembar balik, buku saku bergambar, alat peraga, televisi, radio, CD, VCD. Saat ini media edukasi sudah banyak beralih ke media digital seiring dengan majunya perkembangan teknologi di Indonesia. Penggunaan teknologi informasi seperti penggunaan internet yang sudah memiliki berbagai aplikasi seperti media sosial, merupakan salah satu media dimana para penggunanya dapat mencari informasi, saling berkomunikasi dan menjalin pertemanan secara online. Seperti diketahui ragam media sosial yakni adalah facebook, twitter, line, bbm, whatsapp, instagram, path, ask.fm, linkedin, snapchat dan beberapa media sosial yang lain (Trisnani, 2017). Perkembangan teknologi komunikasi berkembang sangat pesat. Salah satu bentuk dan hasil perkembangannya yang begitu pesat adalah telepon seluler. Pada mulanya telepon seluler diproduksi untuk memudahkan orang berkomunikasi darimana saja dan kapan saja. Akan tetapi, ketika masyarakat yang mobilitasnya tinggi dapat memperoleh dan menggunakan teknologi komunikasi jenis ini dengan mudah, lalu muncul dampak dalam masyarakat tersebut berupa semakin jauhnya hubungan emosional mereka. Ketika telepon seluler semakin pesat perkembangannya, maka pesat juga perkembangan media sosial. Karena untuk mengakses media sosial bisa kita lakukan kapanpun dan dimanapun hanya dengan telepon seluler. Jika untuk mengakses media televisi, radio, dan sebagainya diperlukan tenaga yang cukup banyak, maka lain halnya dengan media sosial yang dapat mengakses dengan mudah melalui telepon. Contoh jejaring sosial antara lain adalah facebook, twitter, path, instagram, whatsapp dan sebagainya (Hikmawati, Livia Diah, (2017). Hasil penelitian Hikmawati (2017) menunjukkan bahwa pemberian edukasi pada responden dengan media audio visual whatsapp lebih efektif karena dengan media tersebut responden mempunyai kesempatan dan waktu yang cukup dalam bertanya dan memperoleh informasi tentang pencegahan penularan TBC pada anggota keluarga daripada menggunakan media promosi kesehatan lainnya seperti leaflet atau brosur. Media sosial yang saat ini sedang berkembang adalah media whatsapp, yang dapat menjadi media sharing di antara para penggunanya. Media sharing adalah sosial media yang menyediakan fasilitas bagi penggunanya untuk berbagi media seperti dokumen (file), video, audio, gambar, dan media yang lainnya. Melalui media sharing ini, anggota atau pengguna dapat juga menyimpan berbagai gambar maupun video secara online. Whatsapp dapat digunakan untuk berbagi foto, video, hingga dokumen oleh para penggunanya (Nasrullah, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Evalidia K. (2019) kepada pasien TB sebanyak 22 responden menggunakan desain quasi experiment pretest-posttest with control group design di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dengan analisis Wilxocon Test dan Mann Whitney Test didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan pasien TB pada kelompok perlakuan (98,9) lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol (94,3). Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan media whatsapp sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan pasien TB dibandingkan dengan media leaflet. Pada masa pandemi Kasus COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan secara pesat sehingga memerlukan upaya komprehensif dalam penatalaksanaan kasus dan upaya memutus rantai penularan. Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui percikan batuk / bersin (droplet). Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi adalah dengan cara cuci tangan secara teratur menggunakan sabun dan air bersih, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari kontak langsung dengan ternak dan hewan liar serta menghindari kontak dekat dengan siapapun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin. Selain itu juga perlu menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) saat berada di fasilitas kesehatan. Pemberian edukasi kepada pasien dengan menggunakan media sosial whatsapp bisa menjadi salah satu langkah efektif dalam memutus penyebaran penyakit COVID-19.

 

 

 

 

 

Referensi        :

  1. Depkes. RI. 2015. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke 8, Jakarta : Depkes RI.
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten. 2017. Profil Kesehatan Kabupaten Klaten 2017. Klaten : Dinkes.
  3. Evalidia K. 2019. Efektivitas Edukasi Menggunakan Media Sosial Whatsapp Terhadap Tingkat Pengetahuan Pada Pasien TB Paru di Poliklinik Dots RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Stikes Muhammadyah Klaten. 2019
  4. Hikmawati, Livia Diah. 2017. Efektivitas Media Audio Visual Whatsapp Dalam Edukasi Sebagai Upaya Menurunkan Risiko Penularan TBC Pada Anggota Keluarga di Puskesmas Grati Pasuruan. Skripsi, Universitas Ahmad Dahlan. Dipetik November 23, 2019.
  5. Huddart S, Bossuroy T, Pons V, Baral S, Pai M, Delavallade C. 2018. Knowledge about Tuberculosis and Infection Prevention Behavior : a Nine City Longitudinal Study from India. Diakses tanggal 21 Oktober 2019 pukul 12.36 dari PLoS ONE 13(10): e0206245. https://doi.org/10.1371/journal. pone.0206245.
  6. Kementerian Kesehatan. 2018. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Jakarta : Kementerian Kesehatan.
  7. Kusumo, H. dan E. P. Moro. 2016. Pengaruh Penggunaan WhatsApps Messenger Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Kelas KKH di PBIO FKIP UA. Skripsi, Universitas Ahmad Dahlan. Dipetik November 22, 2019.
  8. Lailatiul, P.W.M. 2017. Pengaruh Pemberian Edukasi Menggunakan Buku Saku Bergambar dan Berbahasa Madura Terhadap Tingkat Pengetahuan Penderita dan Pengawas Menelan Obat Tuberkulosis Paru. Diakses Agustus 28, 2019, dari e-jurnal Pustaka Kesehatan, vol.5(3):https:/google.co.id/url?sa=t& source=web&rct=j& url=http;//jurnal.unej.ac.id/index.php/JPK/article/view/5892%ved=2ahUKEwiO9P3.
  9. Nasrullah, Rulli. 2017. Media Sosial (Prespektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi). Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
  10. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  11. 2010. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Cetakan Pertama. Jakarta : Rineka Cipta.
  12. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan (ed. rev.). Jakarta : Rineka Cipta.