Agus Suharto, S.Kep.Ners – Penyakit ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif. Pada umumnya penyakit ginjal kronik berakhir dengan gagal ginjal, yaitu suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel dan memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal yang tetap, berupa dialysis atau transplantasi ginjal. Penyebab dari gagal ginjal adalah faktor host (usia, gaya hidup, nefropatik diabetik, hipertensi, glomerulonefritis, penyakit ginjal bawaan) dan faktor agent (trauma, keracunan obat) serta faktor environment (Suwitra, 2009).

Data Gobal Burden of Disease tahun 2010 menunjukkan penyakit ginjal kronik merupakan penyakit kematian ke 27 di dunia tahun 1990 dan meningkat menjadi urutan ke 18 pada tahun 2010 dua juta lebih penduduk dunia mendapat perawatan dengan dialisis atau transplantasi ginjal. Indonesia angka kejadian gagal ginjal kronik meningkat setiap tahun, pada tahun 2010 sebanyak 8.034 pasien, pada tahun 2011 terdapat 15.353 pasien yang baru menjalani HD dan pada tahun 2012 terjadi peningkatan pasien yang menjalani HD sebanyak 4.268 orang sehingga secara keseluruhan terdapat 19.621 pasien yang baru menjalani HD.

Hasil Riskesdas 2013, menunjukkan prevalensi meningkat seiring dengan bertambahnya umur, dengan peningkatan tajam pada kelompok umur 35-44 tahun dibandingkan kelompok umur 25-34 tahun. Salah satu cara dalam penanganan gagal ginjal adalah terapi dialisis. Dialisis adalah difusi pertikel larut dari satu kompartemen cairan ke kompartemen lain melewati membran semipermiabel (Hundak & Gallo 2010). Hemodialisa merupakan metode terapi dialisis untuk mengeluarkan hasil sisa metabolisme dari dalam tubuh ketika ginjal secara akut dan progresif tidak mampu melakukan proses tersebut (Kamaludin, 2009). Salah satu masalah yang paling sering dihadapi pasien yang menjalani hemodialisa adalah peningkatan volume cairan diantara dua waktu dialisis yang dimanifestasi dengan penambahan berat badan interdialtik. Penambahan berat badan interdialtik (Interdialytic Weigh Gain) adalah selisih berat badan predialisis dengan berat badan pascadialisis sesi sebelumnya (Liani, 2016). Pengontrolan cairan sangat penting guna mengurangi risiko kelebihan volume cairan antara waktu dialisis. Pengontrolan cairan pada pasien hemodialisis adalah faktor yang penting untuk menentukan keberhasilan terapi. Pasien hemodialisis yang tidak mematuhi pengontrolan asupan cairan dapat mengalami komplikasi. Manajemen pengontrolan asupan cairan akan berdampak pada penambahan berat badan intra dialisis. Penambahan berat badan intra dialisis dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan, gizi, perilaku dan psikologis. Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor penguat atau pendorong terjadinya perilaku. Dukungan keluarga dalam hal ini adalah dengan memberikan motivasi, perhatian, mengingatkan untuk selalu melakukan pembatasan makanan sesuai dengan anjuran tim medis (Yuliana, 2015). Friedman (2015), menyatakan bahwa efek dari dukungan keluarga terhadap kesehatan dan kesejahteraan berfungsi bersama. Dukungan keluarga secara spesifik menurunkan mortalitas, lebih mudah sembuh dan berhubungan dengan fungsi kognitif, fungsi fisik serta kesehatan emosi. Dukungan keluarga sangat diperlukan oleh pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dalam melakukan pembatasan asupan cairan. Gaya hidup terencana dalam jangka waktu lama yang berhubungan degan terapi hemodialisis dan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik sering menghilangkan semangat hidup. Peran keluarga sangat dibutuhkan dalam merawat anggota keluarga yang sakit yaitu dalam hal peran afektif, peran sosialisasi dan peran kesehatan untuk bertanggungjawab merawat anggota keluarga dengan penuh kasih sayang serta kemauan keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan yang sedang dihadapi. Dukungan keluarga diharapakan dapat menunjang pembatasan kenaikan berat badan interdialisis (Brunner & suddart, 2008).

Pasien gagal ginjal kronik yang tidak mematuhi pembatasan asupan cairan akan mengalami penumpukan cairan sehinga menyebabkan oedema paru dan hipertropi ventrikel kiri. Penumpukan cairan dalam tubuh menyebabkan fungsi kerja jantung dan paru-paru menjadi berat dan mengakibatkan pasien cepat lelah dan sesak nafas. Komsumsi air dan garam yang berlebih akan menyebabkan pulmonary oedema hipertensi, sesak nafas, kejang otot, hipotensi intradialisis dan kematian mendadak.

Berbagai faktor yang mempengaruhi IDWG antara lain faktor dari pasien itu sendiri (internal) dan faktor eksternal seperti faktor fisik dan psikososial. Faktor-faktor yang berpengaruh pada kenaikan berat badan interdialitik antara lain :

  1. Intake cairan
  2. Rasa haus
  3. Dukungan sosial dan keluarga
  4. Self efficacy
  5. Stres

Interdialytic Weight Gain (IDWG) merupakan peningkatan volume cairan yang dimanifestasikan dengan peningkatan berat badan sebagai indikator untuk mengetahui jumlah cairan yang masuk selama periode interdialitik. Kenaikan berat badan interdialisis pada responden sebagian besar hanya mengalami kenaikan berat badan ringan dan yang mengalami kenaikan berat badan interdialisis berat sebanyak 7 (10.3%). Liani (2016), menjelaskan bahwa kenaikan berat badan 1 kilogram sama dengan satu liter air yang dikonsumsi pasien.

Kenaikan berat badan antar sesi hemodialisis yang dianjurkan yaitu antara 2,5% sampai 3,5 % dari berat badan kering untuk mencegah risiko terjadinya masalah kardiovaskuler. Pertambahan berat badan di antara dua sesi hemodialisa yang dapat ditoleransi oleh tubuh adalah 1,0-1,5 kg. Kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan diukur dengan menggunakan Interdialytic Weight Gain (IDWG)  dengan cara menimbang berat badan pasien sebelum dialisis, kemudian dikurangi berat badan post dialisis dari sesi dialisis sebelumnya dibagi dengan berat badan kering. Faktor kepatuhan pasien dalam mentaati jumlah konsumsi cairan menentukan tercapainya berat badan kering yang optimal, di samping ada faktor lain yang kemungkinan dapat meningkatkan Interdialytic Weight Gain (IDWG)  di antaranya adekuasi hemodialisis, lama tindakan hemodialisis, kecepatan aliran hemodialisis, ultrafiltrasi, dan cairan dialisat yang digunakan (Smeltzer & Bare, 2012).

Interdialytic Weight Gain (IDWG) yang melebihi 4,8% akan meningkatkan mortalitas meskipun tidak dinyatakan besarannya. Penambahan nilai IDWG yang terlalu tinggi dapat menimbulkan efek negatif terhadap tubuh di antaranya terjadi hipotensi, kram otot, sesak nafas, mual dan muntah (Bargman dan Skorecki, 2013).

Interdialytic Weight Gain (IDWG) dipengaruhi  faktor dari pasien sendiri (internal) dan faktor eksternal seperti faktor fisik dan psikososial. Faktor-faktor yang berpengaruh pada kenaikan berat badan interdialitik adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, rasa haus, stres, self effiacy, dukungan keluarga, sosial, jumlah intake cairan (Bargman dan Skorecki, 2013).

Pasien dengan gagal ginjal kronik meskipun dengan kondisi hipervolemia, sering mengalami rasa haus yang berlebihan yang merupakan salah satu stimulus timbulnya sensasi haus. Merespon rasa haus normalnya adalah dengan minum, tetapi pasien-pasien gagal ginjal kronik tidak diijinkan untuk berespon dengan cara yang normal terhadap rasa haus yang mereka rasakan. Rasa haus atau   keinginan untuk minum disebabkan oleh berbagai faktor di antaraya masukan sodium, kadar sodium yang tinggi, penurunan kadar posatium, angiotensin II, peningkatan  urea  plasma, urea plasma  yang mengalami peningkatan, hipovolemia post dialisis dan faktor  psikologis (Istanti, 2009). Stres dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh. Stres meningkatkan kadar aldosteron dan glukokortikoid, menyebabkan retensi natrium dan garam. Respon stres dapat meningkatkan volume cairan akibatnya curah jantung, tekanan darah, dan perfusi jaringan menurun. Cairan merupakan salah satu stressor utama yang dialami oleh pasien yang menjalani hemodialisis (Potter & Perry, 2008). Self Efficacy yaitu kekuatan yang berasal dari seseorang yang bisa mengeluarkan energi positif melalui kognitif, motivasional, afektif dan proses seleksi. Self Efficacy dapat mempengaruhi rasa percaya diri pasien dalam menjalani terapinya (hemodialisis). Self Efficacy yang tinggi dibutuhkan untuk memunculkan motivasi dari dalam diri agar dapat mematuhi terapi dan pengendalian cairan dengan baik, sehingga dapat mencegah peningkatan Interdialytic Weight Gain (IDWG)  (Istanti, 2009).

Friedman (2015), menyatakan bahwa dukungan keluarga adalah proses yang terjadi terus menerus di sepanjang masa kehidupan manusia, berfokus pada interaksi yang berlangsung dalam berbagai hubungan sosial yang dimiliki oleh individu. Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga yaitu dukungan sosial bisa atau tidak digunakan, tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Jenis dukungan keluarga berupa dukungan informasional, dukungan penilaian atau menghargai, dukungan instrumental dan dukungan emosional dari keluarga. Dukungan keluarga yang baik maka akan mempengaruhi ketaatan pasien dalam menjalankan diet pembatasan cairan.

Yuliana (2015), menyatakan bahwa dukungan sosial keluarga memiliki efek terhadap kesehatan dan kesejahteraan yang berfungsi secara bersamaan. Adanya dukungan yang kuat berhubungan dengan menurunnya mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit, fungsi kognitif, fisik, dan kesehatan emosi. Dukungan keluarga memiliki pengaruh yang positif pada pemyesuaian kejadian dalam kehidupan yang penuh dengan stres. Dukungan sosial keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan sosial keluarga berbeda-beda dalam berbagai tahap-tahap siklus kehidupan.

 

 

 

 

 

Referensi        :

  1. Anggraeni, Adisty Cynthia. 2012. Asuhan Gizi Nutritional Care Process. Graha Ilmu. Yogyakarta.
  2. Ayu Rahmawai. 2014. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan pada Pasien Hemodialisa di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Universitas Aisyah Yogjakarta
  3. Bargman JM, Skorecki K. 2013. Chronic Kidney Disease. In : Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL et al, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th. ed. New York
  4. Dinkes. 2013. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Semarang.
  5. Friedman, M. 2015. Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori, dan Praktek. Edisi ke-5. Jakarta : EGC.
  6. Hudak & Gallo. 2012. Keperawatan Kritis : Pendekatan Asuhan Holistic Vol 1. Jakarta : EGC.
  7. Hill et all. 2016. Global Prevalence of Chronic Kidney Disease – A Systematic Review and Meta-Analysis. Journal NCBI. 11(7); 2016.  PMC4934905.
  8. Istanti Y.P., Soejono S.K. 2009. Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Meningkatkan Kualitas Hidup. Muhammadiyah Journal of Nursing.
  9. Kamaludin et all. 2009. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Asupan Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisis di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Jurnal Keperawatan Soedirman. Purwokerto. ISSN. 2579-9320.
  10. Liani. 2016. Hubungan Penambahan Berat Badan Interdialisis Dengan Hipertensi Intradialisis Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSD dr. Soebandi. Jurnal Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Jember.
  11. Lindley, D.W., Oliver, J.A., Chou, K.J., Lee, T., Chen, C.L., Hsu, C.Y., Chung, H.M., Liu, C.P., & Fang, H.C. 2011. Physiological Changes During Hemodialysis In Patients With Intradialysis Hypertension.
  12. Siti Rahmayanti. 2016. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping Sleman Yogyakarta. Universitas Aisyah Yogjakarta.
  13. Suwitra, K. 2009. Penyakit Ginjal Kronik. In : Sudoyo, A. W., Setiyobudi, B., Alwi, I., Simadibarata. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing, Jakarta.
  14. Tohirun. 2018. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kenaikan Berat Badan Interdialitik Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSU PKU Muhammadiyah Delanggu. STIKES Muhammadyah Klaten.
  15. Yuliana. 2015. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronik dengan Terapi Hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Skripsi Thesis Stikes Aisyah. Yogyakarta.