Agus Suharto, S.Kep.Ners – Dysmenorrhea berasal dari Bahasa Yunani, dys yang berarti sulit, nyeri, abnormal, meno berarti bulan, dan rrhea berarti aliran. Dysmenorrhea atau dismenorea dalam bahasa Indonesia berarti nyeri pada saat menstruasi. Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak pada perut bagian bawah saat menstruasi. Namun, istilah dismenorea hanya dipakai bila nyeri begitu hebat sehingga menggangu aktifitas dan memerlukan obat-obatan. Uterus atau rahhim terdiri atas otot yang juga berkontraksi dan relaksasi. Pada umumnya, kontraksi otot uterus tidak dirasakan, namun kontraksi yang hebat dan sering menyebabkan aliran darah ke uterus terganggu sehingga timbul nyeri. Dismenorea terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu dismenorea primer dan dimenorea sekunder (Sukarni dan Wahyu, 2013).

Disminorea adalah nyeri menstruasi (haid) yang terjadi saat terjadinya haid. Keluhan disminorea harus selalu dianggap serius dan harus dilakukan upaya untuk mengurangi insidennya. Usia normal bagi seorang wanita mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya pada usia 12 atau 13 tahun. Tetapi ada juga yang mengalaminya lebih awal, yaitu pada usia 8 tahun atau lebih lambat yaitu usia 18 tahun (Sukarni dan Wahyu).

Dismenorea adalah rasa sakit yang tidak tertahankan pada saat menstruasi, sakit menusuk, nyeri hebat di sekitar perut bagian bawah menyebar ke paha dan kaki (Priyatna, 2009).

Dismenorea atau nyeri haid merupakan suatu gejala bukan penyakit. Istilah disminorea biasa dipakai untuk nyeri haid yang cukup berat. Dalam kondisi ini, penderita harus mengobati nyeri tersebut dengan analgesik dan memeriksakan diri ke dokter dan mendapatkan penanganan, perawatanatau pengobatan yang tepat. Disminorea berat adalah nyeri haid yang disertai mual, muntah, diare, pusing, nyeri kepala, dan kadang-kadang pingsan. Jika sudah demikian ,penderita tidak boleh menganggap remeh dan harus segera memeriksakan diri ke dokter. Penangannya pun akan di lakukan secara menyeluruh dan memeriksa kondisi kesehatan dan latar belakang, serta riwayat penyakit dalam keluarga. Bisa jadi, kondisi nyeri tersebut dipicu oleh penyakit lain (Anurogo dan wulandari, 2011).

Disminorea primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan alat-alat genital yang nyata. Disminorea primer biasanya terjadi dalam 6-12 bulan pertama setelah 2 bulan haid pertama, segera setelah siklus ovulasi teratur ditentukan (Anurogo & Wulandari, 2011). Dismenorea primer adalah adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Sifat kas nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas, dan sebagainya (Sukarni dan Wahyu). Biasanya dismenorea primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama dan bertambah berat setelah beberapa tahun sampai usia 23-27 tahun, lalu mulai mereda. Frekuensinya menurun sesuai pertambahan usia dan biasanya berhenti setelah melahirkan (Sukarni & Wahyu).

Patofisiologi Dismenorea Primer

Patofisiologi Dismenorea Primer adalah rasa nyeri yang terjadi selama masa mentruasi dan selalu berhubungan dengan siklus ovulasi. Hal ini disebabkan oleh korpus luteum yang akan mengalami regresi apabila tidak terjadi kehamilan. Hal ini akan mengakibatkan penurunan kadar progesteron dan mengakibatkan labilisasi membran lisosom, sehingga mudah pecah dan melepaskan enzim fospolipase A2. Fasfolipasae A2 akan menghidrolisis senyawa fasfolipid yang ada di membran sel endrometrium dan menghasilkan asam arakhidonat. Asam arakhidonat bersama dengan kerusakan endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat dan menghasilkan prostaglandin PGE2 dan PGF2 alfa. Wanita dengan dismenorea primer didapatkan adanya peningkatan kadar PGE2 dan PGF2 alfa di dalam darahnya, yang merangsang miometrium. Akibatnya terjadi peningkatan kontraksi dan disritmi uterus, sehingga terjadi penurunan aliran darah ke uterus dan mengakibatkan iskemia. Prostaglandin sendiri dan endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi, selanjutnya menurunkan ambang rasa sakit pada ujung-ujung saraf aferen nerfus pelvicusterhadap rangsang fisik dan kimia (Anurogo & wulandari, 2011).

Mekanisme Dismenorea Primer

Menurut Karmi (2013) mekanisme dismenorea primer disebabkan karena adanya prostaglandin F2a yang merupakan stimulan miometrium potendan vasokonstriktor pada endometrium. Kadar prostoglandin yang meningkat selalu ditemui pada wanita yang mengalami dismenorea dan tentu saja berkaitan erat dengan derajat nyeri yang ditimbulkan. Peningkatan kadar ini dapat mencapai 3 kali dimulai dari fase proliferative hingga fase luteal, dan makin bertambah ketika menstruasi. Peningkatan kadar prostaglandin inilah yang meningkatkan tonus miometrium dan kontraksi uterus yang berlebihan. Adapun hormon yang dihasilkan pituitari posterior yaitu vasopressin yang terlihat dalam penurunan aliran menstruasi dan terjadi dismenorea primer.

Penyebab terjadinya dismenorea primer adalah rasa nyeri di perut bagian bawah, menjalar ke daerah pinggang dan paha. Kadang-kadang disertai mual, muntah, diare, sakit kepala dan emosi yang labil. Nyeri timbul sebelum haid dan berangsur hilang setelah darah haid keluar (Sukarni & Wahyu, 2013).

Faktor lain yang bisa memperburuk dismenorea adalah kurang berolahraga, stres psikis atau stres sosial. Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan dismenorea primer. Hal ini terjadi diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan regangan pada waktu rahim membeser dalam kehamilan, ujung-ujungnya syaraf di rongga panggul dan sekiternya menjadadi rusak (Anurogo & Wulandari, 2011).

Faktor yang Mempengaruhi Dismenorea primer :

  1. Prostaglandin

Penelitian dalam tahun-tahun terakhir menunjukan bahwa peningkatan kadar prostaglandin (PG) penting peranannya sebagai penyebab terjadinya dismenorea. Atas dasar itu disimpulkan bahwa (PG) yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan hiperaktivitas miometrium. Jika (PG) dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain dismenorea timbul pula pengaruh umum lainya seperti diare, mual, muntah (Sukarni & Wahyu, 2013).

  1. Hormon Streroid Seks

Dismenorea primer hanya terjadi pada siklus ovulatorik. Artinya, dismenorea hanya timbul bila uterus berada di bawah pengaruh progesteron. Sedangkan sintesis PG berhubungan dengan fungsi ovarium. Kadar progesteron yang rendah akan menyebabkan terbentuknya PGF-alfa dalam jumlah yang banyak. Estradiol lebih tinggi pada wanita yang menderita dismenorea dibandingkan wanita normal (Sukarni &Wahyu, 2013).

  1. Sistem Saraf (Neurologik)

Uterus dipersyarafi oleh Sistem Saraf Otonom (SSO) yang terdiri dari sistim saraf simpatis dan parasimpatis. Dismenorea ditimbulkan oleh ketidakseimbangan pengendalian sistem saraf otonom terhadap mio-metrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebihan oleh saraf simpatik sehingga serabut-serabut sirkuler pada istmus dan ostium uteri interneum menjadi hipertonik (Sukarni &Wahyu, 2013).

  1. Vasopresin

Wanita dengan dismenorea primer teryata memiliki kadar vasopresin yang sangat tinggi, dan berbeda bermakna dari wanita tanpa dismenorea. Ini merupakan bahwa vasopressin dapat merupakan faktor etiologi yang penting pada dismenorea primer (Sukarni & Wahyu, 2013).

  1. Psikis

Semua nyeri tergantung pada hubungan susunan saraf pusat, khususnya talamus dan korteks. Derajat penderita yang dialami akibat rangsang nyeri tergantung pada latar belakang pendidkan penderita. Pada dismenorea faktor pendidikan dan faktor psikis sangat berpengaruh, nyeri dapat dibangkitkan dibangkitkan atau diperberat oleh keadaan psikis penderita. Seringkali segera setelah perkawinan dismenorea hilang, dan jarang masih menetap setelah melahirkan (Sukarni &Wahyu, 2013).

Derajat Dismenorea Primer

Setiap mentruasi menyebabkan rasa nyeri, terutama pada awal mentruasi namun dengan kadar nyeri yang berbeda-beda dismenorea secara siklik dibagi menjadi tiga tingkat keparahan, yaitu :

  1. Dismenorea ringan

Dismenorea yang berlangsung beberapa saat dan klien masih dapat melaksanakan aktifitas sehari-hari (Anurogo & Wulandari, 2011).

  1. Dismenorea sedang

Dismenorea ini membuat klien memerlukan obat penghilang rasa nyeri dan kondisi penderita masih dapat beraktifitas (Anurogo & Wulandari, 2011).

  1. Dismenorea berat

Dismenorea berat membuat klien memerlukan istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, migren, pingsan, diare, rasa tertekan, mual dan sakit perut ( Anurogo & Wulandari, 2011).

Tanda dan Gelaja Dismenorea Primer

Gejala umum dismenorea primer adalah nyeri yang terkonsentrasi pada abdomen bawah, region umbilical atau region suprapubicd ari abdomen. Dismenorea primer juga sering dirasakan pada abdomen kiri atau kanan. Nyeri ini dapat menjalar ke paha atau punggung bawah. Gejala lain yang menyertai berupa mual dan muntah, diare, sakit kepala, pusing (Sukarni & Wahyu) dan pada kasus berat nyeri menstruasi dapat menyebabkan seseorang pingsan (Anurogo & Wulandari, 2011).

Menurut karakteristik dan faktor yang berkaitan dengan dismenorea, dismenrea primer umumnya dimulai 1-3 tahun setelah mentruasi. Umumnya dismenorea primer terjadi pada wanita nulipara (belum pernah melahirkan), dismenorea primer kerap menurun secara signifikan setelah kelahiran anak (Morgan dan Hamilton, 2009).

Pencegahan Dismenorea Primer

Menurut Anurogo & Wulandari (2011) langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah dismenore (nyeri haid), yaitu :

  1. Hindari stres, sebisa mungkin hidup tenang dan bahagia;
  2. Memilih pola makan yang teratur dengan asupan gizi yang memadai, memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna;
  3. Saat menjelang haid, sebisa mungkin menghindari makanan yang cenderung asam dan pedas;
  4. Istirahat yang cukup;
  5. Tidur yang cukup, sesusai standar keperluan masing masing 6-8 jam sehari sesuai dengan kebiasaan;
  6. Rajin minum susu dengan kalsium tinggi;
  7. Lakukan olahraga secara teratur setidaknya 30 menit tiap hari;
  8. Lakukan peregangan anti nyeri haid setidaknya 5-7 hari sebelum haid;
  9. Menjelang haid, cobalah merendam dengan menggunakan air hangat yang diberi garam mandi dan beberapa tetes minyak esensial bunga lavender atau sesuai selera masing-masing;
  10. Usahakan tidak mengkonsumsi obat anti nyeri;
  11. Selama masa nyeri jangan melakukan olahraga berat atau bekerja berlebihan sehingga menyebabkan kelelahan;
  12. Hindari mengomsumsi alkohol, rokok, kopi, maupun cokelat, karena akan memicu bertambahnya kadar estrogen;
  13. Jangan makan segala sesuatu yang dingin secara berlebihan;
  14. Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayur makanan berkadar lemak rendah, konsumsi vitamin E, vitamin B6, dan minyak ikan untuk mengurangi peradangan;
  15. Suhu panas merupakan ramuan tua yang perlu dicoba, seperti menggunakan bantal pemanas, kompres handuk atau botol berisi air panas di perut dan punggung bawah serta minum minuman yang hangat;
  16. Terapi alternative;
  17. Pijatan dengan aroma terapi juga dapat mengurangi rasa tidak nyaman;
  18. Mendengarkan musik, membaca buku atau menonton TV juga bisa dapat membantu mengurangi rasa sakit.

Manejemen Dismenorea Primer

Menurut Kusmira (2011) beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi dismenorea, yaitu :

  • Kompres dengan botol panas (hangat) pada bagian yang terasa kram (bisa di perut atau pinggang bagian belakang);
  • Mandi air hangat, boleh juga menggunakan aroma terapi menenangkan diri;
  • Mengonsumsi minuman hangat yang mengandung kalsium tinggi;
  • Menggosok-gosok perut atau pinggang yang sakit, ambil posisi menungging sehingga rahim tergantung ke bawah. Hal tersebut dalam membantu relaksasi;
  • Obat-obtan yang digunakan harus berdasarkan pengawasan dokter. Boleh minum analgesik (penghilang rasa sakit) yang banyak dijual di toko obat, tetapi dosisnya tidak lebih dari tiga kali sehari.

Menurut Anurogo & Wulandari (2011) salah satu terapi non farmakologi untuk meringankan gelaja dismenorea, yaitu :

  • Pengobatan dengan herbal seperti mengkonsumsi kunyit asam pagi dan sore hari;
  • Penggunaan suplemen minyak ikan, vitamin E;
  • Relaksasi, penting untuk memberikan kesempatan bagi tubuh memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan haid tanpa rasa nyeri;
  • Akupuntur, sebagian besar penanganan akulpuntur yang ada di indonesia untuk menangani dismenorea digabungkan dengan pengobatan medis;
  • Hipnoterapi sangat efektif untuk mengatasi nyeri haid, salah satunya adalah mengubah pola pikit dari negatif ke positif.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Anurogo, D. & Wulandari, A. 2011. Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid. Yogyakarta : ANDI Yogyakarta.
  2. As’adi, M. 2011. Melakukan Hipnoterapi Agar Daya Ingat Anda Sekuat Cakram. Yogjakarta : Diva Pers.
  3. Kusmiran, Eny. 2011. Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta : Salemba Medika.
  4. Susianti, D. A. 2015. Teori dan Konsep Dasar Hipnotherapi. Yogyakarta : Visi Media.
  5. Sukarni, I dan Wahyu, P. 2013. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Yogyakarta : Nuha Medika.
  6. Rival Yahya. 2017. Pengaruh Hipnoterapi Terhadap Penurunan Dismenorea Primer Pada Siswi SMA 1 Muhammadiyah Malang. FIK Universitas Muhamadyah Malang.