Diet Penyakit Stroke

Dian Eka Sari, S.Gz – Tujuan Diet :

  1. Memberi makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien dengan memperhatikan keadaan dan komplikasi penyakit.
  2. Memperbaiki keadaan stroke, seperti disfagia, pneumonia, kelainan ginjal dan dekubitus.
  3. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Syarat Diet :

  1. Energi cukup, yaitu 25-45 kkal/kg BB. Pada fase akut energi diberikan 1100-1500 kkal/hari.
  2. Protein cukup, yaitu 0,8-1 gr/kg BB. Apabila pasien dalam keadaan gizi kurang protein diberikan 1,2-1,5 gr/kg BB. Apabila disertai komplikasi Ginjal, protein diberikan rendah yaitu 0,8 gr/kg BB.
  3. Lemak cukup, 20-25% dari kebutuhan total.
  4. Karbohidrat cukup, 60-70% dari total kebutuhan.
  5. Vitamin cukup, terutama vitamin A, riboflavin, B6, asam folat, B12, C dan E.
  6. Mineral cukup, terutama kalsium, magnesium, dan kalium. Penggunaan natrium dibatasi dengan memberikan garam dapur maksimal 1 ½ sdt/hari
  7. Serat cukup
  8. Cairan cukup
  9. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien.
  10. Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering.

Berdasarkan tahapannya diet pada pasien stroke dibagi menjadi dua fase :

  1. Fase Akut (24 – 48 jam)

Apabila keadaan tidak sadarkan diri atau kesadaran menurun, diberikan makanan parenteral dan dilanjutkan dengan makanan enteral (bisa melalui NGT).

  1. Fase Pemulihan

Fase dimana pasien sudah sadar dan tidak mengalami gangguan fungsi menelan (disfagia). Makanan diberikan peroral secara bertahap dalam bentuk makanan cair, makanan saring, makanan lunak, dan makanan biasa.

Apabila ada disfagia, makanan diberikan secara bertahap sebagai gabungan antara parenteral nutrisi, peroral, dan NGT.

Makanan yang Dianjurkan :

  1. Bahan makanan yang mengandung lemak tak jenuh : minyak yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (minyak kacang tanah, minyak sawit, minyak jagung, minyak kedelai, margarine).
  2. Sumber hidrat arang : nasi, nasi tim, nunur, roti, gandum, makaroni, pasta, kentang, ubi, havermout, sereal.
  3. Sumber protein : tempe, tahu, oncom, kacang-kacangan, daging tak berlemak, ayam tanpa kulit, ikan.
  4. Sayuran yang tidak menimbulkan gas : bayam, buncis, labu kuning, labu siam, wortel, tauge, tomat, kacang panjang.
  5. Makanan yang tidak berlemak dan menggunakan santan encer.
  6. Makanan yang ditumis lebih dianjurkan daripada digoreng.

Makanan yang Dibatasi :

  1. Sumber hidrat arang : mie, ketan, kue-kue, cake, biskuit, pastries.
  2. Sumber protein hewani : daging, ayam, bebek, udang.
  3. Sayuran yang mengandung gas : kol, sawi, nangka muda, lobak.
  4. Buah-buahan yang mengandung alkohol : nangka tua, anggur, nanas, durian.
  5. Teh kental, tape, kopi.

Makanan yang Dihindari :

  1. Bahan makanan yang mengandung lemak jenuh : lemak sapi, babi, kambing, susu full cream, cream, keju, mentega, minyak kelapa, santan kental, mayonaise.
  2. Daging berlemak dan jeroan : sapi, kambing, babi, otak, limpa, ginjal, hati, kuning telur, ham, sosis, babat, usus.
  3. Minuman yang mengandung soda dan alkohol : arak, bir, soft drink.

Cara Mengatur Diet :

  1. Gunakanlah minyak kedelai, minyak sawit, minyak kacang tanah atau minyak jagung dalam jumlah terbatas (1 sendok makan/hari).
  2. Penggunaan daging merah maksimal 2x seminggu.
  3. Makanlah ikan sebagai pengganti daging.
  4. Batasi penggunaan kuning telur maksimal 2x seminggu.
  5. Makan banyak sayur dan buah-buahan segar.
  6. Memasak dengan merebus, mengukus, mengungkep, menumis, memanggang atau bakar.
  7. Bila disertai dengan darah tinggi dan atau penyakit jantung diberikan pula diet rendah garam.
  8. Hati-hati dengan minuman atau suplemen berenergi (lebih baik konsultasi dengan dokter).