dr. Bramadi Nugroho, Sp.Rad – Radiologi diagnostik merupakan cabang ilmu kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan untuk mendiagnostik suatu penyakit. Teknologi tersebut dikaitkan dengan pancaran gelombang ionik maupun non ionik. Tim pelayanan radiologi meliputi : dokter, perawat, radiografer, fisika medis, dan administrasi.

Kelainan otak / tulang belakang meliputi kelainan kongenital, infeksi, trauma / kecelakaan, tumor, vaskuler / stroke, degenerative / penuaan, evaluasi pre-post terapi.

Modalitas pemeriksaan radiologi yang dapat digunakan pada pemeriksaan kepala dan tulang belakang :

  • Konvensional X-Ray (Rontgen)
  • Konvensional X-Ray dengan kontras (Myelografi)
  • Konvensional Fluoroskopi (Myelografi)
  • C-Arm (Spine Surgery)
  • Ultrasonografi (Kepala bayi / Trans Cranial Doppler)
  • Computed Tomography Scan (CT Scan)
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)
  • Digital Substraction Angiography (Vaskuler)

Konvensional X-Ray

–      Merupakan pencitraan radiologi yang sederhana, dengan menggunakan pancaran sinar X yang ditangkap oleh film sehingga dapat tercitra morfologi dari objek.

–      Keuntungan dari pemeriksaan ini yaitu, cepat, sederhana, mudah dikerjakan, biayanya relatif lebih murah dan banyak tersedia di rumah sakit / klinik, dosis radiasi X-ray lebih rendah dibanding CT scan.

–      Kelemahan dari pemeriksaan ini yaitu, masih menggunakan sinar X yang mengandung bahaya radiasi, dan kurangnya sensitivitas dan spesifitas diagnostiknya.

–      Pemeriksaan ini baik untuk screening trauma tulang maupun infeksi organ seperti paru.

Konvesional Kontras

–      Merupakan pencitraan yang menggunakan sinar X yang ditambahkan dengan zat pewarna sebagai penanda untuk suatu objek.

–      Keuntungan dari pemeriksaan ini yaitu, banyak tersedia di rumah sakit, harga relatif murah, dosis radiasi lebih rendah dibanding CT scan.

–      Kelemahannya yaitu, masih menggunakan radiasi sinar X yang berpotensi merusak sel-sel tubuh, menggunakan zat kontras yang berpotensi menyebabkan reaksi alergi.

Fluoroscopy

–      Merupakan pencitraan yang menggunakan sinar X secara kontinyu untuk menghasilkan gambar yang bergerak sewaktu. Dapat digunakan untuk mencitrakan myelum pada tulang belakang (myelografi).

–      Keuntungan dari pemeriksaan ini yaitu dapat diperoleh pencitraan yang real time.

–      Kelemahannya yaitu, intervensif, membutuhkan ahli untuk mengerjakan (myelografi), radiasi X-ray lebih banyak dibanding foto konvensional.

C-Arm

–      Yaitu modalitas radiologi yang menggunakan sinar X namun portable membentuk seperti huruf C untuk mencitrakan objek, biasanya digunakan untuk guide dalam membantuk menandai area operasi tulang belakang.

–      Keuntungan pemeriksaan ini yaitu, alat mobile dan cepat.

–      Kelemahannya yaitu, masih menggunakan sinar X, tidak banyak tersedia di fasilitas rumah sakit / klinik.

Ultrasonografi

–      Merupakan pencitraan radiologi yang menggunakan gelombang ultrasound untuk mencitrakan objek, bias digunakan untuk mencitrakan kepala bayi ataupun soft tissue regio tulang belakang.

–      Keuntungan dari pemeriksaan ini yaitu, tidak menggunakan radiasi sinar X, banyak tersedia di rumah sakit / klinik, harga relatif murah.

–      Kelemahannya yaitu, terbatas pada organ lunak, sulit mengevaluasi udara dan tulang, dan operator dependen.

CT Scan

–      Pemeriksaan yang membutuhkan sinar X untuk dapat mencitrakan gambar secara 3 dimensi.

–      Keuntungannya adalah, cepat, akurasi lebih baik, lebih  superior untuk hard tissue / perdarahan.

–      Non kontras untuk screnning cepat awal kasus trauma / stroke.

–      Kelemahannya adalah radiasi X-ray lebih tinggi, claustrophobia.

Indikasi CT Scan Kepala pada Orang Dewasa (Trauma)

Rekomendasi Tingkat A (Klinis Berat)

CT kepala diindikasikan untuk pasien dengan kehilangan kesadaran atau amnesia pasca trauma hanya jika satu atau lebih dari yang berikut ini terjadi menyajikan :

  1. Sakit kepala
  2. Muntah
  3. Usia >60 tahun
  4. Keracunan obat atau alkohol
  5. Defisit dalam memori jangka pendek
  6. Bukti fisik trauma di atas klavikula
  7. Kejang pasca trauma
  8. Skor GCS <15
  9. Defisit neurologis fokal

Rekomendasi Level B (Klinis Sedang)

CT kepala harus dipertimbangkan untuk pasien tanpa kehilangan kesadaran atau amnesia pasca trauma jika satu atau lebih dari berikut ini :

  1. Defisit neurologis fokal
  2. Muntah
  3. Sakit kepala parah
  4. Usia ± 65 tahun
  5. Tanda fisik patah tulang tengkorak basilar
  6. Skor GCS <15
  7. Koagulopati
  8. Mekanisme cedera yang berbahaya (misalnya : ejeksi dari motor kendaraan, pejalan kaki tertabrak kendaraan, atau jatuh dari ketinggian lebih dari 3 kaki atau 5 tangga).

DSA

–      Pemeriksaan radiologi yang membutuhkan sinar X yang dapat secara real time menilai suatu objek, biasanya digunakan untuk pemeriksaan pembuluh darah kepala atau spine, dan dapat dikombinasikan dengan terapi tertentu yang ditujukan untuk mengintervensi pembuluh darah.

–      Keuntungan dari pemeriksaan ini yaitu, nilai diagnostik yang tinggi (gold standart).

–      Kelemahannya yaitu relatif mahal, radiasi lebih banyak, intervensif.

MRI

–      Merupakan pemeriksaan radiologi yang menggunakan resonansi magnetic untuk menghasilkan gambar, sangat direkomendasikan untuk digunakan sebagai pemeriksaan kepala dan tulang belakang.

–      Keuntungan dari pencitraan ini yaitu gambar lebih detail, lebih superior untuk jaringan lunak / stroke infark, HNP (Golden Standart Imaging).

–      Adapun kelemahan pemeriksaan ini meliputi claustrophobia, batasan logam, relatif mahal.