drg. Dimas Cahya Saputra, Sp.KG – Penanganan kasus gigi berlubang telah berkembang dengan sangat baik. Teknologi restorasi baik ilmu, teknik maupun bahan saat ini tampak sangat menjanjikan dalam memberikan hasil yang memuaskan bagi pasien. Walaupun demikian perkembangan tersebut kurang diimbangi dengan kepedulian terhadap penyebab gigi berlubang itu sendiri. Metode preventif tampaknya kurang diadopsi dengan baik walaupun harus diakui bahwa beberapa produk mengembangkan produknya dengan kemampuan preventif seperti mampu melepaskan fluor sebagai upaya pencegahan terhadap terjadinya lubang gigi sekunder, walaupun demikian tampaknya belum mencapai esensi dari pencegahan itu sendiri. Ilmu tentang pencegahan karies  secara umum sudah banyak dikenal seperti anjuran menggosok gigi minimal dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur namun dalam ilmu konservasi gigi dikenal juga upaya yang bertujuan untuk memahami bagaimana terjadinya lubang gigi pada individu dengan pendekatan gaya hidup individu dan bagaimana penggunaannya untuk mencegah terjadinya gigi berlubang.

Pitss (2009) dalam sebuah buku berjudul Detection, Assessment, Diagnosis Monitoring of Caries mengatakan, berdasar pada editorial yang dimuat oleh The Lancet, kesehatan rongga mulut telah diabaikan dari kesehatan secara keseluruhan sehingga berakibat juga tidak menjadi perhatian utama dalam kebijakan nasional. Hal tersebut kurang lebih juga “diikuti” oleh para dokter gigi yang ternyata lebih cenderung gemar melakukan tindakan kuratif dan kurang memberi porsi seimbang pada upaya preventif.

Fakta yang dimuat dan dipublikasikan tersebut terdengar tidak asing. Bagaimana upaya preventif yang kurang diterapkan hingga kecenderungan dokter gigi untuk melakukan upaya kuratif juga terjadi di lingkungan sekitar kita. Fakta yang membenarkan anggapan bahwa upaya preventif hanya berhenti pada upaya penyuluhan bagaimana menggosok gigi yang benar dan waktu menggosok gigi saja. Jika memang cukup demikian maka tentu tidak akan ada lagi keluhan pasien mengenai giginya yang berlubang padahal sudah melakukan upaya kebersihan gigi dengan benar. Pertanyaannya adalah, mengapa keluhan tersebut masih ada? Dan mengapa jawaban dokter gigi terbatas pada anjuran bahwa perlu adanya peningkatan upaya kebersihan mulut. Mengapa tidak ada upaya untuk melakukan pengumpulan data sederhana mengenai pola hidup pasien, asupan makanannya atau jika memungkinkan dilakukan uji sederhana mengenai kondisi saliva / ludah pasien?

Beberapa hal terakhir tadi adalah beberapa hal yang berhubungan dengan pemeriksaan risiko karies pasien (Patient Caries Risk Assessment). Dalam hal ini pasien seperti dilibatkan oleh dokter gigi, pasien menjadi pusat bagi kesehatan giginya sendiri sehingga ke depan dokter gigi bukanlah semata-mata pihak yang hanya memberi instruksi ini dan itu tanpa pasien memahami mengapa instruksi tersebut diberikan. Untuk dapat melakukan prosedur pemeriksaan tersebut, beberapa hal berikut ini perlu dipahami terlebih dahulu. Hal pertama adalah risiko, risiko didefinisikan sebagai probabilitas suatu kejadian yang merugikan atau yang tidak dikehendaki terjadi, sehingga logika dilakukannya pemeriksaan risiko karies adalah mengidentifikasi individu dengan peningkatan risiko terhadap perkembangan penyakit di masa mendatang selama periode waktu tertentu. Setelah risiko maka hal berikutnya adalah faktor risiko. Seperti diketahui bahwa karies adalah penyakit multifaktor maka untuk melakukan prediksi terhadap risiko karies seseorang kadangkala dibutuhkan cukup banyak hal untuk dipertimbangkan sebagai faktor risiko. Sebagai contoh, berikut ini adalah beberapa faktor risiko yang perlu untuk dicermati dalam upaya memberikan strategi pencegahan karies individual secara optimal.

Status sosial ekonomi, dalam hal ini dihubungkan dengan tingkat pendidikan. Dikatakan bahwa tingkat pendidikan yang rendah adalah risiko tinggi terhadap insidensi karies. Pendidikan yang rendah dan keterbatasan akses informasi menyebabkan kurangnya kemampuan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut. Faktor lain adalah tingkat kepatuhan, individu yang kurang sadar akan kesehatan dan cenderung cuek merupakan indikasi memiliki risiko tinggi terhadap insidensi karies. Faktor frekuensi asupan seperti kebiasaan ngemil malam, minum jus dan minuman ringan, kebiasaan makan permen jelas meningkatkan risiko tinggi terhadap insidensi karies. Faktor kebiasaan menggosok gigi, faktor risiko ini sangat populer sehingga biasanya sering ditanyakan kepada pasien oleh dokter gigi bahkan menjadi semacam “kuliah wajib” untuk pasien. Beberapa faktor risiko di atas hanya contoh dari sekian banyak faktor risiko yang dapat dimodifikasi oleh klinisi menyesuaikan dengan faktor-faktor lokal yang dicurigai sebagai faktor risiko insidensi karies. Jika memungkinkan dapat dilakukan upaya penunjang dengan melakukan uji laju aliran saliva / ludah serta uji kapasitas buffer saliva. Apabila laju aliran saliva / ludah terstimulasi kurang dari 0,5 ml/menit dan apabila (pH) keasaman ludah ≤ 4 maka dapat dikategorikan sebagai individu dengan risiko insidensi karies yang tinggi.

Tujuan akhir dari upaya preventif tentu saja mendapatkan metode yang akurat, tepat, efektif sekaligus berbiaya terjangkau pada tataran populasi. Walaupun demikian upaya individual seperti melakukan pemeriksaan risiko karies sebaiknya mulai menjadi agenda rutin dokter gigi dalam praktik sehari-hari. Harapannya adalah, dengan melakukan upaya identifikasi faktor-faktor risiko secara individu nantiya akan didapatkan faktor risiko pada tataran populasi sekaligus metode preventif yang akurat, efektif serta berbiaya terjangkau pada tingkat populasi.