Tim Promkes RSST – Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman yang semakin modern, cara berkomunikasi antar individu juga mengalami perubahan. Jika era kesukuan (tribal) orang berkomunikasi secara lisan dan bertatap muka maka pada pada era digital seperti sekarang ini, orang tidak lagi harus bertemu dengan lawan bicara untuk menyampaikan pesan karena alat komunikasi seperti ponsel maupun smartphone menjadi perangkat yang mampu mengantarkan pesan tersebut dalam hitungan detik. Dengan bentuknya yang praktis dan fungsi yang beragam, ponsel atau smartphone menjadi perangkat yang membuat hidup seseorang menjadi lebih mudah.

Penemuan teknologi seperti smartphone menjadikan segala sesuatu lebih praktis. Penggunanya dapat melakukan banyak hal seperti berinteraksi melalui sosial media, menelpon, mendengarkan musik, membaca buku digital, hingga reservasi hotel atau belanja secara online dalam satu waktu.

Kehadiran media baru seperti internet, smartphone, atau gadget tersebut seakan menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat modern terutama bagi generasi yang hidup di  era tahun 1982 hingga 2000an. Bagi mereka kemudahan yang ditawarkan jauh lebih banyak daripada menyadari atas kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan seperti fenomena phubbing. Sebagai kata baru phubbing merupakan sebuah kata singkatan dari phone dan snubbing, dan digunakan untuk menunjukan sikap menyakiti lawan bicara dengan menggunakan smartphone yang berlebihan.

Realitas ini tentunya tidak bisa dihindari oleh masyarakat modern yang tinggal di perkotaan sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang menyebabkan seseorang bisa menjadi phubber dan bagaimana implikasinya terhadap komunikasi antar personal. Hal ini dilatarbelakangi oleh ketergantungan seseorang terhadap smartphone dan menimbulkan kecemasan berlebihan jika tidak menggunakan perangkat tersebut. Tentunya dengan demikian dapat mengganggu atau mempengaruhi interaksi sosial dengan yang lainnya.

Sebagai faksi yang menikmati perkembangan smartphone, generasi Y merupakan kelompok yang paling banyak menggunakan smartphone dan internet. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Markplus Insight Indonesia, pengguna smartphone terbanyak adalah remaja kelompok usia 16 sampai 21 tahun dengan prosentase 39%. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa selain menjadi pengguna smartphone terbanyak, millenials merupakan pengguna internet terbesar dibanding dengan generasi lainnya. Umumnya mereka menggunakan smartphone untuk berkomunikasi dan mengakses internet seperti membuka sosial media, mencari informasi hingga melakukan belanja online.

Kecenderungan kondisi ini dinilai positif bagi sejumlah pengguna smartphone tetapi tidak sedikit dari penggunanya yang memikirkan implikasi negatif yang ditimbulkan dari penggunaan smartphone yang berlebihan. Penelitian yang dilakukan oleh Lee (2013) menyebutkan bahwa kehadiran fenomena phubbing lahir karena besarnya ketergantungan individu terhadap smartphone dan internet. Jika pada umumnya kecanduan dihasilkan karena ketergantungan orang dalam mengkonsumsi minuman, obat atau zat tertentu, maka kecanduan terhadap smartphone dihasilkan karena adanya ketergantungan manusia pada perangkat mesin tertentu.

Kecenderungan tersebut menjadikan pengguna smartphone tidak bisa lepas dari perangkat dan memengaruhi kehidupan sosial mereka. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Pinchot, dkk (2010) menyebutkan bahwa hp atau smartphone bahwa perilaku komunikasi yang terjadi di kehidupan sehari-hari telah berubah. Orang tidak lagi merasa tabu jika harus disibukan dengan hp nya ketika pemakaman, atau saat sedang makan malam. Pada akhirnya kemunculan jargon mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat menjadi tidak terelakan.

Orang lebih disibukkan dengan gadget atau smartphone-nya dibandingkan harus berinteraksi dengan lawan bicara atau membangun hubungan dengan lingkungan. Padahal salah satu bentuk indikator suatu komunikasi dikatakan efektif adalah kesamaan pemahaman antara pengirim dengan penerima pesan. Jika salah satu individu menggunakan smartphone saat terlibat perbincangan bukan tidak mungkin bahwa mereka tidak dapat menyerap informasi secara maksimal dan sebagai akibatnya lawan bicara mereka harus mengulang pernyataan yang sama.

Pengaruh teknologi didalam kehidupan manusia menarik perhatian seorang pemikir berkebangsaan Kanada, Marshall McLuhan, dan melalui bukunya Understanding Media, ia menulis mengenai pengaruh teknologi khususnya teknologi komunikasi, seperti TV, radio, film, telepon dan bahkan game. Menurut McLuhan, teknologi media telah menciptakan revolusi di tengah masyarakat karena masyarakat sudah sangat tergantung kepada teknologi dan tatanan masyarakat terbantu berdasarkan kemampuan masyarakat menggunakan teknologi. Determinisme teknologi memberikan dampak bagaimana suatu media dapat memberikan peran yang cukup besar bagi era dimana media itu diciptakan. Terdapat empat periode di dalam teori determinisme teknologi, yaitu era kesukuan, era tulisan, era cetak hingga era elektronik. Setiap medium memiliki peran di dalam peradaban suatu manusia, jika era cetak, media seperti buku dan majalah begitu popular dan kehadirannya mampu merubah perilaku manusia yang awalnya hidup berkelompok menjadi individu, pada era elektronik seperti saat ini, kehadiran smartphone membawa begitu banyak manfaat salah satunya adalah tidak adanya batasan ruang dan waktu. Tetapi Luhan menyebutkan bahwa media juga memiliki andil di dalam memperburuk keadaan manusia, dimana salah satu fenomena seperti phubbing pun muncul akibat pengaruh dari perkembangan teknologi terutama smartphone.

Dalam perspektif Luhan, di dalam suatu media bukan isi yang paling penting melainkan medium itu sendiri. Hal ini tentunya cukup berbeda jika kita melihat penjelasan sebelumnya mengenai dependensi individu terhadap smartphone yang dianggap membawa manfaat hingga akhirnya melahirkan fenomena phubbing. Berdasarkan teori tersebut kita dapat melihat bagaimana orang menjadi sangat bergantung pada media untuk mendapatkan berbagai kebutuhan, salah satunya adalah mendapatkan informasi di sosial media, portal berita, ataupun website tertentu dan lain sebagainya. Padahal yang terjadi baik isi ataupun medium seperti smartphone pada akhirnya memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan manusia hingga menjadikan banyak orang yang menjadikan smartphone menjadi barang penting di dalam kehidupan mereka.

Gangguan sosial seperti phubbing tentunya akan mengakibatkan lawan bicara merasa tidak dihargai sehingga kedekatan hubungan di antara korban phubbing dan phubber pun akan menjadi renggang, selain itu phubber juga akan semakin teralienasi oleh lingkungan sosialnya, dan mengakibatkan kepekaan terhadap lingkungan menjadi menurun.

Sekalipun kita tidak dapat menolak perkembangan teknologi dan komunikasi yang ada, bukan berarti kita tidak dapat meminimalisir segala kemungkinan terburuk atas efek negatif yang dihasilkan. Jika memang diharuskan untuk membuka smartphone maka ada baiknya untuk pengguna meminta izin terlebih dahulu terhadap lawan bicara supaya lawan bicara merasa tetap dihargai, selain itu penggunaannya pun tidak dilakukan sepanjang pembicaraan berlangsung, dan yang terakhir adalah kesadaran dari satu sama lain individu untuk saling mengingatkan jika salah satu sudah bersikap berlebihan. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Ajo. 2014. Kemkominfo : Pengguna Internet Capai 82 Juta.
  2. DeVito, Joseph. A. 2015. Human Communication. The Basic Course. Thirteenth Edition. USA : Pearson Education.
  3. Griffin, Em. 2012. A First look At Communications Theory, 8th Edition. New York : McGraw-Hill.
  4. Morrisan, Andy C. W., Farid H., U. 2010. Teori Komunikasi Massa. Bogo : Ghalia Indonesia.
  5. Pinchot, dkk. 2010. How Mobile Technology is Changing Our Culture. CONISAR.
  6. Proceedings Vol. 3 No. 1519. USA : Conference on Information Systems Applied Research.
  7. Yulianti, Levina, dkk. 2014, Oktober. Yang Muda, Yang Menuruti Kata Hati. Marketeer : 065.
  8. Fenomena Phubbing di Era Milenia (Ketergantungan Seseorang pada Smartphone terhadap Lingkungannya) Ita Musfirowati Hanika *Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP Angkatan IV.