Tim Promkes RSST – RICE? RICE = BERAS? Cedera ingat beras? Duh, bukan begitu konsepnya…

RICE merupakan singkatan dari Rest, Ice, Compression, dan Elevation. Metode pengobatan ini biasanya dilakukan untuk cedera akut, khususnya cedera jaringan lunak (sprain maupun strain). Metode terapi RICE ini dilakukan secepat mungkin sesaat setelah terjadinya cedera sampai dengan ±48 jam setelah cedera terjadi.

Sebelum melakukan latihan fisik / olahraga, kita dianjurkan untuk melakukan pemanasan dan setelah latihan fisik / olahraga dianjurkan untuk melakukan pendinginan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya cedera.

Jenis cedera dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi. Di antaranya :

  1. Klasifikasi cedera berdasar penyebab.
  2. Klasifikasi cedera berdasar berat ringan cedera.
  3. Klasifikasi cedera berdasar waktu.
  4. Klasifikasi cedera berdasar struktur jaringan yang terkena.
  5. Klasifikasi cedera berdasar mekanisme (biomekanik).

Pencegahan terjadinya cedera :

  1. Pencegahan cedera dilakukan sebelum dan saat latihan atau bertanding.
  2. Program yang  seimbang  meliputi :  pemanasan  (warm-up)  dan  pendinginan  (cool-down) rutin, peregangan  (stretching), latihan aerobik, dan latihan penguatan sesuai kecabangan (sport  specific  strength  training).  Perlengkapan  yang  baik  dan  sesuai  juga  diperlukan, selain  itu  pengaturan  gizi  yang  sesuai  memegang  peranan  penting  dalam  pencegahan cedera.

Saat Cedera ingat RICE

  • R – Rest

Segera istirahatkan bagian tubuh yang cedera. Jika kaki cedera, penggunaan tongkat untuk meminimalisir stres pada tubuh yang cedera.

Tujuan dari perlakuan istirahat pada bagian tubuh yang cedera adalah untuk :

  1. Menjaga cedera lebih lanjut.
  2. Membuat proses penyembuhan luka lebih cepat.

Segera setelah cedera sebaiknya istirahat secara total sekitar 15 menit. Bagian tubuh yang tidak cedera dapat beraktivitas secara normal. Biasanya harus beristirahat sampai nyeri pada cedera hilang, yaitu 48 jam.

  • I – Ice

Lakukan kompres dingin pada bagian tubuh yang cedera. Ice  pack diberikan sesegera mungkin setelah cedera, 5-10 menit  diikuti istirahat 5-10 menit dan dilakukan pengulangan beberapa kali. Lakukan treatment ini 3x sehari untuk 2-3 hari pertama. Lapisi kulit dengan handuk tipis untuk mencegah hipotermia jaringan.

  • C – Compression

Balut rekat pada daerah yang cedera menggunakan bandage / pembalut / perban. Kompresi pada area cedera untuk membantu meredakan  pembengkakan. Aplikasi kompresi juga bisa dilakukan saat aplikasi es.

  • E – Elevation

Dilakukan dengan meninggikan bagian yang cedera. Bagian tubuh yang cedera ditinggikan di atas level jantung untuk meredakan pembengkakan dengan menggunakan prinsip gravitasi.

Pada elevasi bagian yang mengalami cedera diangkat sehingga  berada 15-25 cm di atas ketinggian jantung. Elevasi dianjurkan dilakukan terus-menerus hingga pembengkakan menghilang.

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada cedera akut, HARM :

  • Heat, efek panas dapat memperlambat laju penyembuhan dan dapat meningkatkan pendarahan internal dan pembengkakan.
  • Alcohol, memiliki efek yang sama dengan heat.
  • Running, berbagai jenis aktivitas harus dihindari selama 72 jam post-injuries.
  • Massage, pemijatan pada fase akut dapat meningkatkan pendarahan dan pembengkakan. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Knight KL. Immediate Care of Acute Traumatic Injuries. Dalam Cryotherapy In Sport Injury Management. Champaign : Human Kinetics. Hlmn 85-98.
  2. Blekaley CM, McDonough SM, MacAuley DC. Cryotherapy for Acute Ankle Sprains : a Randomised Controlled Study of Two Different Icing Protocols. Br J Sports Med 2006; 40: 700-5.
  3. Inverarity L. Rest, Ice, Compression, Elevation-Management of Acute Injuries. 2007. Diunduh dari http://physicaltherapy.about.com/od/sportsinjuries/p/RICE.htm.
  4. Naimer SA, Chemla F. Elastic Adhesive Dressing Treatment of Bleeding Wounds In Trauma Victims. Am J Emer Med 2000;18:816-9.
  5. M. Soebroto, 1974. Cedera Olahraga. Jakarta : Direktorat Jenderal Olahraga dan Pemuda Depeartemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  6. Moh. Bahruddin. 2013. Penanganan Cedera Olahraga Pada Atlet (PPLM) dan (UKM) Ikatan Pencak Silat Indonesia Dalam Kegiatan Kejurnas Tahun 2013. Universitas Negeri Surabaya.