dr. Adika Mianoki, Sp.S – Epilepsi atau orang awam menyebutnya ayan adalah salah satu penyakit saraf yang cukup banyak terjadi di masyarakat. Penyakit epilepsi disebabkan karena adanya gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal. Umumnya, seseorang didiagnosis mengalami epilepsi apabila telah mengalami setidaknya 2 (dua) kali kejang yang terjadi tanpa adanya provokasi.

Manifestasi klinis dari epilepsi tidak selalu berupa kejang seluruh tubuh seperti yang banyak terjadi. Tanda dan gejala bangkitan epilepsi dapat bervariasi. Sebagian orang dengan epilepsi bisa saja hanya menunjukkan tatapan kosong selama beberapa detik mengalami kaki atau tangan yang menyentak, atau pingsan berulang.

Ada jenis epilepsi yang umumnya dialami oleh anak-anak yang disebut dengan epilepsi absence atau petit mal. Meski kondisi ini tidak berbahaya, prestasi akademik dan konsentrasi anak bisa terganggu. Ciri-ciri epilepsi ini adalah hilangnya kesadaran selama beberapa detik, mengedip-ngedip atau menggerak-gerakkan bibir, serta pandangan kosong. Anak-anak yang mengalami kejang ini tidak ingat akan apa yang terjadi saat mereka kejang.

Penyebab Epilepsi

Epilepsi dapat terjadi pada usia kapan saja dan umumnya kondisi ini muncul sejak masa kanak-kanak. Pada sebagian besar kasus epilepsi, penyebab pastinya tidak dapat ditemukan. Epilepsi jenis ini dikenal sebagai epilepsi idiopatik atau epilepsi primer. Tidak dapat dipastikan bagaimana epilepsi bermula atau berlanjut pada kasus ini, karena tidak ditemukan kelainan di otak yang dapat menyebabkan epilepsi.

Berbeda dengan epilepsi idiopatik, epilepsi simptomatik atau epilepsi sekunder merupakan jenis epilepsi yang penyebabnya bisa diketahui. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan epilepsi simptomatik, di antaranya adalah cedera kepala, stroke, tumor otak, infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis, dan lain-lain.

Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kejang pada penderita epilepsi. Di antaranya adalah kelelahan atau kurang tidur, stres, tidak mengonsumsi obat anti-epilepsi secara teratur, mengonsumsi obat yang mengganggu kinerja obat anti-epilepsi, telat makan, demam tinggi, mengonsumsi minuman beralkohol atau NAPZA, saat menstruasi pada wanita, maupun kilatan cahaya.

Mitos Epilepsi

Banyak masyarakat beranggapan keliru tentang penyakit epilepsi. Mitos yang salah tentang penyakit ini pun terus berkembang di masyarakat. Di antara mitos yang beredar di masyarakat antara lain adanya anggapan bahwa epilepsi bisa menular. Anggapan seperti ini keliru, epilepsi bukanlah penyakit menular. Penyakit yang bisa menular adalah penyakit yang disebabkan karena infeksi kuman. Seseorang tidak akan mengalami epilepsi saat berdekatan dengan penderita epilepsi. Orang sehat juga tidak akan mengalami epilepsi jika bersentuhan dengan penderita epilepsi, bahkan jika terkena ludahnya sekalipun. Oleh karena itu, tidak ada masalah orang yang sehat berinteraksi dan bergaul dengan penderita epilepsi karena epilepsi bukanlah penyakit menular.

Mitos yang lain adalah menganggap epilepsi sebagai bentuk dari penyakit sawan atau kekuatan gaib, kesurupan, kemasukan roh jahat, bahkan dianggap sebagai kutukan Tuhan. Mitos ini masih banyak berkembang di masyarakat. Inilah mitos negatif yang justru memojokkan penderita epilepsi. Mitos ini juga mengakibatkan penderita epilepsi semakin dikucilkan. Fenomena tersebut terlihat pada masih banyaknya kejadian penderita yang mengalami serangan epilepsi namun tidak segera ditolong dengan cepat dan bahkan didiamkan atau ditinggal begitu saja.

Masih ada juga yang menganggap bahwa penderita epilepsi pasti selalu cacat mental. Bisa dikatakan bahwa IQ tidak ada kaitannya dengan penyakit epilepsi. Banyak orang yang menganggap penderita epilepsi adalah bodoh atau IQ jongkok dan mengalami cacat mental. Anggapan ini tidak benar, bahkan dalam realitanya banyak penderita epilepsi yang memiliki IQ yang tingginya di atas rata-rata. Melihat adanya fakta ini, maka kini penderita epilepsi atau keluarga yang memiliki penderita epilepsi haruslah lebih baik dalam melihat potensi apa yang dimiliki pada penderita epilepsi sehingga tidak terkena diskriminasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Pada penderita epilepsi, fungsi dari bagian otak dan tubuh lainnya bisa jadi masih normal. Bahkan konon katanya nama-nama terkenal seperti Sir Alfred Nobel, Napoleon, dan Socrates dikenal sebagai penderita epilepsi.

Diagnosis dan Pemeriksaan EEG Pada Penderita Epilepsi

Diagnosis dari epilepsi dapat ditentukan berdasarkan wawancara medis yang mendetail, pemeriksaan fisik secara langsung, dan pemeriksaan penunjang tertentu bila diperlukan. Pada saat melakukan pemeriksaan fisik, dokter dapat melakukan evaluasi sistem neurologis dengan menilai perilaku, kemampuan motorik, fungsi mental, dan hal-hal lainnya untuk mendiagnosis kondisi yang dialami serta menentukan tipe dari epilepsi.

Pemeriksaan penunjang yang cukup penting adalah Elektro Ensefalografi (EEG). Fungsinya adalah untuk merekam aktivitas listrik di otak. Pada orang dengan epilepsi akan  tampak adanya perubahan dari pola normal gelombang otak. Pemeriksaan ini merupakan salah satu pemeriksaan yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis adanya epilepsi. Tujuan lain dari pemeriksaan ini adalah untuk mengevaluasi pengobatan epilepsi. Pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan adalah pemeriksaan imejing berupa CT Scan / MRI kepala, khususnya untuk melacak kemungkinan penyebab sekunder dari epilepsi berupa kelainan di otak seperti stroke, infeksi otak, maupun tumor otak.

Di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sudah tersedia pemeriksaan EEG dan brain mapping yang bisa dilakukan baik untuk pasien dewasa maupun anak. Jika diperlukan, pemeriksaan tambahan berupa CT scan kepala baik dengan kontras maupun non-kontras juga bisa dilakukan di rumah sakit ini. Modalitas pemeriksaan penunjang yang dipunyai oleh rumah sakit ini sudah cukup bagus untuk mendukung pelayanan terhadap pasien epilepsi.

Epilepsi Bisa Disembuhkan

Masih banyak yang menyangka bahwa penyakit epilepsi tidak bisa sembuh. Padahal, epilepsi bisa diobati. Kuncinya adalah pengobatan dan penanganan yang tepat. Dengan pemberian obat yang sesuai, penyakit epilepsi dapat terkontrol dan bahkan bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. Tentu saja pasien harus ditangani oleh dokter yang tepat, bukan asal sembarang minum obat / herbal atau mengambil langkah pengobatan alternatif yang tidak tepat. Hanya saja, prosedur penyembuhannya memang memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Orang yang terkena penyakit epilepsi akan mendapatkan obat rutin berupa Obat Anti Epilepsi (OAE) yang harus diminum setiap hari. Pemberian OAE harus rutin, yang boleh mengatur dosis dan menghentikan pemberian obat hanya dokter spesialis saraf. Pertanyaan yang sering diajukan adalah : sampai kapan obat anti epilepsi harus selalu diminum?

Penghentian Obat Anti Epilepsi (OAE) secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah 3-5 tahun bebas kejang. OAE dapat dihentikan tanpa kekambuhan pada 60% pasien. Dalam hal penghentian OAE, maka ada dua hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu syarat umum untuk menghentikan OAE dan kemungkinan kambuhnya bangkitan / kejang setelah OAE dihentikan. Menurut pedoman tatalaksana epilepsi yang dibuat oleh PERDOSSI, syarat umum untuk menghentikan pemberian OAE adalah sebagai berikut :

  • Setelah minimal 3 (tiga) tahun bebas kejang dan gambaran EEG normal.
  • Penghentian OAE disetujui oleh pasien dan keluarganya.
  • Harus dilakukan secara bertahap, 25 % dari dosis semula setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan.
  • Bila digunakan lebih dari 1 (satu) OAE, maka penghentian dimulai dari OAE yang bukan utama.

Demikian info ringkas seputar penyakit epilepsi. Mitos yang tidak benar tentang epilepsi harus dihilangkan dari masyarakat. Epilepsi bukan penyakit menular maupun penyakit kutukan sehingga penderitanya pun tidak boleh dikucilkan. Jangan khawatir bagi penderita epilepsi karena pada banyak kasus penyakit ini bisa disembuhkan asal mendapatkan penanganan yang tepat.