Tim Promkes RSST – Tidak dipungkiri bahwa kelangsungan hidup manusia agar tetap dapat bertahan, pada dewasa ini tidak terlepas dari ketergantungan  akan  energi  listrik.  Ketersediaan  energi  listrik  terhadap  pengguna  atau konsumen biasanya berjarak yang cukup jauh, sehingga diperlukan suatu transmisi / saluran tenaga  listrik. Oleh karenanya untuk mengurangi kerugian dan efisiensi saluran  transmisi,  maka  tegangan dinaikkan sampai dengan extra tinggi, yaitu 500 kV (di Indonesia). Saluran transmisi ini biasa di sebut dengan Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET). Keberadaan SUTET ini tidak dipungkiri, akan menimbulkan suatu radiasi, yaitu radiasi medan magnet dan medan listrik.  Medan listrik dan medan magnet termasuk kelompok radiasi non-pengion.

Dari sekian banyak bentuk energi yang ada, energi listriklah yang paling banyak dimanfaatkan oleh manusia, hal tersebut dikarenakan energi  listrik  sangat  mudah  diubah  menjadi bentuk energi yang lain, sehingga hanya dengan memanfaatkan energi listrik maka kebutuhan energi yang lain akan dapat terpenuhi, selain  itu  energi  listrik  juga  dapat  disimpan dan digunakan sewaktu-waktu  sesuai kebutuhan jadi akan lebih hemat.

Namun pada kenyataannya SUTET memiliki peran penting dalam menyalurkan listrik dari pusat pembangkit listrik ke daerah yang jauh atau hingga ke pelosok. Walau memiliki fungsi penting, SUTET dianggap tidak aman karena disebut bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan.

Anggapan bahwa SUTET berbahaya bagi kesehatan, cenderung banyak diragukan keakuratannya jika dibandingkan dengan manfaatnya. Dalam beberapa isu kasus berbuntut panjang hingga mulai muncul isu bahwa  masyarakat  yang  tinggal  di  bawah menara  SUTET merasa dirugikan dari segi kesehatan karena merasa berbagai  panyakit yang mereka alami disebabkan oleh adanya pengaruh medan  listrik dan medan magnet yang ditimbulkan oleh SUTET.

Kekhawatiran akan pengaruh buruk medan listrik dan medan magnet terhadap kesehatan dipicu oleh publikasi hasil penelitian yang dilakukan oleh Wertheimer dan Leeper pada tahun 1979 di Amerika. Penelitian tersebut menggambarkan adanya hubungan kenaikan risiko kematian akibat kanker pada anak dengan jarak tempat tinggal yang dekat jaringan transmisi listrik tegangan tinggi.

Banyak ahli yang meragukan hasil penelitian tersebut dengan menunjuk berbagai kelemahannya, antara lain tidak adanya data hasil pengukuran kuat medan listrik dan medan magnet yang mengenai kelompok anak-anak yang diteliti. Kemudian berbagai ahli mulai lebih mendalami penelitian ini, namun hasil yang didapat justru beragam, bahkan sebagian besar bersifat kontradiktif. Dilaporkan, studi Feyching dan A hlboum pada tahun 1993, meta analisisnya merupakan penelitian yang mendukung  hasil  Wertheimer,  sedangkan  koreksi yang dilakukan oleh peneliti lainnya seperti yang dilakukan oleh Savit z dan kawan-kawan serta temuan studiFult on dan kawan-kawan, ternyata hubungan tersebut tidak  ada. Hasil penelitian dengan metoda yang lebih disempurnakan pernah dilakukan oleh Maria Linett dan kawan-kawan dari National Cancer Institute Amerika tahun 1997. Penelitian yang melibatkan lebih kurang 1200 anak ini melaporkan bahwa tidak ada hubungan antara kejadian kanker pada anak yang terpajan medan listrik dan medan magnet dengan anak-anak yang tidak terpajan. Hasil yang sama juga diperoleh pada studi Kanada 1999, studi Inggris 1999-2000 dan studi Selandia Baru. Temuan tersebut  mengukuhkan  penolakan  terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh Werthei-mer dan Leeper tersebut.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr.  Anies, M. Kes. PKK dari UNDIP, pada penduduk di bawah  SUTET  500  kV  di  Kabupaten  Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal (2004) menunjukkan bahwa besar risiko electrical sensitivity pada penduduk yang bertempat tinggal di bawah SUTET 500 kV adalah 5,8 kali lebih besar dibandingkan dengan penduduk yang tidak bertempat tinggal di bawah SUTET 500 kV. Secara umum dapat disimpulkan bahwa  pajanan medan elektromagnetik yang berasal dari SUTET 500 kV berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada penduduk, yaitu sekumpulan gejala : hipersensitivitas yang dikenal dengan electrical sensitivity berupa keluhan sakit kepala (headache), pening (dizziness), dan keletihan menahun (chronic fatigue syndrome). Hasil penemuan Anies menyimpulkan bahwa ketiga gejala tersebut dapat dialami sekaligus oleh seseorang, sehingga penemuan baru ini diwacanakan sebagai  “Trias Anies”.

Dari hasil sebuah penelitian dapat dilihat bahwa menurut standar  WHO dan pemerintah maka SUTET dinyatakan aman. Namun hal tersebut masih sangat meragukan, berhubung banyak kasus yang telah dialami warga yang tinggal di areal SUTET apalagi standar akan  batas minimal medan listrik dan medan megnetik belum dapat  diketahui secara pasti. Untuk itu upaya-upaya pencegahan serta penanggulangan akan dampak SUTET terhadap kesehatan sangat disarankan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan apa  saja  yang dapat dilakukan dalam menanggulangi dampak medan listrik dan medan magnetik yang dihasilkan oleh SUTET berikut di antaranya :

  • Mengusahakan agar rumah berlangit-langit.
  • Menanam popohonan sebanyak mungkin di sekitar rumah pada lahan yang kosong.
  • Bagian atap rumah yang terbuat dari atap logam sebaiknya ditanahkan (di-ground-kan).
  • Penduduk disarankan tidak berada di luar rumah terutama pada malam hari terutama antara jam 17-22 karena pada saat itu arus yang mengalir pada kawat penghantar berada pada titik puncak beban puncak.
  • Sesering mungkin melakukan pengukuran tegangan pada peralatan rumah yang terbuat dari logam jika ternyata tegangannya cukup tinggi maka diusahakan peralatan tersebut dijauhkan dari rumah atau lebih jarang dipakai.
  • Penduduk disarankan untuk tidak memasuki daerah sekitar pentanahan kaki menara yang telah diberi pagar oleh PLN.

Oleh karena itu Jika ada isu seperti itu, alangkah baiknya kita bersikap  ilmiah  dengan  mancari  informasi mengenai SUTET serta dampaknya bagi kesehatan. Sebab setelah ditinjau, kuat medan listrik  dan  medan  magnet yang dihasilkan oleh SUTET jauh lebih kecil dari batas yang ditetepkan oleh WHO. Dan hingga saat ini belum bisa dipastikan apakah munculnya gejala tersebut memang diakibatkan oleh SUTET atau adanya kemungkinan penyebab lain. Sebab itulah beberapa risiko bahaya tinggal di dekat SUTET yang perlu diperhatikan. Meski demikian, klaim bahaya SUTET tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut. Lagi pula, radiasi dari SUTET sangatlah berbeda dari radiasi pengion, seperti radiasi nuklir atau radiasi Rontgen. Jadi, kita tidak perlu terlalu khawatir.

Selain cara-cara di atas, guna melindungi diri dari kanker dan penyakit lainnya, kita dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, tidak merokok, mengelola stres dengan baik, dan beristirahat yang cukup. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Ahmad Nawawi. 2018. Dampak Radiasi Listrik Tegangan Tinggi Terhadap Kesehatan Manusia. Suara Patra, Volume 8 Nomor 1.
  2. Kamajaya. 2005. Fisika Untuk SMA Kelas XII Semester 1. Jakarta : Grafindo Media Pratama.