Tim Promkes RSST – Setiap individu pasti akan melalui tahapan-tahapan dalam kehidupannya. Salah satu di antaranya adalah bekerja. Bekerja merupakan bentuk serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu. Adanya aktivitas sehari-hari dengan bekerja membuat individu memiliki kesibukan yang berarti bagi kehidupannya. Sedangkan ditinjau secara psikologis, bekerja memiliki tujuan untuk memenuhi rasa identitas, status, ataupun fungsi sosial individu.

Bahwa dewasa muda merupakan masa saat individu telah menyelesaikan semua tingkat pendidikan formal dan mulai mencari pekerjaan untuk masa depannya. Aktivitas tersebut akan terus berlanjut hingga individu memasuki usia lanjut. Individu, disisi lain tidak mungkin dapat bekerja selama hidupnya. Setiap individu akan memasuki masa pensiun ketika usianya telah menginjak batas yang telah ditentukan.

Salah satu perhatian utama pada lanjut usia ialah bagaimana dirinya dapat melewati dengan baik masa pensiunnya, sehingga dapat melewati masa transisi dari kehidupan aktif sebelumnya menuju kehidupan yang tidak aktif. Jika pensiunan tidak dapat melewati masa transisi awal dengan baik, maka pensiunan memiliki risiko tinggi akan terserangnya penyakit, depresi, serangan jantung dan bahkan kematian.

Lanjut usia merupakan tahap akhir dari proses kehidupan yang dijalani setiap individu. Usia lanjut dipandang sebagai masa kemunduran dalam segi fisik dan psikologis, masa kelemahan, dan menurunnya fungsi dan daya tahan tubuh sehingga mudahnya terserang penyakit. Usia lanjut disikapi dan dijalani berbeda-beda oleh setiap individu. Setiap orang akan mengalami proses menjadi tua, dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang paling terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugas sehari-hari lagi.

Pensiun merupakan akhir pola hidup atau merupakan masa transisi kepola hidup baru. Pensiun adalah proses yang menyangkut perubahan peran, perubahan keinginan dan nilai, dan perubahan secara keseluruhan terhadap pola hidup setiap individu.

Mendefinisikan psychological well-being sebagai sebuah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan sendiri dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat menciptakan dan mengatur lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Psychological well-being dapat terlihat dari memiliki sikap positif terhadap dirinya, mengakui penerimaan diri terhadap aspek-aspek yang dimilikinya dan kualitas yang baik maupun buruk, serta memiliki rasa yang positif terhadap masa lalu. Memiliki tujuan hidup dan mampu mengarahkannya, merasakan adanya makna dari setiap kejadian masa lalu dan yang terdapat pada masa sekarang, adanya tujuan hidup yang positif, dan memiliki maksud dan tujuan untuk hidup. Psychological well-being memiliki perasaan perkembangan yang berlanjut serta melihat diri sebagai pribadi yang tumbuh dan berkembang, serta membuka diri terhadap pengalaman baru sehingga mampu mengembangkan potensinya.

Kita ketahui, bahwa dukungan keluarga yang diberikan kepada mereka yang memasuki masa pensiun, tentunya sangat penting dan berarti, sebagai dorongan psikologis dan tentunya sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi kecemasan dalam memasuki masa pensiun, selain dukungan keluarga, dukungan dari masyarakat sekitar tentunya juga sangat berarti pada masa pensiun dalam berkiprah di lingkungan masyarakat. Dan tentunya sikap positif pada diri juga sangat berpengaruh dalam memasuki masa pensiun, dengan memiliki rasa positif pada diri sehingga dapat memupuk perasaan percaya diri yang dapat memberikan perasaan perkembangan yang berlanjut, serta membuka diri terhadap pengalaman baru dan tentunya mampu mengembangkan diri di lingkungan masyarakat. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Vol. 2.
  2. Hurlock, E. B. 1997. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ahli Bahasa : Isti Widayanti dan Soedjarwo. Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.
  3. Powell, D. H. 1983. Understanding Human Adjustment. Canada : Little, Brown & Company.
  4. Punia, D. & Punia, S. 2002. Socio-Emotional and Psychological Problems of Retired Elderly in Haryana : A Comprehensive View. 13 (6), 455-458.
  5. Santrock, J. W. 2011. Life-Span Development. Thirteenth Edition. McGraw-Hill. New York.
  6. Ryff, C. D. 1989. Happiness is Everything, or Is It? Explorations on The Meaning of Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology, 91,5403-1081.
  7. Ryff, C. D. & Keyes, C. L. 1995. The Structure of Psychological Well-Being Revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 03,153-727.