dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Bencana awan panas guguran dari Gunung Semeru telah menelan setidaknya 34 korban jiwa. Beberapa korban tersebut ditemukan tertimbun material guguran awan panas di area tambang pasir, adapula korban yang ditemukan di dalam truk dan ditempat-tempat lain. Beberapa hari kemudian, terjadi kebakaran rumah di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat yang merenggut lima korban jiwa. Pada kedua peristiwa tersebut jenazah dalam keadaan yang sulit untuk dikenali sehingga diperlukan identifikasi jenazah.

Identifikasi jenazah merupakan salah satu amanat undang-undang dimana pemerintah dan masyarakat perlu melakukan upaya identifikasi terhadap mayat yang tidak dikenal. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi hak korban agar dapat dikembalikan kepada keluarga dan dikuburkan secara layak sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

Metode Identifikasi

Dalam kematian massal, penentuan identitas jenazah hanya boleh dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan oleh badan identifikasi atau otoritas setempat. Metode identifikasi yang digunakan harus berbasis ilmu pengetahuan terbaru, dapat diandalkan, dan dapat diterapkan. Metode identifikasi primer yang dilakukan adalah menggunakan analisis sidik jari, gigi geligi dan DNA. Sedangkan identifikasi sekunder adalah ciri fisik, temuan medis, tato serta properti seperti pakaian dan perhiasan. Teknik identifikasi ini berfungsi untuk mendukung identifikasi dengan cara lain dan biasanya tidak cukup sebagai satu-satunya alat identifikasi. Untuk menentukan identitas maka semua data yang didapatkan pada jenazah (data post-mortem) akan dibandingkan dengan data antemortem yaitu data yang didapat ketika korban masih hidup.

Sidik Jari

Sidik jari merupakan indikator yang dapat diandalkan dalam proses identifikasi karena sidik jari setiap manusia berbeda-beda termasuk pada bayi kembar identik sekalipun. Selain itu sidik jari manusia terbentuk sejak di dalam rahim dan tidak berubah kecuali mengalami kerusakan permanen atau telah membusuk. Jika terdapat luka ringan pada jari, sidik pada jari akan tumbuh kembali mengikuti pola yang sama, sedangkan pada luka yang parah akan menyebabkan jaringan parut permanen.

Gigi Geligi

Struktur gigi merupakan struktur tubuh yang paling keras dan terlindungi dengan baik. Dasar utama dari identifikasi gigi karena struktur rahang dan gigi setiap individu berbeda, serta tahan terhadap pembusukan dan suhu tinggi. Fitur gigi yang digunakan dalam identifikasi adalah morfologi gigi, variasi bentuk dan ukuran, posisi, tanda kehilangan gigi, pola keausan gigi, gigi berjejal atau gingsul dan anomali gigi lainnya yang berbeda setiap individu. Dari fitur gigi tersebut dapat diketahui usia korban, jenis kelamin, ras / etnis, kebiasaan, dan lain-lain yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai identitas korban.

DNA

Tes DNA telah terbukti dalam penentuan identifikasi, bahkan pada kasus yang melibatkan sisa bagian tubuh maupun jenazah yang sudah sangat membusuk. Pencocokan DNA dapat didasarkan pada profil keluarga biologis, sampel diri atau barang milik dan dibandingkan dengan sampel dari jenazah / bagian tubuh jenazah.

Data Medis

Deskripsi ciri fisik seseorang dapat diketahui dari tinggi badan, berat badan, bentuk muka, hidung, telinga, rahang, warna mata, dan lain-lain. Data medis dapat ditemukan dari bagian luar tubuh maupun bagian dalam tubuh. Bekas luka / operasi dapat memberikan informasi penting tentang riwayat kesehatan korban. Bekas luka / operasi yang banyak ditemukan seperti bekas operasi usus buntu atau operasi caesar. Informasi medis khusus juga dapat ditemukan seperti pemasangan alat pacu jantung atau peralatan prostetik lain. Kelainan-kelainan tubuh yang didapatkan sejak lahir maupun yang didapat ketika dewasapun dapat menjadi informasi yang sangat berharga

Ciri Khusus

Ciri khusus yang dapat ditemukan pada jenazah adalah seperti bekas luka, tato, tindik maupun tahi lalat. Dewasa ini, tindik dapat ditemukan di hampir semua bagian tubuh dan tato merupakan hal yang sangat umum dimiliki. Biasanya kedua hal ini sering didokumentasikan dalam foto yang kemudian dapat digunakan sebagai salah satu penunjang identifikasi.

Properti

Kategori ini mencakup semua hal yang ditemukan pada tubuh jenazah misalnya perhiasan, pakaian, dan dokumen identitas pribadi. Barang atau perhiasan dengan ukiran dapat menjadi petunjuk penting tentang identitas jenazah karena barang bukti tertentu seperti dokumen memiliki kemungkinan bahwa benda tersebut bukan benar-benar milik korban (misalnya kartu identitas dapat dibawa oleh orang lain atau pakaian / perhiasan yang dipinjamkan kepada orang lain).

Apa yang dapat kita lakukan?

Proses identifikasi jenazah tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan pemeriksaan pada jenazah saja namun diperlukan pula data pembanding dari keluarga korban yang didapatkan ketika korban masih hidup. Keluarga diharapkan dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya tentang korban yang akan diidentifikasi. Informasi yang dapat diberikan seperti nama, pakaian dan perhiasan yang terakhir digunakan, data medis seperti bentuk muka, hidung, telinga, rahang, tinggi badan, berat badan, serta ciri khusus seperti bekas luka, bekas operasi, tato, tindik dan lain-lain. Jika keluarga memiliki foto dan hasil rongent gigi ketika masih hidup, dapat diajukan sebagai data dukung dalam proses identifikasi. Dengan kelengkapan data antermortem dan post-mortem diharapkan seluruh jenazah yang ditemukan dapat teridentifikasi dan dikembalikan kepada keluarga.

Referensi                    :

  1. 34 Orang Meninggal Dunia Akibat Erupsi Gunung Semeru Jatim. https://www.gatra.com/detail/news/530564/kebencanaan/34-orang-meninggal-dunia-akibat-erupsi-gunung-semeru-jatim.
  2. Update Erupsi Semeru : 34 Orang meninggal dunia, 22 orang hilang. https://nasional.kompas.com/read/2021/12/07/20471981/update-erupsi-semeru-34-orang-meninggal-dunia-22-orang-hilang.
  3. RS Polri Identifikasi 5 Korban Tewas Kebakaran di Tambora lewat DNA https://megapolitan.kompas.com/read/2021/12/08/19163761/rs-polri-identifikasi-5-korban-tewas-kebakaran-di-tambora-lewat-dna.
  4. Interpol. 2014. Disaster Victim  Identification Guide.
  5. Bardale, R. 2016. Principles of Forensic Medicine & Toxicology. India : Jaypee.
  6. Payne-James, J. Jones, R. Karch, S. Manlove, J. 2011. Simpson’s Forensic Medicine. London : Hodder & Stoughton.
  7. Henky, Safitry, O. 2012. Identifikasi Korban Bencana Massal : Praktik DVI Antara Teori dan Kenyataan. Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. 2(1) : 5-7.
  8. Krishan, K., Kachan, T., Garg, A.K. 2015. Dental Evidence inf Forensic Identification – An Overview, Methodology and Present Status. Open Dent J. 9 : 250-256.