dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menanggapi subjek kematian, hal ini disebabkan karena masing-masing orang memiliki aspek pendidikan, agama, sosial budaya yang berbeda-beda. Namun begitu, secara umum, seseorang akan merasa tidak nyaman ketika memikirkan kematian mereka sendiri. Kegelisahan yang mendasari hal ini kerap kali berhubungan dengan proses kematian itu sendiri. Pertanyaan seperti “Kapan kematianku akan datang?” atau “Apakah kematianku akan menyakitkan?” merupakan pertanyaan yang sering terlintas dalam benak seseorang, namun sedikit orang yang mempertanyakan mengenai apa yang akan terjadi setelah mati.

Sebenarnya, apakah kematian itu? Kematian merupakan penghentian fungsi jantung sirkulasi peredaran darah, pernapasan dan sistem saraf pusat yang permanen dan tidak dapat kembali lagi. Hal ini ditandai dengan tidak adanya denyut nadi, berhentinya pernapasan, dan fungsi otak. Berikut merupakan perubahan yang dapat dialami tubuh segera setelah kematian.

Perubahan tubuh segera setelah kematian hingga 2 jam

Perubahan yang langsung terjadi termasuk insensibilitas, penghentian pernapasan, sirkulasi dan sistem saraf. Pada periode ini seluruh otot di tubuh dalam posisi relaksasi / lemas, pupil akan melebar dan suhu tubuh akan mengalami penurunan. Penurunan suhu tubuh dapat terjadi antara 1 ͦ F – 1,5 ͦ F per jam namun kecepatan penurunan suhu tubuh ini dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah indeks masa tubuh, pakaian yang digunakan dan suhu lingkungan sekitar.

Darah akan mengendap pada bagian terbawah tubuh yang tidak terjadi penekanan karena adanya gravitasi. Pada periode ini, jika tubuh jenazah dibalikkan atau dipindah posisi, darah akan turut berpindah mengikuti daya gravitasi.

Perubahan tubuh setelah 2 – 8 jam kematian

Setelah melewati fase relaksasi, tubuh akan mulai mengalami kekakuan sekitar 2 jam setelah kematian. Kaku jenazah terjadi akibat hilangnya sumber energi di dalam sel. Otot memerlukan sumber energi akan mampu melakukan relaksasi dan hanya beregenerasi bila proses metabolisme terjadi, sehingga setelah mengalami kematian persendian akan mengalami kekakuan. Tubuh akan mengalami kekakuan secara bertahap dimulai dari sendi terkecil hingga ke seluruh tubuh.

Perubahan tubuh setelah 8 – 12 jam kematian

Kaku jenazah menjadi maksimal pada seluruh persendian dalam 12 jam walaupun hal ini dipengaruhi oleh usia, kondisi fisik, dan lain-lain. Pada periode ini, darah yang mengendap di bagian terbawah tubuh atau yang disebut lebam jenazah, akan menetap dan tidak akan berpindah lagi meski tubuh jenazah dibolak balikkan.

Perubahan tubuh setelah lebih dari 12 jam kematian

Setelah mencapai keadaan kaku mayat sempurna, otot-otot akan mulai mengendur karena perubahan yang terjadi di dalam sel dan pembusukan jaringan. Proses pembusukan dapat terjadi dalam 24 jam atau lebih, karena dipengaruhi oleh kondisi eksternal tubuh salah satunya adalah faktor cuaca, dimana cuaca dingin akan memperlambat pembusukan.

Pembusukan terjadi akibat autolisis internal dan penguraian oleh aksi bakteri. Pembusukan ditandai dengan munculnya warna kehijauan pada perut kanan bawah dan menyebar ke seluruh tubuh secara bertahap. Dari fakta-fakta ini kita dapat mengetahui bahwa perubahan yang terjadi setelah kematian bukanlah hal yang acak, melainkan telah terencana. Hal ini menunjukkan keagungan Tuhan dalam menciptakan dan mematikan manusia.

Referensi               :

  1. Bardale, R. 2011. Principles of Forensic Medicine & Toxicology. New Delhi : Jaypee Brothers Medical Publishers.
  2. Bardale, R. V., Tumram, N.K., Dixit, P.G., Deshmukh, A.Y. 2012. Evaluation of histologic changes of the skin in postmortem period. Am J Forensic Med Pathol, 33(4): 357-361.
  3. Hayman, J., Oxenham, M. 2020. Estimation of the Time Since Death : Current Research and Future Trends. J. Hayman & M. Oxenham, ed. Canberra : Academic Press.
  4. Madea, B. 2016. Methods for determining time of death. Forensic Sci Med Pathol, 12(4): 451-485.
  5. Madea, B., Henssge, C., Reibe, S., Tsokos, M., Kernbach-Wighton, G. 2014. Postmortem Changes and Time Since Death. In B. Madea, ed. Handbook of Forensic Medicine. Wiley Blackwell: 75-133.
  6. Sauko, P., Knight, B. 2016. Knight’s Forensic Pathology. 4th ed. Boca Raton : CRC Press.