Apa Saja Sih Ketentuan Jual Beli Hewan Qurban Saat COVID-19?

Tim PKRS RSST – Kurang lebih satu minggu ke depan, umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul ‘Adha 1441 Hijriah. Maka dari itu pemerintah mulai mengatur rekomendasi untuk kegiatan qurban di masa pandemi COVID-19.

Hal itu telah diatur dalam Surat Edaran Nomor 0008/SE/PK.320/F/06/2020 tentang Pelaksanaan Kegiatan Qurban Dalam Situasi Wabah Bencana Non Alam COVID-19 yang Diterbitkan Kementerian Pertanian (Mentan).

  1. Penjualan hewan qurban dengan menjaga jarak dan bisa dioptimalkan dengan teknologi daring.

Di dalam surat edaran, telah dijelaskan mengenai mitigasi risiko saat kegiatan jual beli hewan qurban. Yang pertama yaitu menjaga jarak. Penjualan hewan qurban dilakukan di tempat yang mendapat izin bupati atau walikota.

Penjualan hewan qurban dapat dioptimalkan dengan teknologi daring. Selain itu, penjual juga dapat berkoordinasi dengan lembaga atau organisasi amil zakat.

Pengaturan tata cara penjualan seperti pembatasan waktu penjualan, layout tempat penjualan, pembedaan pintu masuk dan keluar, serta adanya alur pergerakan satu arah. Selain itu, setiap orang juga harus menjaga jarak. Tempat penjualan hewan qurban juga harus menyediakan fasilitas cuci tangan yang mudah diakses.

Bukan hanya menjaga jarak, penjual juga harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) minimal masker. Penjual menggunakan baju lengan panjang dan sarung tangan sekali pakai saat menangani serta pembersihan hewan qurban.

  1. Pemeriksaan kesehatan awal penjual serta pembeli hewan qurban.

Penjual hewan qurban yang berasal dari daerah lain harus berkondisi sehat dengan dibuktikan oleh surat keterangan sehat puskesmas atau rumah sakit. Setiap tempat penjualan hewan qurban juga harus memiliki alat pengukur suhu tubuh.

Setiap orang yang memiliki gejala demam, nyeri tenggorokan, batuk, pilek, sesak napas dilarang masuk ke tempat penjualan hewan qurban.

  1. Penerapan hygiene dan sanitasi di tempat penjualan hewan qurban.

Tempat penjualan hewan qurban harus menyediakan tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan air mengalir, sabun atau hand sanitizer. Penjual melakukan pembersihan tempat penjualan dan peralatan dengan disinfektan. Membuat kotoran dan limbah pada fasilitas penanganan kotoran dan limbah.

Setiap orang yang berada di tempat penjualan hewan qurban harus menggunakan perlengkapan milik pribadi. Misalnya seperti alat shalat dan alat makan.

Menghindari jabat tangan dan kontak langsung juga perlu dilakukan. Etika batuk, bersin dan meludah juga harus diperhatikan.

Setelah mengunjungi tempat penjualan hewan qurban, setiap orang perlu membersihkan diri dengan mandi dan mengganti pakaian. Hal itu perlu dilakukan sebelum melakukan kontak dengan orang lain di rumah.

Secara rinci berikut ketentuan jual beli hewan qurban :

  1. Memanfaatkan penjualan secara daring / online.
  2. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) minimal berupa masker.
  3. Menggunakan pakaian lengan panjang dan sarung tangan sekali pakai.
  4. Cuci tangan pakai sabun.
  5. Penjual / pekerja dari wilayah lain harus memiliki surat keterangan sehat.
  6. Harus menggunakan perlengkapan pribadi.
  7. Menghindari jabat tangan dan kontak langsung.
  8. Memperhatikan etika batuk / meludah / bersin yang benar.
  9. Membersihkan diri saat tiba di rumah. (Tn)

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. https://sumut.idntimes.com/news/indonesia/aldzah-fatimah-aditya/jual-beli-hewan-qurban-saat-pandemik-covid-19-begini-aturan-mainnya-regional-sumut/3.
  2. https://admin.corona.jatengprov.go.id/gallery/740775240.jpeg.