dr. Adika Mianoki, Sp.S – Malformasi arteriovenosa (AVM) adalah anomali perkembangan sistem vaskular, terdiri dari gumpalan pembuluh darah yang tidak terbentuk dengan baik di mana arteri terhubung langsung ke jaringan drainase vena tanpa adanya sistem kapiler. AVM dapat terjadi di mana saja di tubuh, namun cerebral AVM yang terjadi di pembuluh darah otak menjadi perhatian khusus karena risiko tinggi yang melekat pada pendarahan pembuluh darah abnormal yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis.

Kenapa bisa terjadi cerebral AVM?

Pada kondisi normal, arteri membawa darah yang mengandung oksigen dari jantung ke otak, sementara vena membawa darah dengan sedikit oksigen dari otak dan kembali ke jantung. Ketika terjadi kelainan berupa AVM, pembuluh darah tidak melewati jaringan otak normal akan tetapi langsung mengalirkan darah dari arteri ke vena. Cerebral AVM terjadi pada kurang dari 1% populasi. AVM lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

AVM otak biasanya merupakan kelainan bawaan, artinya seseorang sudah terlahir dengan adanya kelainan tersebut. Biasanya kelainan ini tidak diturunkan. Orang mungkin tidak mewarisi AVM dari orang tua mereka, dan mereka mungkin tidak akan mewarisi AVM kepada anak-anak mereka. Pada banyak kasus, AVM tidak tumbuh atau mengalami perubahan, meskipun pembuluh darah yang terlibat dapat mengalami dilatasi atau pelebaran.

Apa saja gejala Cerebral AVM?

Gejala yang muncul dapat bervariasi tergantung di mana lokasi AVM berada :

  1. Lebih dari 50% pasien dengan AVM mengalami perdarahan intrakranial.
  2. Di antara pasien AVM, 20% sampai 25% mengalami kejang fokal atau general.
  3. Pasien bisa mengalami nyeri lokal di kepala karena peningkatan aliran darah di sekitar AVM.
  4. 15% mungkin mengalami kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, maupun gangguan penglihatan.

Cerebral AVM mungkin tidak menyebabkan tanda atau gejala apa pun sampai AVM mengalami ruptur / pecah, yang mengakibatkan pendarahan di otak. Pada sekitar setengah dari semua AVM otak, perdarahan adalah tanda pertama yang mungkin terjadi.Tetapi beberapa orang dengan AVM otak mungkin mengalami tanda dan gejala selain pendarahan yang berhubungan dengan AVM.

Siapa saja yang berisiko?

Siapapun bisa dilahirkan dengan cerebral AVM, tetapi faktor-faktor ini mungkin berisiko :

  • Jenis kelamin pria. AVM lebih sering terjadi pada pria.
  • Memiliki riwayat keluarga. Kasus AVM dalam keluarga telah dilaporkan, tetapi tidak jelas apakah ada faktor genetik tertentu atau hanya kebetulan. Mungkin ada faktor turunan untuk kondisi medis lain yang memengaruhi untuk mengalami malformasi vaskular seperti AVM.

Bagaimana cerebral AVM diketahui?

Untuk mengetahui adanya cerebral AVM biasanya dilakukan dengan pencitraan non-invasif dengan CT scan atau MRI kepala. Namun untuk mendapatkan informasi anatomi dan fungsional yang relevan secara terapi diperlukan kateter angiografi otak menggunakan DSA (Digital Substraction Angiography).DSA hingga saat ini masih merupakan gold standard modalitas pemeriksaan AVM. Meskipun dari hasil MRA sudah dapat mengarah suatu AVM, MRA tidak dapat memastikan lokasi dan jumlah feeding vessels, serta pola drainasinya. Hal ini dapat diketahui hanya dengan DSA. Melalui DSA, juga dapat diketahui ukuran dan lokasi nidus dengan lebih tepat.

Bagaimana penanganannya?

Secara umum, penanganan cerbral AVM meliputi :

  1. Terapi medis. Jika tidak ada gejala, atau jika AVM berada di area otak yang tidak dapat diobati dengan mudah, manajemen konservatif mungkin diperlukan. Pasien-pasien ini disarankan untuk menghindari olahraga yang berlebihan dan menghindari obat  pengencer darah seperti warfarin.
  2. Operasi. Jika AVM mengalami perdarahan dan / atau berada di area yang mudah diakses, maka pembedahan mungkin bisa dilakukan.
  3. Bedah radio stereotaktik. AVM yang tidak terlalu besar tetapi berada di area yang sulit dijangkau dengan operasi biasa dapat ditangani dengan bedah radio stereotaktik.
  4. Neurovascular intervensi. Dimungkinkan untuk mengobati sebagian atau seluruh AVM dengan menempatkan kateter di dalam pembuluh darah dan memblokir pembuluh abnormal dengan berbagai bahan, seperti glue atau koil.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Abdul Gofir. Tatalaksana Stroke dan Penyakit Vaskelur Lain. Gadjah Mada University Press : 2020.
  2. Maria R. Bokhari; Syed Rizwan A. Bokhari. Arteriovenous Malformation of The Brain. NCBI Journal : 2020.
  3. www.mayoclinic.org. Brain AVM (Arteriovenous Malformation). 2019.
  4. www.stroke.org. What is an Arteriovenous Malformation. 2018.