Ririn Yuliati, S.SiT, M.Si – Anemia merupakan masalah kesehatan utama masyarakat yang sering dijumpai di seluruh dunia, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, WHO menyebutkan bahwa anemia gizi besi merupakan 10 masalah kesehatan terbesar di abad modern ini dimana data prevalensi global anemia 2011 menunjukkan bahwa WUS yang mengalami anemia di dunia mencapai 29,4% atau sebanyak 528,7 juta dengan rata-rata hemoglobin darah pada WUS adalah 126 g/L hal ini menunjukkan bahwa kelompok populasi tersebut berada di ambang batas untuk anemia ringan.

Masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak terjadi pada remaja yakni anemia, masalah anemia ini tidak hanya terjadi di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Anemia dapat berisiko terjadi pada semua kelompok usia, dan kelompok yang berisiko tinggi untuk menderita anemia adalah anak usia sekolah, remaja, Wanita Usia Subur (WUS), dan ibu hamil. Anemia Gizi Besi (AGB) merupakan anemia yang paling banyak terjadi pada remaja. Prevalensi terbesar terjadi di Negara Afrika dan Asia Tenggara.

Prevalensi anemia di Asia pada wanita usia 15-45 tahun mencapai 191 juta orang dan Indonesia menempati urutan ke 8 dari 11 negara Asia setelah Srilanka, dengan prevalensi anemia sebanyak 7,5 juta orang pada usia 10-19 tahun (WHO, 2011). Menurut Riskesdas tahun 2018 telah terjadi peningkatan anemia pada remaja putri yaitu dari 37,1% pada tahun 2013 menjadi 48,9% pada tahun 2018 dan menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di Jawa Tengah tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10 – 18 tahun sebesar 57,1%.

Asupan zat gizi yang kurang, menstruasi, penyakit infeksi, dan kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan anemia. Anemia pada wanita usia subur merupakan tantangan di bidang gizi kesehatan reproduksi. Secara umum tingginya prevalensi anemia gizi besi antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kehilangan darah secara kronis, asupan zat besi tidak cukup dan peningkatan kebutuhan akan zat besi (Arisman, 2004).

Kasus anemia yang tersebar di seluruh dunia secara langsung 50% disebabkan kurangnya masukan (intake) zat besi. Banyaknya remaja putri yang menderita anemia, hal ini disebabkan karena remaja putri memiliki siklus menstruasi setiap bulannya dan pada umumnya memiliki karakteristik kebiasaan makan tidak sehat. Kebiasaan tidak makan pagi, malas minum air putih, diet tidak sehat karena ingin langsing, kebiasaan ngemil makanan rendah gizi dan makan makanan siap saji, sehingga remaja putri tidak mampu memenuhi keanekaragaman zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuhnya untuk proses sintesis Hemoglobin (Hb). Bila hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka akan menyebabkan kadar Hb terus berkurang dan menimbulkan anemia.

Dampak Anemia Pada Remaja

Kejadian anemia pada remaja akan berdampak kepada janin kelak saat seorang remaja tumbuh dan akan menjadi seorang ibu. Jika anemia tidak segera diatasi akan membawa dampak pada janin yang sedang dikandung dan dapat berpeluang melahirkan anak dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) atau panjang badan saat lahir <48 cm (Riskesdas, 2018). Anemia yang terjadi pada masa remaja dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan mental, rentan terhadap infeksi dan menurunnya tingkat konsentrasi sehingga dapat berpengaruh pada prestasi di sekolah.

Keadaan anemia pada remaja perempuan dapat berlanjut saat mereka menjadi ibu. Selama kehamilan, mereka pun lebih berisiko mengalami perdarahan pasca-persalinan, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi lahir prematur, atau kelahiran mati. Selain itu, anak-anak mereka lebih mungkin mengalami stunting, sehingga meneruskan siklus malnutrisi yang merusak.

Penyebab Anemia

Anemia, terjadi karena kekurangan cadangan zat besi dalam tubuh atau yang disebut dengan iron depleted state. Hal ini menyebabkan pembentukan sel darah merah tidak optimal sehingga terbentuk sel-sel yang berukuran lebih kecil (mikrositik) dengan warna lebih muda (hipokromik) ketika dilakukan pewarnaan. Pada kondisi ini, anemia secara klinis belum terjadi dan kondisi ini disebut dengan iron deficient erithropoesis. Selanjutnya, cadangan zat besi dalam tubuh yang juga mencakup besi plasma akan semakin habis terpakai dan konsentrasi transferin serum yang mengikat besi untuk transportasinya akan menurun, sehingga mengakibatkan timbulnya anemia hipokromik mikrositer atau yang disebut sebagai iron deficiency anemia. Keadaan ini menimbulkan deplesi massa sel darah merah yang disertai turunnya konsentrasi hemoglobin di bawah normal yang menyebabkan kapasitas darah untuk mengangkut oksigen (O2) juga di bawah normal (Aulia et all, 2017).

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kadar Hb adalah tingkat penyerapan zat besi, nilai bioavaibilitas, faktor enchanter dan faktor inhibitor mengambil andil dalam penyerapan zat besi.

Pola konsumsi makan masyarakat Indonesia masih didominasi sayuran sebagai sumber zat besi yang sulit diserap. Sementara itu, daging dan bahan pangan hewani sebagai sumber zat besi yang baik (heme iron) jarang dikonsumsi terutama oleh masyarakat pedesaan (Depkes 1998). Besi heme yang terdapat dalam pangan hewani dapat diserap dua kali lipat daripada besi non-heme. Besi dalam makanan terdapat dalam bentuk besi heme (dalam hemoglobin dan mioglobin makanan hewani) dan besi non-heme (dalam makanan nabati). Sumber besi non-heme yang baik di antaranya adalah kacang-kacangan. Adapun usaha pencegahan anemia pada gizi remaja adalah dengan mengupayakan pola makanan gizi seimbang,  konsumsi buah dan sayur yang cukup, dan rutin melakukan aktivitas fisik.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Almatsier, S., Soekarti, M. & Soetardjo, S. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
  2. Arisman, M.B. 2014. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : ECG.
  3. Eti Poncorini Pamungkasari & Yulia Lanti Retno Dewi. Hubungan Asupan Fe dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri Anemia di SMK 2 Muhammadiyah Sukoharjo dan SMA N 1 Nguter Arum Sari. Program Studi Ilmu Gizi Program Pascasarjana Universitas Negeri Sebelas Maret.
  4. Masthalina, H., YuliLaraeni., YulianaPutri D. 2015. Pola Konsumsi (Faktor Inhibitor Dan Enhancer Fe) Terhadap Status Anemia Remaja Putri. Jurnal Kemas 11 (1) (2015) 80- 86.
  5. Tyas Permatasari, Dodik Briawan, Siti Madanijah. Hubungan Asupan Zat Besi Dengan Status Anemia Remaja Putri di Kota Bogor. Prodi Gizi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Medan, Institut Pertanian Bogor.
  6. Emilia. 2017. Hubungan Asupan Zat Besi dengan Status Anemia pada Santri Putridi Pondok Pesantren Hidayatussalikin Air Itam Kota Pangkalpinang. Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes, Pangkalpinang.
  7. Supriasa, dkk. 2011. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  8. Cynthia Almaratus Sholicha, Lailatul Muniroh. Hubungan Asupan Zat Besi, Protein, Vitamin C dan Pola Menstruasi Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri di SMAN 1 Manyar Gresik. Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia.