Tim Promkes RSST – Anemia adalah suatu kondisi tubuh dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal (WHO, 2011). Hemoglobin adalah salah satu komponen dalam sel darah merah / eritrosit yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh. Oksigen diperlukan oleh jaringan tubuh untuk melakukan fungsinya.

Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang merupakan populasi rawan terhadap defisiensi gizi khususnya defisiensi zat besi berisiko menderita anemia, masa pubertas sangat berisiko mengalami anemia gizi besi, hal ini disebabkan banyaknya zat besi yang hilang selama menstruasi. Status gizi merupakan salah satu faktor penyebab kejadian anemia pada remaja putri. Anemia pada remaja putri sampai saat ini masih cukup tinggi, prevalensi anemia di dunia berkisar 40-88%. Sebanyak 21,7% penduduk Indonesia terkena anemia dengan penderita anemia berumur 15-24 tahun.

Apa saja tanda dan gejala anemia pada remaja putri?

Sebagian orang yang mengalami anemia tidak memperlihatkan gejala atau tanda apa pun. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan remaja putri dapat mengalami gejala anemia seperti di bawah ini :

  • Merasa mudah marah.
  • Merasa lemah atau lelah lebih sering dari biasanya.
  • Sakit kepala
  • Sulit berkonsentrasi atau berpikir.

Namun, kondisi ini bisa semakin parah apabila tidak kunjung ditangani. Jika semakin memburuk, gejala kurang darah yang muncul bisa lebih berat, seperti :

  • Ada warna putih pada bagian dalam kelopak mata bawah.
  • Kuku jari kaki dan tangan rapuh.
  • Punya keinginan makan yang disebut sebagai pica, yaitu seperti makan es batu atau tanah.
  • Merasa pusing saat berdiri.
  • Warna kulit pucat.
  • Sesak napas
  • Pusing disertai sakit kepala.
  • Mengalami sindrom kaki gelisah.

Apa saja penyebab anemia?

Penyebab anemia adalah kurangnya produksi sel darah merah.

Faktor-faktor ini akan meningkatkan risiko Anda mengalami penyakit anemia :

  • Pola makan kurang vitamin atau kadar nutrisi tertentu, seperti zat besi atau vitamin B-12.
  • Gangguan usus, seperti penyakit Celiac dan penyakit Crohn.
  • Menstruasi
  • Kehamilan
  • Punya penyakit kronis, seperti kanker, ginjal atau gagal hati.
  • Riwayat keluarga
  • Faktor-faktor lain, seperti pernah mengalami infeksi tertentu, penyakit darah, gangguan autoimun, alkoholisme, paparan bahan kimia beracun, juga dapat menurunkan produksi sel darah merah.

Bagaimana cara sederhana mengatasi dan mencegah anemia?

Sering kali kita dapat mengatasi anemia dan mencegah kondisi kekurangan sel darah merah tanpa perlu perawatan medis khusus, akan tetapi ada beberapa kondisi anemia memang tidak dapat dicegah. Namun, terdapat beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah anemia defisiensi zat besi dan vitamin dengan cara memilih diet yang mencakup berbagai vitamin dan nutrisi, seperti :

  • Konsumsi zat besi.
  • Konsumsi folat
  • Konsumsi vitamin B-12.
  • Banyak konsumsi vitamin C.

Bagi remaja putri diharapkan dapat memperbaiki pola gizi sebagai pengganti zat besi sehingga dapat mencegah kejadian anemia lebih dini dan bagi institusi pendidikan diharapkan dapat melakukan kerjasama dengan pihak puskesmas setempat atau tenaga kesehatan untuk dilakukan bimbingan atau penyuluhan mengenai pemenuhan nutrisi pada remaja putri dalam upaya pencegahan anemia.

Referensi               :

  1. Fhany El Shara dkk. Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri. Jurnal Kesehatan Universitas Andalas. Diambil dari http://jurnal.fk.unand.ac.id.
  2. Sintha Fransike Simanungkalit  dkk. Pengetahuan dan Perilaku Konsumsi Remaja Putri yang Berhubungan dengan Status Anemia. Jurnal Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Diambil dari https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id.
  3. SN Nurjannah dkk. Hubungan Status Gizi dengan kejadian Anemia pada Remaja Putri. Jurnal STIKes Kuningan. Diambil dari https://e journal.Stikku.ac.id.
  4. Verarica Silalahio dkk. Potensi Pendidikan Gizi dalam Meningkatkan Asupan Gizi pada Remaja Putri yang Anemia. FKM USU.