dr. Arif Handiarsa, M.Sc, Sp.A – Pada saat anak demam akut akan membuat orang tua panik, sudah diberikan penurun panas tetapi demam tidak kunjung reda serta mencari pertolongan pertama berobat ke dokter dan seringnya orang tua tersebut meminta agar dokter tersebut memberikan antibiotik bahkan tidak sedikit yang langsung memberikan antibiotik pada anaknya tanpa pemeriksaan terlebih dahulu oleh dokter. Padahal belum tentu demam yang terjadi pada anak tersebut disebabkan oleh bakteri, dimana penyebab tersering demam akut pada anak biasanya oleh infeksi virus sehingga penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan risiko resistensi antibiotik.

Antibiotik masih menjadi salah satu jenis obat yang paling sering digunakan pada pengobatan berbagai penyakit. Saat ini, terdapat lebih dari 100 jenis antibiotik yang dapat menangani penyakit akibat infeksi ringan hingga penyakit akibat infeksi berat yang dapat mengancam jiwa. Meski demikian, antibiotik bukanlah penyembuh segala macam penyakit. Faktanya, antibiotik seharusnya hanya digunakan pada penyakit yang disebabkan infeksi bakteri. Ketika antibiotik diberikan pada penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau jamur, maka tidak bermanfaat.

Pemakaian antibiotik yang tidak sesuai indikasi dan anjuran dokter, tentu dapat menimbulkan efek lain di tubuh seperti resistansi antibiotik. Resistansi antibiotik adalah kondisi dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Antimicrobial Resistance in Indonesia (AMRIN) tahun 2000-2005 pada 781 pasien yang dirawat di rumah sakit, mendapatkan bahwa 81% bakteri Eschericia coli sudah resistan terhadap berbagai jenis antibiotik. Di antaranya antibiotik ampisilin sebanyak 73%, kotrimoksazol sebanyak 56%, kloramfenikol sebanyak 43%, siprofloksasin sebanyak 22%, dan gentamisin sebanyak 18%, menunjukkan hasil yang sangat memprihatinkan. Kenapa bakteri dapat menjadi resisten dipengaruhi beberapa hal seperti dipicu oleh penggunaan antibiotik yang salah, sering menggunakan antibiotik, konsumsi makanan yang mengandung residu antibiotik atau tertular pasien infeksi bakteri resisten.

Resistansi antibiotik yang terjadi menyebabkan seorang dokter akan kesulitan dalam menentukan pilihan pengobatan yang memadai untuk setiap penyakit sehingga dapat menimbulkan masalah baru di dunia kesehatan. Untuk mencegah terjadinya resistansi antibiotik, tidak hanya tenaga kesehatan yang memilki andil, tetapi harus melibatkan semua lapisan masyarakat.

Pemberian antibiotik secara rasional artinya penggunaan dengan benar, tepat dan tidak sesuai dengan indikasi penyakitnya. Ada beberapa contoh Indikasi Pemberian Antibiotik pada anak, antara lain :

  1. Indikasi yang tepat dan benar dalam pemberian antibiotik pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) indikasi pemberian antibiotik adalah bila batuk dan pilek berkelanjutan selama lebih 10 – 14 hari yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari). Batuk malam dan pagi hari biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotik.
  2. Bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas  lebih dari 39 derajat Celcius dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakkan sekitar mata dan wajah. Bila dalam 2 – 3 hari membaik pengobatan antibiotik dapat dilanjutkan selama 7 hari setelah keluhan membaik atau biasanya selama 10 – 14 hari.
  3. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Gejalanya anak tidak batuk, pembesaran kelenjar getah bening, demam >38 derajat Celcius, pembesaran dan tanda radang di amandel.
  4. Infeksi saluran kemih. Gejala pada anak <2 tahun biasanya demam, mual, muntah, gagal tumbuh, makan dan minum berkurang, rewel, sedangkan pada anak >2 tahun dengan gejala demam, nyeri perut, nyeri saat buang air kecil, dan dapat disertai mual muntah. Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan pemeriksaan kencing / urin dimana diagnosis pastinya dengan melakukan kultur urin.
  5. Penyakit Tifus. Penyakit ini mempunyai gejala demam >6 hari disertai adanya lidah kotor, gejala pencernaan seperti mual, muntah, diare, konstipasi, gejala neurologis seperti mengigau, nyeri kepala. Untuk mengetahui penyakit tifus harus dilakukan pemeriksaan darah seperti Tubex TF, IgM Salmonela, dan kultur darah gal/empedu. Anak usia di bawah 5 tahun yang mengalami infeksi virus sering mengalami overdiagnosis penyakit Tifus. Sering terjadi kesalahan persepsi dalam pembacaan hasil laboratorium. Infeksi virus dengan peningkatan sedikit pemeriksaan nilai widal sudah divonis gejala tifus dan dihantam dengan antibiotik.
  6. Infeksi Telinga Tengah. Anak awalnya batuk pilek yang tidak teratasi dan berkomplikasi menjadi infeksi telinga tengah dengan gejala demam, keluar cairan dari telinga berwarna keruh, berbau, disertai batuk pilek. Anak harus mendapatkan antibiotik dan dapat dilakukan pencegahan dengan menjaga hygiene, hindari terpapar infeksi dan pemberian vaksin pneumokokus.

Infeksi virus yang tidak memerlukan antibiotik antara lain adalah : batuk, pilek tanpa sesak, influenza, cacar air, gondong, campak, luka kecil, demam berdarah, diare cair tanpa darah, dan hepatitis. Dimana mayoritas infeksi virus bersifat self limiting disease / dapat membaik dengan sendirinya, yang penting anak perlu istirahat, makan minum yang cukup dan bergizi serta dapat diberikan obat-obatan untuk mengatasi gejalanya, seperti obat batuk pilek, obat demam.

Ada beberapa hal / tips yang harus diperhatikan orang tua pada saat menggunakan antibiotik :

  1. Antibiotik hanya untuk infeksi bakteri.
  2. Apabila sakit infeksi akibat virus, jangan meminta dokter untuk meresepkan antibiotik.
  3. Antibiotik hanya dengan resep dokter dan digunakan sesuai petunjuk dokter dan apoteker.
  4. Tanyakan pada dokter, apakah diagnosis penyakit anak anda dan apakah ada infeksi bakteri.
  5. Jangan membeli antibiotik tanpa resep dokter, atau menggunakan resep lama.
  6. Jangan memberi antibiotik sisa atau diresepkan untuk diri sendiri atau orang lain.

Maka dari itu bijaklah sebagai orang tua dalam melakukan pengobatan kepada anak, karena tidak semua penyakit memerlukan antibiotik, karena penggunaan antibiotik yang tidak rasional berisiko terjadinya resistensi antibiotik.