drg. Purnama Jaya, Sp.PM – Secara singkat aerodontalgia dapat diartikan sebagai sakit gigi yang terjadi di udara (aero = udara, odontalgia = sakit gigi). Beberapa pihak lebih menyukai istilah barodontalgia, karena sakit gigi yang terjadi berkaitan dengan adanya perubahan tekanan barometris. Dalam dunia penerbangan, aerodontalgia digolongkan sebagai penyakit dekompresi yaitu sebagai akibat terjadinya perbedaan tekanan udara / dekompresi. Sebagai akibat dari manuver pesawat terbang dengan ketinggian yang berubah-ubah secara cepat, banyak laporan masuk tentang kejadian tentang aerodontalgia yang gejalanya bervariasi dari sakit gigi yang terlokalisir sampai neuralgia yang kompleks.1

Aerodontalgia merupakan istilah untuk sakit gigi yang dialami oleh awak pesawat selama masa perang dunia II. Aerodontalgia yang mempengaruhi awak pesawat dan penumpang pesawat  adalah rasa sakit / nyeri yang dipengaruhi oleh gigi akibat perubahan derajat tekanan.2 Hukum Boyle yang menyatakan bahwa “pada suhu tertentu, volume gas adalah berbanding terbalik dengan  tekanan” dapat digunakan untuk menjelaskan aerodontalgia ini. Hukum Boyle diaplikasikan jika seseorang naik ke ketinggian (dalam penerbangan), dalam hal ini tekanan luar menurun sehingga menyebabkan volume gas meningkat.3 Masalah kemudian muncul jika ruang tertutup yang mengandung gas tidak dapat melebar atau berkontraksi untuk mengatur tekanan internal sehubungan dengan perubahan tekanan luar. Awak pesawat dan penumpang yang berada pada kabin tidak bertekanan berisiko terkena aerodontalgia. 4,5

Memahami, mencegah, dan menangani aerodontalgia jika diperlukan akan sangat penting jika mengharapkan penerbang dengan penampilan yang baik.6 Sebuah penelitian yang menggunakan pressure chamber sebagai simulator penerbangan menunjukkan bahwa pada beberapa situasi aerodontalgia cukup parah hingga dapat mempengaruhi keamanan penerbangan.7 Dahulu, aerodontalgia merupakan masalah khusus untuk penumpang selama penerbangan militer dimana di dalam pesawat tidak terdapat kabin bertekanan. Saat ini masalah tersebut dikaitkan secara khusus pada masyarakat umum yang dipengaruhi oleh penerbangan komersial.8,9 Rentang penyakitnya mulai dari rasa ngilu atau nyeri gigi biasa hingga rusaknya mukosa alveolar. Fenomena in mulai muncul pada ketinggian sekitar 3000 m  dimana tekanan ambientnya adalah 0,75.10,11

Diagnosis

Mendiagnosis sumber rasa sakit gigi akibat penerbangan tidaklah mudah. Rasa sakit yang berasal dari gigi maka biasanya merupakan gejala dari pulpitis reversible dan pulpitis ireversibel, nekrosis pulpa dan abses atau kista. Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan keaadan seperti gigi penyebab biasanya sudah berulang kali ditambal, apabila sakit terjadi saat pesawat menanjak maka biasanya gigi tersebut masih vital. Membuat klasifikasi aerodontalgia akan membantu mencari sumber penyebab dan perawatannya. Kelas I mempunyai gejala sakit akut saat menanjak didiagnosis sebagai pulpitis reversibel. Kelas II mempunyai gejala sakit tumpul saat menanjak didiagnosis sebagai pulpitis ireversibel. Kelas III mempunyai gejala sakit saat menukik didiagnosis sebagai nekrosis pulpa. Kelas IV dengan gejala sakit saat menanjak maupun menukik dan tidak berkurang saat di darat didiagnosis  adanya abses ataupun kista.12, 13

Bahan Dental

Telah digambarkan tanda dan gejala aerodontalgia seperti rasa sakit dan kerusakan fisik pada jaringan rongga mulut, namun klinisi juga perlu mengetahui pengaruh perubahan tekanan terhadap bahan dental tertentu dalam hal bond strength  dan microleakage / kerusakan mikro. Garis besar berikut penting untuk dipertimbangkan dalam pemakaian cast-crown untuk pasien yang secara teratur melakukan aktivitas yang berhubungan dengan tekanan barometrik.14

Lyons dan rekan kerjanya meneliti apakah siklus tekanan dapat menyebabkan mikroleakage pada gigi dengan mahkota full cast yang disementasi dengan zinc phosphate cement. Mereka juga meneliti apakah retensi mahkota ini juga dipengaruhi. Enam puluh premolar akar tunggal yang diekstraksi dibagi dalam 3 kelompok masing-masing dengan 20 gigi menurut semen yang digunakan. Setiap kelompok kemudian dibagi lagi kedalam 2 kelompok masing-masing 10 yang merupakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Masing-masing gigi eksperimen diberi perlakuan 15 siklus compression mulai dari 0 hingga 3 atmosferik dalam pressure chamber. Tekanan maksimum tercapai dalam 3 menit dan dipertahankan selama 3 menit, kemudian decompressi dilakukan setelah lebih dari 3 menit. Microleakage dijumpai pada semua gigi eksperimen dengan mahkota yang dilekatkan dengan zinc phosphate cement. Tujuh gigi pada kelompok eksperimen glass ionomer menunjukkan adanya microleakage selama siklus tekanan, dan tidak ada microleakage yang dijumpai pada kelompok resin cement.15

Lyons dan rekan kerjanya memberikan beberapa penjelasan untuk microleakage yang terjadi pada kelompok glass ionomer dan zinc phosphate termasuk kontraksi volumetrik atau  tekanan internal pada bahan, porositas yang disebabkan oleh campuran yang mengalami ekspansi dan yang berkontraksi selama siklus tekanan. Mereka memperkirakan bahwa microleakage mungkin tidak terjadi pada kelompok resin cement karena tubulus dentin terhambat oleh resin tag atau secara sederhana dikatakan bahwa fraktur dapat dicegah oleh karena bahan tersebut fleksibel.16, 17

Tensile bond strength semen juga diuji dengan menggunakan mesin uji universal (dengan kecepatan 0,5 mm/menit dan beban 100-kg). Hasilnya menunjukkan bahwa gaya yang diperlukan untuk mengeluarkan mahkota pada kelompok eksperimen dengan zinc phosphate hanya 10 dibanding dengan kontrol, untuk glass ionomer berkurang hingga setengah dibandingkan dengan kontrolnya. Siklus tekanan tidak mempengaruhi bond strength kelompok resin cement.  Berdasarkan hasil penelitian ini, ada kemungkinan bahwa aerodontalgia dapat terjadi akibat microleakage setelah berkurangnya perlekatan bond strength selama atau setelah siklus tekanan. Lyons dan rekan kerjanya menyarankan agar dokter gigi mempertimbangkan penggunaan resin cement untuk melekatkan protesa cekat pada pasien yang akan terekspose variasi tekanan yang nyata.18, 19

Reffered Pain

Aerodontalgia semu ini terjadi akibat penjalaran rasa sakit di daerah lain ke arah gigi geligi. Pada umumnya terjadi pada kelainan Aerotitis media dan Aerosinusitis. Kelainan Aerotitis media terjadi karena tertutupnya Tuba Eustachii menyebabkan tekanan udara dalam telinga tengah berbeda dengan tekanan udara luar sehingga menimbulkan rasa sakit yang dapat menyebar ke arah Temporo Mandibular Joint. Rasa sakit pada Aerosinusitis bersumber dari sinus maksilaris yang menjalar kearah gigi posterior rahang atas dan berlanjut sesudah penerbangan.1

Penanggulangan dan Penatalaksanaan

Apabila terjadi aerodontalgia maka tindakan yang perlu segera diambil adalah melakukan pendaratan atau turun sampai ketinggian yang aman. Namun hal ini tidaklah semudah yang dikatakan. Sebuah pesawat tidak bisa demikian saja mengubah ketinggian tanpa mengundang resiko kecelakaan. Semua pergerakan pesawat diatur diatur dari daratan dan perubahan ketinggian di luar kendali pengatur lalu lintas udara sama halnya dengan mengundang maut, terutama di jalur penerbangan yang padat. Risiko lainnya pada penurunan ketinggian yang dilakukan tiba-tiba akan membahayakan awak pesawat dan penumpang lainnya. Naiknya tekanan udara secara mendadak akan mengakibatkan perbedaan tekanan udara yang besar antara udara luar dengan rongga tubuh yang dapat mengakibatkan penyakit disbarisme misalnya autitis (rasa sakit hebat pada telinga bagian tengah).20

Tindakan pertama apabila rasa sakit terus berlangsung setelah mendarat adalah pemberian analgetika yang adekuat dan segera dilakukan observasi untuk mencari penyebab. Selanjutnya apabila telah diketahui maka perawatan dilakukan sesuai dengan kelainannya. 13

Pembahasan

Selama bertahun-tahun penyebab aerodontalgia merujuk pada tiga hipotesa penting untuk menjelaskan fenomena ini yaitu ekspansi gelembung udara yang terperangkap di bawah pengisian akar atau yang mendesak sehingga mendesak nocireseptor; Rangsangan terhadap nocireseptor pada sinus maksila dengan rasa sakit yang ditimbulkan oleh gigi; serta stimulasi oleh nerve endings pada pulpa yang mengalami inflamasi kronis. 16,17

Kebanyakan kasus aerodontalgia dihubungkan dengan gigi yang telah dipengaruhi oleh beberapa bentuk patologis. Secara klinis orang yang terkena aerodontalgia diketahui mengalami satu atau lebih kelainan patologis berikut yaitu infeksi periapikal akut maupun kronis, karies, restorasi yang dalam, kista dental residual. Sinusitis juga berpengaruh terhadap munculnya aerodontalgia, meskipun tidak berhubungan dengan adanya patologi gigi. Sebagai contoh, pasien yang mengalami rasa sakit di daerah infraorbital kiri serta di daerah kaninus kiri rahang atas dan molar pertama kiri rahang atas saat penerbangan komersial dan saat terbang dengan instruktur penerbang jet. Meski tidak ditemukan adanya patologi gigi, pasien mengalami kongesti ringan pada sinus maksila kiri dengan reffered pain pada gigi rahang atasnya. Barosinusitis dapat dibedakan dengan aerodontalgia dimana barosinusitis biasanya terjadi saat turun (descent) sedang aerodontalgia saat naik (ascent). Pengenalan gejala yang nampak hanya pada saat naik pada gigi (atau sinus) dipengaruhi oleh beberapa jenis patologi, peneliti menyimpulkan bahwa derajat tekanan adalah faktor yang berperanan, dan bukan merupakan penyebab sebenarnya dari masalah yang muncul.

Meski aerodontalgia tidak sering dijumpai, namun masalah ini tidak boleh diremehkan karena dapat berakibat serius terhadap keamanan awak pesawat dan penumpang pesawat. The Federation Dentaire Internationale (FDI) mengklasifikasikan aerodontalgia ke dalam 4 (empat) kelompok menurut tanda dan gejalanya mulai dari sedang hingga arah yaitu pulpitis reversibel, pulpitis ireversibel, nekrosis pulpa dan abses periapikal atau kista periapikal. Masing-masing kategori mengadung gambaran gejala klinis, temuan serta terapinya. FDI juga merekomendasikan checkup setiap tahun untuk awak pesawat dengan instruksi oral hygiene dari dokter gigi yang memahami kebutuhan kesehatan gigi mereka. Selain itu, pasien tidak terbang pada kabin tanpa tekanan dalam 24 jam setelah perawatan gigi yang membutuhkan anastesi atau 7 hari setelah perawatan bedah.18, 19

Kunci utama pencegahan aerodontalgia adalah kesehatan gigi yang baik. Jika menangani pasien yang melakukan aktivitas penerbangan, klinisi harus memberikan perhatian pada daerah dentin yang terbuka, karies, fraktur mahkota, tambalan dan kelainan periapikal. Jika pasien datang ke klinik dengan keluhan gejala  aerodontalgia, pemeriksa harus mengetahui apakah ada riwayat terbang baru-baru ini. Pemeriksaan harus mencakup perkiraan usia restorasi di daerah yang dicurigai, pemeriksaan karies dan restorasi yang buruk, tes perkusi pada gigi yang dicurigai, dan evaluasi respon terhadap rangsangan elektrik atau panas dan dingin serta pemeriksaan radiografi. Salah satu keuntungan klinis aerodontalgia adalah masalah ini membantu dokter gigi mengetahui lokasi karies awal, keretakan restorasi, dan gangguan periodontal. Pemakaian basis zinc oxide eugenol (ZOE) diketahui dapat mencegah aerodontalgia jika penyebabnya adalah pulpitis reversibel. Hal ini karena pengaruh sedatif ZOE yang telah lama diketahui. Penelitian lain menyarankan jika menangani pasien yang tereksposure perubahan tekanan yang besar lebih baik menghindari prosedur seperti pulpektomi dan pulp capping yang terbuka. Namun lebih diindikasikan perawatan endodontik.20

Aerodontalgia merupakan fenomena yang jarang dijumpai. Insidensi aerodontalgia dihitung rendah. Sebagai contoh, penerbang mungkin tidak melaporkan rasa sakit yang muncul karena mereka akan kesulitan dalam mendapatkan surat perintah terbang.

Nampaknya, kontroversi masih mewarnai etiologi pasti aerodontalgia dan mekanisme penyebab rasa sakitnya. Penelitian merupakan cara yang berguna untuk mengantisipasi, mengenali dan menangani fenomena ini, karena itu pencegahan adalah yang terbaik sebelum sesuatu yang mudah berubah menjadi sulit. Namun tercapai kesepakatan untuk 2 (dua) faktor : pengaruh derajat tekanan dan beberapa keadaan patologis pada jaringan rongga mulut atau sinus-sinus dapat menyebabkan munculnya gejala aerodontalgia. Populasi tertentu secara spesifik diidentifikasi mengalami risiko tinggi terkena aerodontalgia. Dokter gigi dapat memberikan diagnosis yang efisien serta penanganannya dengan merujuk guideline FDI serta dengan mengetahui bagaimana bahan dental tertentu berespon terhadap derajat tekanan. Meskipun kemunculannya telah lama diketahui, namun tetap diperlukan lebih banyak penelitian untuk meningkatkan pemahaman mengenai aerodontalgia.20 Sehingga dapat dipahami bahwa kebanyakan penelitian berasal dari militer oleh karena dampak potensial aerodontalgia terhadap aktivitas profesi  penerbang. Dengan jumlah penerbang yang nyata dalam militer, maka didapatkan lingkungan optimal untuk melaksanakan penelitian yang terkontrol disertai dengan follow up yang baik. Namun, pemahaman yang lebih baik mengenai diagnosis dan penanganan aerodontalgia merupakan tantangan yang perlu diperluas mencakup juga  pilot sipil.21, 22

“Di angkasa yang luas ini tidak ada ruang sekecilpun untuk melakukan sebuah kesalahan”. Ungkapan ini mempunyai makna yang mendalam karena memberi gambaran kepada kita semua bahwa dunia penerbangan yang sangat maju itu ternyata pada sisi yang lain juga sangat rawan terhadap kecelakaan yang mungkin berawal dari sebab yang sederhana. Hendaknya ungkapan itu merupakan peringatan kepada semua dokter gigi yang berhubungan dengan dunia penerbangan agar selalu waspada dalam menjalankan profesinya. Peningkatan pengetahuan tentang kesehatan penerbangan sangat diperlukan sebagai bentuk peran serta profesi dokter gigi dalam mewujudkan penerbangan yang aman.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Prajogo H. Problema Kesehatan Gigi Dalam Penerbangan. Temu Ilmiah Dokter Gigi TNI-Polri, Jakarta, 2004; 8-16.
  2. Holowatyj R. Barodontalgia Among Flyers : a Review of Seven Cases. J Can Dent Assoc 1996; 62(7):578-84.
  3. Kieser J, HolborowD. The Prevention and Management of Oral Barotraumas. N Z Dent J 1997; 93(414):114-6.
  4. Kollmann W. Incidence and Possible Causes of Dental Pain During Simulated High Altitude Flights. J Endod 1993; 19(3):154-9.
  5. Lyons KM, Rodda JC, Hood JA. Barodontalgia : a Review, and The Influence of Simulated Diving on Microleakage and on The Retention of Full Cast Crowns. Mil Med 1999; 164(3):221-7.
  6. Rauch JW. Barodontalgia – Dental Pain Related to Ambient Pressure Change. Gen Dent 1995; 33(4):313-5.
  7. Calder IM, Ramsey JD. Odontecrexis the Effects of Rapid Decompression on Restorated Teeth. J Dent 1993; 11(84):318-23.
  8. Jagger RG, Jackson SJ, Jagger DC. In At The Deep End-An Insight Into Scuba Diving and Related Dental Problems For GDP. Br Dent J 1997; 183(10):380-2.
  9. Goethe WH, Bater H, Laban C. Barodontalgia and Barotraumas In The Human Teeth; Finding In Navy Divers, Frogmen, and Submarines of The Federal Republic of Germany. Mil Med 1999: 154(10):491-5.
  10. Cohen SG and Brightman VJ. Chronic Oral Sensory Disorders Pain and Abnormalities of Taste In : Lynch MA. Eds. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment. Ed 9. Lippincott. Philadelphia. 1994 : 325-78.
  11. Dolby AE. Oral Mucosa In Health and Disease. Ed 1. J.B. Lippincott. Co. Philadelphia 1994. 249-250.
  12. Direktorat Kesehatan TNI AU. Dasar-dasar Ilmu Kesehatan Penerbangan, Jakarta, 1995; 80-82
  13. Goeswin A. Obat-obatan Dalam Penerbangan ; PERKESPRA Cabang Bandung, 2001; 2-5.
  14. Subagyo G. Kausa dan Implikasinya pada Penerbangan. Ceramah Ilmiah Kesbangan, Yogyakarta, 2003; 4-5.
  15. Hoediyono. Batasan Kondisi Kesehatan Penumpang Pesawat Udara. Farmacia Ethical Digest, 2003; 76-78.
  16. USAF School of Aerospace Medicine; Flight Surgeon Guide Brooks AFB. Texas, 1992;12-24.
  17. Manual of Civil Aviation Medicine, Second Edition, ICAO, 1985; 3-7.
  18. Harding RM, Mills FJ. Aviation Medicine, Second Ed, British Medical Journal, 1988; 83-96.
  19. Dhenin SG, Ernsting J, Sharp GR, Aviation Medicine, Trimed Books Limited, London, 1998; 60-83.
  20. Suhel. Aerodontalgia dan permasalahannya; Ceramah Ilmiah Kesbangan, Jakarta, 1999; 3-5.
  21. Petunjuk Kesehatan tentang Pelakasanaan Dukungan Medik pada Operasi Pengungsian Medik Udara, Skep/38/III/1986, tgl 27 Maret 1986.
  22. Hidayat A. Bunga Rampai Kesehatan Penerbangan. Ceramah Ilmiah Kesehatan Penerbangan, Bandung, 2001; 22-24.