Waspada Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD)

dr. Hanif Mustikasari – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, DBD telah menjadi penyakit endemik di Indonesia sejak tahun 1968. Sejak itu, penyakit ini menjadi salah satu masalah utama di Indonesia, dengan penyebaran dan jumlah penderita yang cenderung meningkat setiap tahun. Akhir tahun 2018 ini, wabah DBD diketahui telah melanda di beberapa daerah di Indonesia hingga menyebabkan kematian. Penyebab paling sering adalah ketidaktahuan masyarakat tentang gejala DBD sehingga seringkali terlambat saat dibawa ke fasilitas kesehatan, padahal seharusnya penyakit ini bisa dicegah.

Gejala DBD bervariasi tergantung derajat keparahan penyakit dan daya tahan tubuh penderita. Demam dengue adalah bentuk ringan dari infeksi virus dengue. Demam dengue dimulai dengan gejala demam klasik, seperti demam tinggi mendadak selama 2-7 hari disertai dua atau lebih gejala berikut : nyeri kepala, nyeri periorbita, nyeri otot dan tulang, mual muntah, ruam kulit, leukopenia, atau IgM/IgG positif. Gejala DBD sama dengan gejala demam dengue tetapi disertai dengan tanda kebocoran plasma (uji bendung positif, petekie / ekimosis / purpura, perdarahan mukosa, mimisan, perdarahan gusi, muntah darah/ BAB hitam), pembesaran liver, hingga terjadi syok. Dari hasil laboratorium dan penunjang dapat dilihat trombosit ≤ 100.000/μl, peningkatan hematokrit ≥ 20% dari nilai standar, atau adanya efusi pleura / asites / hipoproteinemia.

Pada kasus demam dengue / DBD ringan dapat dilakukan tatalaksana awal di rumah, seperti istirahat tirah baring, minum banyak cairan, dan minum obat penurun demam. Namun, jika gejala memberat dengan tanda-tanda perdarahan seperti di atas, segera bawa ke dokter / fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut, terutama jika ada anggota keluarga lain atau tetangga dekat rumah yang telah terbukti menderita DBD.

Peran serta masyarakat dalam menanggulangi wabah DBD sangat menentukan sebagai upaya pencegahan dan perlu terus dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun, khususnya pada musim penghujan. Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dapat dilakukan secara mandiri oleh setiap keluarga dengan cara 3M Plus. Program PSN dengan 3M antara lain :

1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain;

2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya;

3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD.

Adapun yang dimaksud dengan ‘Plus’ adalah tambahan segala bentuk kegiatan pencegahan seperti : 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang dapat menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain. Selain PSN 3M Plus, sejak Juni 2015 Kemenkes sudah mengenalkan program 1 rumah 1 Jumantik (juru pemantau jentik) untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat DBD. Gerakan ini merupakan salah satu upaya preventif mencegah DBD dari mulai pintu masuk negara sampai ke pintu rumah. Dengan demikian, peran aktif masyarakat dalam upaya pencegahan DBD melalui PSN 3M-Plus memiliki peranan penting dalam penurunan angka kejadian dan kematian akibat DBD.

 

Sumber :

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017). Pusat Data dan Informasi. Profil Kesehatan Indonesia 2017. www.depkes.go.id. (Diakses 6 Februari 2019).
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016). Pusat Data dan Informasi. Situasi DBD di Indonesia. www.depkes.go.id. (Diakses 6 Februari 2019).
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016). Pusat Data dan Informasi. Kendalikan DBD dengan PSN 3M-Plus. www.depkes.go.id. (Diakses 6 Februari 2019).
  4. World Health Organization (WHO) (2009). Dengue : Guideline for diagnosis, treatment, prevention, and control. www.who.int/tdr/publications/documents/dengue-diagnosis.pdf. (Diakses 6 Februari 2019).
  5. International Hospital Care for Children (2016). Dengue Viral Infection. http://www.ichrc.org. (Diakses 6 Februari 2019).