Rehabilitasi Medik Pada Penderita Tumor Otak

dr. Dodi Pridianto, Sp.KFR – Batasan dan uraian umum tumor atau neoplasma yang mempengaruhi sistem saraf dikatakatan primer jika berkembang dari sel sistem saraf itu sendiri atau sekunder (metastasis) jika dibawa oleh darah ke sistem saraf dari tumor primer lainnya (seperti bronkus, payudara).

Tumor otak adalah tumor dari jaringan otak yang berada di dalam kranium atau kanalis spinalis sentral. Tumor otak disebabkan oleh pembelahan sel yang abnormal dan tidak terkontrol termasuk jaringan limfatik, pembuluh darah, saraf otak, meningen, tulang tengkorak, kelenjar hipofisis, atau pineal body. Tumor jaringan otak melibatkan neuron atau sel glia  (mencakup astrosit, oligodendrosit, dan sel ependimal). Sel otak dengan sifat abnormal tersebut dapat berfungsi sebagai penyebar dari kanker primer otak pada organ lain (metastasis tumor).

Penyebab :

Penyebab pasti dari tumor otak sulit diketahui dengan pasti. Faktor risiko untuk terjadinya tumor otak :

  • Laki-laki terutama ras kaukasia.
  • Umur : tersering terjadi pada usia > 70 tahun, dan < 8 tahun.
  • Riwayat keluarga yang terkena tumor otak.
  • Terpapar radiasi atau bahan kimia di tempat kerja :

–     Radiasi, pada pekerja industri nuklir.

–     Formaldehid, pada ahli patologi atau orang yang membalsem.

–     Vinyl chloride, pada pekerja yang membuat plastik.

–     Acrylonitrile, pada pekerja pabrik tekstil dan plastik.

Gejala

Gejala klinis dari tumor otak tergantung volume, lokasi neuroanatomis, symptom onset (slow growing and fast growing).

Gejala yang ditimbulkan tumor intrakranial melalui mekanisme :

  1. Space-occupying lesion : suatu massa yang mendesak ruang dan menyebabkan tekanan di dalam intrakranial meningkat.
  2. Tumor dapat memampatkan ventrikel atau bagian dari jalur CSF dan membendung aliran, dan akhirnya meningkatkan tekanan.
  3. Tumor menekan atau merusak bagian otak secara langsung yang  menimbulkan gejala dan tanda yang berlangsung perlahan-lahan, meluas dan menjadi lebih buruk.

Gejala dibagi dalam 3 kategori utama :

  1. Gejala peningkatan tekanan intrakranial : sakit kepala, muntah (biasanya pada sakit kepala yang hebat), diploplia, pandangan kabur pada saat gerakan kepala, mengantuk (meningkat dan progresif dan menyebabkan koma, dilatasi pupil dengan gagal untuk bereaksi terhadap cahaya, dan papil edema (pembengkakan disk optik).
  1. Disfungsi : tergantung dari lokasi tumor dan kerusakan yang  ditimbulkan pada stuktur di sekitarnya, baik secara kompresi maupun infiltrasi. Gejala yang timbul berupa defisit fokal seperti gangguan kognitif dan perilaku, perubahan personalitas dan emosional, hemiparesis, hipoestesia, afasia, ataxia, gangguan lapang pandang, gangguan penciuman, pendengaran, hemiplegia, gangguan menelan, dan lain-lain, tergantung lokasi dan sistem fungsional (sensorik, motorik, otonom) yang dipengaruhi.
  2. Iritasi : fatigue abnormal, kelelahan, tremor, kejang epilepsi.

Klasifikasi

  • Tumor otak sekunder, merupakan metastasis tumor dari organ lain  melalui pembuluh limfe dan pembuluh darah, seperti kanker paru, kanker payudara, melanoma maligna, kanker ginjal dan kanker kolon.
  • Berdasarkan perilaku tumor, dapat berupa kanker (ganas) dan non  kanker (jinak).

Karakteristik tumor ganas :

–    Mitosis tidak terkontrol

–    Anaplasia

–    Invasi atau infiltrasi

–    Metastasis (namun pada tumor otak primer jarang bermetastasis ke organ lain).

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium
  • Pemeriksaan elektrofisiologi (EEG)
  • EEG
  • CT scan
  • MRI
  • Pemeriksaan histologi jaringan tumor (biopsy, open surgery)

Tatalaksana Rehabilitasi

Penatalaksanaan rehabilitasi tergantung dari berbagai aspek pengobatan yang akan diberikan :

  1. Bedah : reseksi total atau parsial, stereotactic surgery.
  2. Radioterapi (perlu diperhatikan efek sampingnya).
  3. Kemoterapi (perlu diperhatikan efek sampingnya).
  4. Tingkat gradasi dari tumor otak dan prognosis.
  5. Hal lain seperti pemasangan shunt.

Selain kelima aspek di atas, maka penanganan rehabilitasi pada tumor otak juga tergantung pada gangguan fungsi yang terjadi akibat tumor ataupun terapi yang diberikan, misalnya gangguan ambulasi dan mobilisasi akibat hemiplegi, gangguan kognisi, gangguan menelan.

Pada kondisi akut rehabilitasi yang diberikan prinsipnya tidak jauh berbeda dengan rehabilitasi pasien stroke dan cedera kepala, dan terapi yang diberikan tidak boleh menimbulkan peningkatan tekanan intrakranial.

Setelah kondisi medis dan neurologis stabil (fase akut terlewati) dilakukan berbagai program terapi yang lebih aktif sesuai proses pemulihan. Berbagai teknik rehabilitasi itu berupa :

  • Paliatif care pada kasus yang didiagnosis paliatif dan terapi spiritual.
  • Penanganan nyeri dengan berbagai modalitas dan teknik rehabilitasi termasuk medikamentosa.
  • Terapi kognitif : meliputi pengembalian fungsi yang mengalami impairmen, dan meningkatkan kompensasi dari area yang mengalami defisit melalui training, atau latihan  meliputi atensi, memori, dan konsentrasi dari sistem kognisi dan berbagai proses daya pikir lain.
  • Psiko terapi : mengatasi masalah depresi, anxietas dan gangguan tidur dengan memberikan support dan konseling.
  • Rehabilitasi kemampuan komunikasi.
  • Rehabilitasi pada gangguan menelan (disfagia).
  • Rehabilitasi kemampuan sensorimotor.
  • Rehabilitasi kardiovaskular.
  • Rehabilitasi kemampuan ADL.
  • Evaluasi kecacatan dan terapi vokasional.

 

 

Daftar Pustaka

  1. Pansky B, Allen DJ, Colin Budd G. Review of Neuroscience. 2nd ed. Macmillan Publishing Company. 1988. p 330.
  2. Vargo MM, Riutta JC, Franklin DJ. Rehabilitation for Patient with Cancer and Diagnoses. In: DeLisa JL et al. Physical Medicine and Rehabilitation Principles and Practice. 5th ed. Lippincott Williams and Wilkins.  Philadelphia ; 2010. p 1171-2.
  3. Vargo. Brain Tumor Rehabilitation.Am J Phys Med Rehabil. 2011.
  4. Rupa Parvataneni. Identifying the needs of brain tumor patients and their caregivers. J Neurooncol. 2011 September; 104(3): 737–744.