Pola Makan, Kegemukan, dan Diabetes Mellitus

Tri Wiji Utami, S.Gz – Peningkatan pendapatan dan perubahan gaya hidup menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, Diabetes Mellitus (DM), hiperlipidemia, dan lain-lain.

Peningkatan prevalensi DM terutama tipe 2, disebabkan karena beberapa faktor diantaranya adalah kegemukan atau obesitas. Kegemukan erat hubungannya dengan perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat, makan berlebihan, hidup santai dan kurang berat badan.

Kegemukan sebagai Faktor Risiko Diabetes Mellitus (DM)

Pada orang dengan kegemukan, karena asupan makanan yang berlebih kelenjar pankreas akan bekerja lebih keras untuk menormalkan kadar gula darah akibat asupan makanan yang berlebihan. Pada awal memang kelenjar pankreas masih mampu mengimbangi dengan memproduksi insulin yang lebih banyak, sehingga kadar glukosa darah masih dapat dijaga agar tetap normal. Akan tetapi suatu ketika sel beta kelenjar pankreas menjadi kelelahan dan tidak akan mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengimbangi kelebihan asupan kalori melalui makanan. Akibatnya kadar glukosa darah akan meningkat dan orang tersebut mengalami gangguan pengaturan kadar glukosa darahnya (toleransi glukosa terganggu) dan akhirnya akan menjadi DM.

Pada kegemukan terjadi pengaturan kerja insulin yang tidak normal (resistensi insulin) akibat adanya lemak yang berlebih dan pada gilirannya akan menyebabkan kemampuan sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin akan menurun sehingga terjadilah DM.

Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu lama dan melibatkan banyak orang di beberapa negara membuktikan bahwa pada orang dengan gangguan toleransi glukosa, dengan perubahan pola hidup yang baik dan dipantau secara intensif, kemungkinan terjadinya DM dapat dikurangi sampai 50 %.

Pengaturan Makan Untuk Mencegah Diabetes Mellitus

Anjuran makan bagi mereka yang tidak atau belum menderita DM hampir sama dengan penyandang DM. Bahkan bagi yang belum menyandang DM akan sangat baik bila mengikuti anjuran makan untuk DM. Hal ini diharapkan dapat mencegah dan memperlambat tercetusnya DM.

Penerapan prinsip makanan seimbang dalam pola makan sehari-hari dan dikonsumsi dengan frekuensi dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dapat mencegah kegemukan. Akan tetapi bila sudah terjadi kegemukan, maka penurunan berat badan dengan menerapkan diet rendah kalori menjadi salah satu cara untuk mencegah terjadinya DM. Penurunan berat badan dapat memperbaiki kadar glikemik jangka pendek dan mempunyai potensi meningkatkan kontrol metabolik jangka lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan ringan atau sedang (5-10 kg) terbukti dapat meningkatkan kontrol diabetes, meski pun berat badan idaman tidak tercapai.

Penurunan berat badan dapat diusahakan dicapai dengan mengurangi atau menurunkan asupan energi yang moderat dan meningkatkan pengeluaran energi melalui olahraga atau aktivitas fisik lain. Pembatasan kalori yang dianjurkan adalah pembatasan kalori sedang yaitu berkisar 250-500 kkal lebih rendah dari  asupan rata-rata sehari. Hasil penelitian membuktikan bahwa penerapan diet dengan kalori sangat rendah tidak efektif untuk mencapai penurunan berat badan dalam jangka lama.

Penerapan diet ini ditekankan pada tujuan pengendalian kadar glukosa dan kadar lipid, sehingga dalam perencanaan makanan sehari selain memperhitungkan kecukupan kebutuhan zat gizi juga disertai pengurangan total lemak terutama lemak jenuh. Pembagian waktu pemberian makanan juga diatur sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi tersebar sepanjang hari.

Panduan Praktis Pengaturan Makanan Seimbang

  1. Makanlah aneka ragam makanan. Tidak ada satu pun jenis bahan makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan orang agar dapat hidup sehat dan produktif. Makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Idealnya setiap kali makan terdiri dari 4 kelompok hidangan : makanan pokok, lauk-pauk, sayur dan buah. Contoh panduan yang paling terkini adalah ‘Isi Piringku’.

Sumber Zat Tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari. Sumber zat tenaga berasal dari makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat yang dianjurkan berasal dari karbohidrat kompleks antara lain : beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti, mie, bihun, dan lain-lain. Jumlah porsi yang dianjurkan berkisar 3-8 porsi/hari. Batasi sumber zat tenaga yang mengandung lemak dan gula murni. Hindari minuman beralkohol. Bahan makanan yang mengandung lemak antara lain : minyak, margarine dan santan.

Sumber Zat Pembangun. Zat pembangun atau protein berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan penyembuhan. Sumber zat pembangun yang berasal dari nabati antara lain tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Sedangkan yang berasal dari hewani antara lain telur, ikan, ayam, daging dan susu serta hasil olahnya. Jumlah porsi yang dianjurkan masing-masing 2-3 porsi sehari.

Sumber Zat Pengatur. Zat pengatur berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh. Makanan sumber vitamin dan mineral ini banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Mengkonsumsi sayur 3-5 porsi sehari dan 2-3 porsi sehari sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan serat harian.

  1. Makanlah secukupnya, penuhi kecukupan energi. Tidak berlebihan tapi juga tidak kekurangan. Kecukupan energi ditandai dengan berat badan normal. Cukup energi untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti bekerja, belajar, berolahraga dan kegiatan lain.
  2. Membiasakan makan secara teratur, yang terdiri dari 3 kali makan utama (pagi, siang, malam) dan 1-2 kali makanan selingan. Dianjurkan porsi makan malam lebih sedikit dibandingkan dengan porsi makan pagi dan siang.
  3. Konsumsi cairan dalam jumlah cukup. Pada kondisi dewasa sehat minum 8-10 gelas air putih dapat memenuhi kebutuhan cairan harian.