Penyakit Ginjal Diabetik

dr. Taufik Hidayat, Sp.PD – Jumlah penduduk dunia penyandang Diabetes Mellitus (DM) pada tahun 2017 adalah kurang lebih 424 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat menjadi 628 juta jiwa pada tahun 2045. Indonesia menduduki peringkat ke 6 jumlah penyandang diabetes yaitu kurang lebih 10,3 juta jiwa. Semakin meningkatnya jumlah penyandang diabetes berhubungan dengan kurangnya aktifvitas fisik dan diet yang tidak terkontrol.

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan diabetes adalah pencegahan / penanganan komplikasi dari DM. Salah satu komplikasi serius yang harus diperhatikan adalah Penyakit Ginjal Diabetik (Nefropati Diabetik).

Penyakit ginjal diabetik merupakan penyebab utama dari gagal ginjal tahap akhir. Sekitar 20-40 % penyandang diabetes akan mengalami nefropati diabetik. Penyakit ginjal tahap akhir yang berkaitan dengan DM adalah antara 12-55%. Penyandang DM memiliki risiko 10 kali lipat lebih tinggi untuk terkena penyakit ginjal tahap akhir dibandingkan dengan orang tanpa diabetes. Diabetes dengan komplikasi  ginjal membutuhkan biaya 50 % lebih tinggi dibandingkan dengan diabetes tanpa gangguan ginjal.

Penyakit ginjal diabetik dimulai dengan dikenalinya albuminuria pada pasein DM, baik tipe 1 maupun tipe 2. Apabila jumlah protein / albumin di dalam urin masih sangat rendah sehingga sulit dideteksi dengan metode pemeriksaan urin yang biasa, akan tetapi sudah > 30mg/24 jam ataupun > 20 ug /menit, hal ini disebut sebagai mikroalbuminuria.

Gejala-gejala penyakit ginjal diabetik di antaranya adalah mudah lelah, kaki bengkak, air kencing berbusa, penurunan fungsi penglihatan (retinopati diabetik). Pasien-pasien dengan komplikasi / komorbid penyakit pembuluh darah tepi, hipertensi, atau penyakit jantung koroner; sering juga tedapat komplikasi penyakit ginjal diabetik.

Diagnosis penyakit ginjal diabetik ditegakkan jika didapatkan kadar albumin >30 mg dalam urin 24 jam pada 2 dari 3 kali pemeriksaan dalam kurun waktu 3-6 bulan tanpa penyebab albuminuria yang lain. Penyebab lain yang bisa menyebabkan proteinuria / albuminuria adalah latihan fisik dalam 24 jam terakhir, infeksi, demam, payah jantung, gula darah tinggi, tekanan darah yang sangat tinggi, kencing bernanah, atau kencing berdarah.

Gambar 1. Skrining Mikroalbuminuria

Tabel 1. Albuminuria

Setelah ditegakkan diagnosis mikro atau makroalbuminuria, pasien harus menjalani evaluasi lengkap termasuk pemeriksaan untuk faktor penyebab lain, penilaian fungsi ginjal dan ada / tidaknya hubungan dengan faktor komorbid lainnya.

Tabel 2. Tahap-tahap Penyakit Ginjal Diabetik

Penatalaksanaan penyakit ginjal diabetik ditujukan untuk mencegah perkembangan dari mikro menjadi makroalbuminuria, mencegah penurunan fungsi ginjal dan mencegah munculnya kejadian kardiovaskuler. Terapi dasar adalah kendali kadar gula darah, kendali tekanan darah, dan kendali lemak darah, disamping itu perlu pula dilakukan upaya mengubah gaya hidup seperti pengaturan diet, menurunkan berat badan berlebih, latihan fisik, menghentikan kebiasaan merokok.

Umumnya dewasa ini disepakati pemberian diet mengandung protein sebanyak 0,8-1 g/kgBB/hari. Daging ayam lebih dianjurkan daripada daging sapi, karena rendahnya lemak jenuh dan tingginya asam lemak tak jenuh pada daging ayam. Pemberian garam dibatasi kurang dari 5-6 g/hari.

Pengendalian gula darah yang intensif dapat menurunkan hipertrofi dan hiperfiltrasi glomerular, menurunkan mikroalbuminuria. Target pengendalian diabetes melitus yang terdapat penyakit ginjal adalah kadar HbA1c sekitar 7% yaitu rata-rata gula darah sekitar 150 mg/dl. Terget HbA1c bisa lebih longgar di atas 7% jika terdapat penyakit penyulit yang lain atau risiko kejadian hipoglikemi yang tinggi seperti pada usia lanjut.

Pada umumnya target tekanan darah pada penyakit ginjal diabetik diupayakan kurang dari 130/90. Jika terdapat proteinuria berat (>1 g/24 jam), target perlu diturunkan lagi sampai kurang dari 125/75. Obat-obat penurun tekanan darah yang dianjurkan adalah dari golongan angiotensin converting enzyme inhibitor seperti captopril, lisinopril; dan golongan angiotensin receptor blocker seperti candesartan. Golongan obat di atas dapat menurunkan albuminuria sehingga dapat memperlambat progresi dari penyakit ginjal diabetik.

Dislipidemia pada penderita diabetes dengan penyakit ginjal kronik juga perlu dikendalikan karena kejadian kardiovaskuler sebagai penyebab kesakitan atau kematian cukup sering pada populasi ini. Target kolesterol LDL sekitar < 100 mg/dl untuk pasien DM secara umum dan <70 mg/dl untuk pasien DM dengan risiko kardiovaskuler.

Pencegahan Onset dan Perburukan Penyakit Ginjal Diabetik

  • Mencapai tekanan darah normal.
  • Pengaturan diet asupan garam <6 g/hari, protein 0,8-1 g/kg BB / hari.
  • Kontrol gula darah.
  • Berhenti merokok
  • Kendali kadar lemak darah.
  • Penurunan berat badan berlebih, olahraga aerobik secara teratur.
  • Hindari obat-obatan yang tidak aman untuk ginjal.