Pengaturan Makan pada Diabetisi dan Hipertensi Saat Ramadhan

Dian Eka Sari, S.Gz – Umat muslim pada saat ini sudah menjalani puasa Ramadhan hampir 2 (dua) minggu. Akan tetapi belum ada kata terlambat untuk kembali mengatur bagaimana aturan makan yang dianjurkan selama berpuasa, tidak terkecuali untuk pasien diabetes (diabetisi) dan hipertensi.

Nah, apakah diabetisi boleh berpuasa? Tentu. Apabila diabetes terkontrol diperbolehkan untuk berpuasa terlebih apabila tidak mengganggu kesehatan. Jumlah energi atau kalori yang dibutuhkan diabetisi yang diperbolehkan puasa sama seperti apabila tidak sedang berpuasa. Selain itu perlu adanya pengaturan dan distribusi makanan serta obat-obatan.

Diabetes tidak terkontrol apabila berpuasa dapat timbul komplikasi yang berat (yaitu ketoasidosis, pada diabetisi yang gula darahnya masih tinggi >250 mg/dl sumber energi dari hati tidak mencukupi, sehingga lebih cepat dipergunakan cadangan energi dari lemak dan otot. Penggunaan energi dari lemak menghasilkan keton yang apabila dalam jumlah besar merupakan racun bagi tubuh) dan dehidrasi berat.

Tujuan pengaturan makanan antara lain memberikan energi yang cukup, pengendalian kadar glukosa darah tercapai, mencapai kadar lemak darah yang optimal, mencegah komplikasi dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal. Oleh karena itu, diabetisi sangat penting untuk mengatur bagaimana pembagian proporsi makan pada saat berpuasa. Seperti :

  1. Buka Puasa : 50% dari kebutuhan energi sehari. (a)  Sebelum Sholat Magrib : makanan ringan (10%). Seperti : buah, koktail, sari buah atau kurma. (b)  Sesudah Sholat Magrib : makanan utama (50%). Seperti : karbohidrat (nasi, kentang, roti putih atau pengganti karbohidrat yang lain), sayur, lauk hewani, lauk nabati, dan air putih.
  1. Sesudah Sholat Tarawih : makanan ringan / buah (10%) dari total kebutuhan sehari. Misal buah, roti, gandum ½ porsi tidak manis, susu khusus untuk diabetes ½ porsi.
  2. Sahur : makanan utama 40% dari total kebutuhan sehari. Makanan pokok (karbohidrat) diutamakan karbohidrat kompleks, sayur, lauk hewani, lauk nabati, buah, air putih atau teh dengan gula khusus diabetes.

Meskipun berpuasa tetapi tetap aman… Jadi, diabetisi sebaiknya tetap konsultasi dahulu dengan dokter apabila ingin berpuasa karena ada kriteria seorang diabetisi yang diperbolehkan untuk berpuasa.

Tips berpuasa dengan aman :

  1. Tetap aktif secara fisik dengan tetap memperhatikan kegiatan olahraga yang disarankan.
  2. Hindari aktifitas fisik berlebihan selama puasa karena dapat memicu gula darah.
  3. Olahraga dapat dilakukan setelah makan utama buka puasa. Kegiatan tarawih dapat memberikan manfaat karena mempertahankan keaktifan fisik.
  4. Jangan lupa kemungkinan perubahan jadwal dan jumlah obat yang harus diminum atau jumlah insulin maupun waktu penyuntikan insulin (konsultasi dengan petugas medis.
  5. Makan sahur mendekati imsak (menghindari hipoglikemia).
  6. Kenali tanda-tanda hipoglikemia : keringat dingin, pandangan mata kabur (seperti mau pingsan), gemetar, dan lain-lain.

Kriteria diabetisi yang diperbolehkan untuk berpuasa :

  1. Kadar gula darah terkontrol (GDP 80-126 mg/dl, 2 jam setelah makan 80-180 mg/dl).
  2. Tidak menggunakan suntikan insulin lebih dari 2 kali sehari.
  3. Fungsi liver / hati baik.
  4. Fungsi ginjal baik.
  5. Tidak ada gangguan pembuluh darah otak.
  6. Tidak ada kelainan pembuluh darah jantung.
  7. Tidak ada kelainan hormonal lain.
  8. Tidak demam tinggi.

Selain diabetisi, pasien hipertensi pun juga demikian. Penatalaksanaan hipertensi salah satu di antaranya dengan membatasi konsumsi garam terutama garam dapur, makanan instan, dan penyedap rasa. Tapi bagaimana cara membatasi asupan garam tersebut?

Sebenarnya kebutuhan natrium orang normal kisaran 2000 mg/hari atau 1 (satu) sendok teh per hari. Namun kebanyakan orang pada saat ini mengkonsumsi natrium berlebih bukan hanya dari garam saja melainkan terlalu sering makan makanan kemasan yang natriumnya terlalu tinggi. Sehingga untuk membatasi asupan natrium berlebih, maka harus dibatasi pula makanan kemasan / olahan pabrik (MSG) dan diganti dengan bahan makanan alami dan garam meja.