Penatalaksanaan Diet pada Penyakit Hati

Agus Winarni, SKM – Hati merupakan organ tubuh yang paling besar dan memiliki banyak fungsi yang kompleks. Hati adalah salah satu organ penting di dalam tubuh manusia, organ ini merupakan organ tubuh dengan fungsi terbanyak dan juga merupakan salah satu organ dalam metabolisme zat gizi, misalnya : Karbohidrat, Protein, Lemak, Alkohol, Vitamin dan Mineral.

Hati  mempunyai  peranan yang sangat penting , maka tidak heran jika hati akan berisiko mengalami kerusakan akibat  adanya virus yang ikut terserap di dalamnya. Fungsi lain dari hati adalah mengekskresikan zat-zat beracun yang terbentuk dalam tubuh, tetapi tidak dapat diekskresikan melalui ginjal, karena molekul yang ada di dalamnya terlalu besar atau tidak larut dalam air, seperti bilirubin. Selain itu hati juga sangat penting dalam memproduksi protein-protein khusus seperti albumin dan fibrinogen.

Disamping itu hati mempunyai banyak fungsi menurut Tortora dan Anagnostakos (1992). Fungsi hati  yaitu :

Metabolisme Karbohidrat

Pada metabolisme karbohidrat, hati berperan penting dalam menjaga kenormalan kadar gula darah. Hati akan mengubah glukosa menjadi glikogen (glikogenesis) saat kadar gula darah tinggi serta mengubah glikogen menjadi glukosa (glikogenolisis) dan mengubah asam amino menjadi glukosa (glukoneogenesis) saat kadar gula darah rendah. Hati  juga dapat mengubah fruktosa dan galaktosa menjadi glukosa serta mengubah glukosa menjadi  lemak.

Metabolisme  Lemak

Hati memecah asam lemak menjadi asetil koenzim A (beta oksidasi), mengubah kelebihan asetil koenzim A menjadi keton (ketogenesis) mensintesis lipoprotein, kolesterol dan fosfolipid, memecah kolesterol menjadi garam empedu, dan menyimpan lemak.

Metabolisme Protein

  1. Deaminasi asam amino, yaitu pelepasan gugus amina (NH2) sehingga asam amino bisa digunakan sebagai sumber energi atau dikonversi menjadi  karbohidrat dan  lemak.
  2. Konversi Amonia (NH3) yang bersifat racun menjadi ureum yang kemudian diekskresikan melalui urine. Amonia dihasilkan dari proses deaminasi dan bakteri  yang ada pada saluran pencernaan.
  3. Sintesis sebagian besar plasmaprotein, seperti alfa dan beta globulin, albumin, protrombin dan fibrinogen.
  4. Transaminasi, yaitu pemindahan gugus amina dari suatu asam amino ke subtansi lain (asan keto) sehingga menghasilkan satu asam amino baru dan satu asam keto baru.

Merubah Obat dan Hormon

Hati  dapat mendetoksifikasi atau mengekskresikan ke dalam empedu berbagai jenis obat seperti, penisilin, ampisilin, erithromisin, dan sulfonamid. Hati secara kimia juga dapat merubah atau mengekskresikan hormon steroid seperti estrogen, aldosteron, dan tiroksin.

Ekskresi Empedu (Bilirubin)

Bilirubin yang merupakan turunan hem dari sel darah merah yang sudah tua, diserap hati dari darah dan diekskresikan ke dalam empedu. Kebanyakan bilirubin pada empedu dimetabolisme di usus oleh bakteri dan dikeluarkan melalui feses.

Sintesis Garam Empedu

Garam empedu digunakan usus  halus untuk emulsifikasi dan absorpsi lemak, kolesterol, fosfolipid, dan lipoprotein.

Penyimpanan

Hati berfungsi sebagai tempat penyimpanan glikogen, vitamin ( A, B12, D, E, dan K) dan Mineral (FE dan Cu/……..). Sel hati mengandung protein yang disebut apofetitin yang bergabung dengan besi membentuk feritin. Feritin merupakan bentuk mineral besi yang disimpan di hati dan dapat dilepas saat dibutuhkan.

Fagositosis

Sel kupffer hati mengfagositasi sel darah merah dan sel darah putih yang sudah tua serta beberap bakteri.

Aktivasi Vitamin D

Hati dan ginjal berpartisipasi dalam mengaktifasi Vitamin D.

 

Penyakit Hati

Beberapa Jenis  Penyakit Hati dan Sumber  Penularannya

  1. Hepatitis A

Tipe hepatitis yang paling ringan. Infeksi virus hepatitis A (VHA) biasanya tidak sampai menyebabkan kerusakan jaringan  hati yang parah. Mayoritas mereka yang terinfeksi oleh virus ini dapat pulih kembali.

Hepatitis A menular  melalui  makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh VHA akibat hygiene yang buruk. Penderita hepatitis A kebanyakan anak-anak.

  1. Hepatitis B

Jenis hepatitis yang berbahaya dan paling mudah menular dibandingkan jenis hepatitis lainnya. Hepatitis B menular melalui kontak darah atau cairan tubuh yang mengandung VHB. Seseoarang dapat saja mengidap VHB tanpa disertai gejala-gejala klinis ataupun kelainan dan gangguan kesehatan / tidak sakit itu disebut dengan “CARRIER”  atau pengidap.

VHB dapat ditemukan dalam darah, air liur, ASI, cairan sperma atau vagina penderita.

Hepatitis B sering diistilahkan sebagai penyakit kuning, karena gejala yang timbul di antaranya kulit tampak menjadi kuning, air seni berwarna separti air teh.

  1. Hepatitis C

Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis C (VHC), meskipun tidak sebahaya hepatitis B, hepatitis C berpotensi menyebabkan  peradangan serius.

Seringkali orang yang menderita hepatitis C tidak menunjukkan gejala,  walaupun infeksi telah terjadi dalam waktu yang lama.

Gejalanya mirip seperti hepatitis B, sedang penularannya seperti hepatitis B, yaitu melalui kontak langsung dengan darah.  Virus ini bisa menyebabkan hepatitis akut yang sebagian besar penderitanya berlanjut menjadi hepatitis kronis dan pengidap yang merupakan sumber infeksi. Sekitar 20 % dari penderita hepatitis C kronis akan berkembang menjadi serosis hati yang berpotensi besar berkembang menjadi hepatoma di masa yang akan datang. Waktu rata-rata yang diperlukan untuk berkembang menjadi serosis hati yaitu 17 tahun, sedangkan untuk menjadi hematoma  sekitar  20 tahun (Dalimartha 2004).

  1. Hepatitis D

Biasanya ditemui pada penderita Hepatitis B. Karena Virus Hepatitis D (VHD) sangat kecil, dan memerlukan pelindung VHB untuk menginfeksi sel tubuh. VHD menyebabkan infeksi VHB menjadi lebih berat. Yang memiliki risiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat.

  1. Hepatitis E

Memiliki kesamaan dengan hepatitis A termasuk cara menginfeksinya yaitu ditularkan melalui ingesti air yang tercemar.  Biasanya Hepatitis E sering menjadi  akut dalam periode singkat, dan jika daya tahan tubuh penderita dalam keadaan sangat lemah. Hepatitis E dapat menyebabkan gagal  hati.

Etiologi dan Gambaran  Klinis

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dibantu hasil pemeriksaan laboratorium. Menurut Sulaiman dan  Julitasari (1995).

  1. Anamnesis, gejala prodromal dan riwayat kontak.
  2. Pemeriksaan Jasmani
  3. Pemeriksaan Laboratorium (Tes fungsi hati : Bilirubin, SGOT, SGPT, GGT, Alkali Fosfatase, dan Tes Serologi).

Penatalaksanaan Diet Hati

Tujuan Diet :

  1. Memperbaiki keadaan gizi pasien dengan makanan seimbang.
  2. Mencegah dan memperbaiki kerusakan jaringan hati lebih lanjut dengan mengurangi beban kerja hati.
  3. Mencegah kurang gizi.

Prinsip Diet :

  1. Tinggi kalori yang berasal dari bahan makanan tinggi karbohidrat.
  2. Lemak diberikan yang mudah cerna dalam jumlah cukup.
  3. Protein tinggi atau disesuaikan dengan kondisi pasien.
  4. Cukup vitamin dan mineral.
  5. Rendah garam bila ada edema / bengkak pada punggung, kaki dan perut (asites).
  6. Makanan mudah cerna dan tidak banyak memakai bumbu-bumbu yang tajam seperti, cuka, merica, cabe, pala, dan lain-lain.
  7. Makanan dalam porsi kecil dan diberikan sering.
  8. Cairan atau minuman dibatasi bila ada edema dan asites.

Bahan Makanan yang Dihindari :

  1. Sumber Karbohidrat : beras ketan, ubi , singkong, talas.
  2. Sumber Protein : daging berlemak, babi, kambing, keju dan es krim.
  3. Sayuran yang berserat dan menimbulkan gas, seperti kol, sawi, lobak, daun singkong, nangka muda dan kembang kol.
  4. Buah-buahan yang berserat dan tinggi lemak seperti : nangka, nanas, durian, alpukat.
  5. Goreng-gorengan, santan kental, tape, kue yang gurih.
  6. Minuman yang mengandung soda dan alkohol seperti : arak, bir , soft drink.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan :

  1. Masaklah dengan cara merebus, mengukus, memanggang, mengungkep, atau membakar.
  2. Hindari menggoreng atau menggoreng dengan minyak kedele, minyak  jagung untuk menumis.
  3. Bila memasak daging pilihlah daging yang tak berlemak.
  4. Memasak sayuran jangan menggunakan santan kental.

Cara Pencegahan

Menurut Corwin (2001), pengobatan hepatitis virus terutama bersifat suportif yang mencakup :

  1. Istirahat cukup
  2. Pendidikan agar menghindari penyalahgunaan alkohol dan obat-abatan.
  3. Pendidikan mengenai cara penularan hepatitis kepada anggota keluarga dan teman seksual.
  4. Pemberian vaksin hepatitis.