Mengukur Kemampuan Dengar dengan Audiometri

dr. M. Arief Purnanta, Sp.THT, M.Kes – Betapa beruntungnya kita yang masih memiliki telinga dalam kondisi baik, bisa mendengarkan lagu-lagu kesayangan ataupun dapat menikmati cerita-cerita yang indah. Tapi apakah pernah Anda bayangkan saat telinga kita tidak lagi bisa berfungsi dengan baik? Anda serasa berada di dalam dunia yang sunyi senyap.

Oleh karena itu, sayangilah telinga Anda dan jangan sepelekan dan remehkan hal-hal kecil yang bisa mengancam kesehatan organ pendengaran kita. Biasanya orang baru sadar akan pentingnya menjaga organ telinga ketika mereka sudah mengalami gangguan pendengaran.

Telinga merupakan salah satu organ panca indera yang berfungsi sebagai alat pendengaran, selain itu telinga juga berfungsi sebagai organ keseimbangan. Dalam hal ini telinga tidak berdiri sendiri, akan tetapi bekerjasama dengan organ lain seperti mata, sendi-sendi, otak dan lainnya. Jika ada dua organ yang tidak berfungsi, maka keseimbangan kita pun akan terganggu atau hilang.

Sebagai organ pendengaran, telinga memiliki tiga bagian penting. Yakni telinga bagian luar, bagian tengah dan telinga dalam. Tiga bagian inilah yang mengantar yang mengantarkan gelombang suara hingga akhirnya otak merespon untuk menentukan jenis suara apa yang diterima.

Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan lubang telinga. Daun telinga berfungsi untuk menangkap dan menampung gelombang suara yang berasal dari luar, yang kemudian menyalurkan ke lubang telinga. Dari sini suara kemudian masuk ke telinga tengah melalui gendang telinga. Di belakang gendang telinga, terdapat tulang pendengaran yang bentuknya menyerupai rantai. Tulang-tulang ini saling berhubungan pada sendi dan berfungsi mengantarkan gelombang suara hingga menggetarkan gendang dan sampai ke telinga dalam. Di telinga dalam terdapat alat penerima yang disebut rumah siput. Di dalam rumah siput terdapat ujung-ujung saraf, cairan dan organ  yang mengambang. Gelombang suara yang diantarkan gendang dan tulang telinga akan menggetarkan cairan dalam rumah siput, sehingga membuat organ yang mengambang bergerak dan menyentuh ujung-ujung saraf pendengaran. Proses yang tadinya menggunakan tenaga mekanik kemudian diubah menjadi tenaga listrik, dan disampaikan ke otak sehingga kita mendengarkan suara.

KELAINAN TELINGA

Tuli konduktif, tuli sensorineural, dan tuli campuran merupakan jenis ketulian yang disebabkan oleh kelainan pada organ pendengar. Tuli konduktif mengacu pada kelainan yang berada pada telinga bagian luar dan tengah, misalnya terjadi penyumbatan pada saluran telinga yang disebabkan oleh serumen yang menumpuk. Sedangkan kelainan telinga bagian tengah yang menyebakan tuli konduktif ialah terjadinya sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanosklerosis, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran.

Sedangkan jenis tulis sensorineural dibagi menjadi dua bagian yakni tuli sensorineural koklea dan retrokoklea. Tuli sensorineural koklea disebabkan aplasia, labirintitis, intoksikasi obat ototksik atau alkohol. Sementara tuli sensorineural retrokoklea disebabkan neuroma akustik, tumor sudut pons serebelum, mieloma multipel, cedera otak, perdaahan otak atau kelainan otak lainnya

DIAGNOSIS ORGAN PENDENGARAN

Guna mengetahui jenis kelainan telinga, atau mendiagnosa telinga, maka dapat ditempuh melalui  dua cara yakni dengan menggunakan tes kualitatif dengan menggunakan garpu tala dan tes kuantitatif dengan menggunakan audiometri.

GARPUTALA

Terdapat beberapa macam tehnik yang bisa digunakan dengan media garputala diantaranya adalah dengan tes penala, tes rinne, tes weber dan tes schwabach.

UNIT AUDIOMETRI

Untuk pemeriksaan kuantitatif gangguan pendengaran dilakukan pemeriksaan audiometri. Dari audiogram dapat dilihat apakah pendengaran normal atau tuli, kemudian jenis dan derajat ketuliannya. Derajat ketulian dihitung denagn indeks fletcher, yaitu rata-rata ambang pendengaran pada frekuensi 500, 1.000 dan 2.000 Hz. Pada interpretasi audiogram harus ditulis telinga yang mana, apa jenis ketuliannya dan bagaimana derajat ketuliannya.

Untuk  membedakan tuli koklea dan tuli retrokoklea diperlukan pemeriksaan audiologi khusus (seperti tes tone decay, tes Short Increment Sensitivity Index (SISI), tes Alternate Binaural Loudness Balance (ABLB), audiometri tutur, audiometri Bekessy) audiometri objektif (audiometri impedans, elektrokokleografi, Brain Evoked Reponse Audiometry (BERA), pemeriksaan tuli anorganik (tes Stenger, audiometri nada murni secara berulang, impedans) dan pemeriksaan audiometri anak (kapita selekta Kedokteran (ed) Mansjoer Arif).

Perangkat audiometri memiliki bentuk yang mirip dengan perangkat yang ada di wartel, tersedia sebuah kabin dengan perlengkapan headset di dalamnya. Kabin ini didesain sedemikian rupa sehingga bisa melahirkan kondisi kedap suara. Di ruangan inilah pasien dengan keluhan gangguan pendengaran akan diperiksa dengan sebuah alat yang dinamakan audiometri

Sementara itu, di bagian luar terdapat alat kontrol yang digunakan untuk mengatur jumlah kekuatan gelombang suara yang dikirimkan kepada pasien lewat headset yang dipakainya.  Dokter ahli THT akan memberikan gelombang suara dengan nilai (db) yang bervariasi hingga diperoleh kesimpulan mengenai kemampuan pendengaran seseorang.

Ditemui diruangan poli THT menjelaskan bahwa audiometri merupakan alat diagnostik yang dipakai untuk mengukur tingkat pendengaran seseorang. Dengan menggunakan alat yang dinamakan audiometri, maka dokter akan mengetahui derajat ketajaman pendengaran pasiennya atau mengetahui jenis tuli pasien apakah tuli konduktif ataukah tuli sensoneural (tuli syaraf). Berdasarkan informasi yang diperoleh inilah, maka dokter kemudian akan menentukan jenis pengobatan atau terapi apa yang cocok untuk si pasien.

Sebelum melakukan pemeriksaan dengan menggunakan audiometri, maka ada beberapa persiapan khusus yang harus ditempuh oleh pasien. Kondisi fisik organ pendengaran bagian luar harus dibersihan terlebih dahulu sehingga berada dalam kondisi baik. Misalnya jika kotoran atau cairan pada saluran telinga maka akan dibersihkan. Atau misalnya terjadi infeksi, maka inipun harus diobati dulu. Setelah organ luar berada dalam kondisi baik, selanjutnya dokter akan memeriksa dengan alat konvensional terlebih dahulu yang disebut sebagai tes kasar, misalnya dengan menggunakan garputala. Nah, pemeriksaan kasar ini dimaksudkan sbagai gambaran yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari tes audiometri, selanjutnya pasien akan menjalani pemeriksaan dengan menggunakan audiometri yang lamanya berkisar antara 15 hingga 30 menit.

Audiometri merupakan salah satu fasilitas medis pendukung yang ada di poliklinik THT RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Pengadaan alat tersebut tentu saja guna memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien dengan keluhan pendengaran. Diharapkan dengan adanya alat tersebut, maka proses diagnosis akan semakin maksimal sehingga proses pengobatan akan berjalan lebih optimal.