Mengenali Toxoplasmosis pada Kehamilan

dr. Puska Primi Ardini, Sp.OG-(K), MFM – Toxoplasmosis merupakan infeksi protozoa yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Seringkali kita menjadikan kucing sebagai kambing hitam penyebab toxoplasmosis ini. Padahal yang terjadi sebenarnya kucing adalah sebagai hospes definitive, sebagai tempat perkembanganbiakan protozo secara seksual yang menghasilkan ookista. Ookista ini akan dikeluarkan bersama dengan kotoran kucing. Yang kemudian terjadi adalah kotoran kucing tersebut mencemari tanah dan tumbuh-tumbuhan. Akibatnya jika Anda senang berkebun tidak menggunakan sarung tangan dan alas kaki atau makan sayuran / lalapan segar (tanpa direbus dahulu) maka ookista tersebut akan masuk ke dalam tubuh Anda. Apabila tumbuh-tumbuhan tersebut dimakan oleh hewan seperti kambing atau sapi, maka ookista akan hidup dalam tubuh hewan dalam bentuk kista. Sehingga jika anda makan daging sapi atau kambing tersebut setengah matang, maka anda akan terinfeksi toxoplasma. Jadi bukan kucing yang menyebabkan toxoplasmosis.

Ibu hamil yang mengalami infeksi primer toxoplasma sesaat menjelang hamil atau selama hamil (serokonversi) atau mengalami reaktivasi beriko menularkannya ke janin. Semakin tua umur kehamilan semakin mudah untuk terkena toxoplasmosis namun berbanding terbalik dengan beratnya derajat kelainan klinis, dimana semakin muda janin yang terkena infeksi semakin berat manifestasi klinisnya.

Mengidentifikasi Toxoplasmosis

Gejala klinis sangat sulit dan tidak akurat, sebagian kecil menunjukkan gejala menyerupai flu, kelelahan tanpa sebab dan pembesaran kelenjar getah bening leher unilateral. Sedangkan janin yang terinfeksi dapat tanpa gejala sama sekali atau di jumpai tanda-tanda hidrosefalus dan pertumbuhan janin terhambat.

Pada bayi baru lahir pun dapat ditemukan tanpa gejala dan tanda. Tetapi jika Anda menemukan adanya icterus, juling, tuli, anemia, kalsifikasi di otak, hidrosefalus, ensefalitis, pneumonitis, epilepsy, retardasi mental, trombositopenia, hipotermia, dan diare maupun beberapa kondisi non spesifik, patut dicurigai adanya infeksi toxoplasma. Kondisi-kondisi di atas pun sebenarnya sulit dibedakan dengan keadaan yang ditimbulkan oleh sifilis, rubella, sitomegalovirus, maupun herpes simplek.

Apakah pemeriksaan Ultrasonografi (USG) selama kehamilan dapat mendeteksi kelainan-kelaian tersebut pada janin?

Perlu diketahui bahwa kemampuan USG untuk mendeteksi kelainan akibat toxoplasmosis hanya sekitar 5%. Karena ada bayi dengan toxoplasmosis yang hingga dewasa tidak mengalami kelainan. Pemeriksaan USG terutama difokuskan pada otak. Kelainan yang terbanyak ditemukan adalah hidrosefalus (74%), diikuti oleh kalsifikasi intracranial (18%), antrofi otak, dan hidranensefali. Hidrosefalus bersifat bilateral dan simetris, kelainan ini terbentuk sangat cepat dan sering tidak menyebabkan perubahan diameter biparetal. Pada pemeriksaan USG juga dapat ditemukan penebalan plasenta dengan area hiperekoik, hepatomegaly dengan peningkatan ekogenitas, asites, efusi pericardial atau pleural.

Bagaimana diagnosis toxoplasmosis ditegakkan?

Pemeriksaan laboratorium dapat memastikan apakah anda sedang atau pernah menderita toxoplasmosis. Jika terjadi serokonversi, yaitu ditemukannya IgG spesifik toxoplasma dari negatif menjadi positif pada selang waktu tertentu (di bawah 1 (satu) tahun) maka dapat dipastikan Anda sedang menderita toxoplasmosis. Tetapi jika anda sudah pernah terinfeksi sebelum hamil, diagnosis menjadi lebih sulit, hal ini dikarenakan petanda akut yang ada seperti IgM dan IgA dapat bertahan lebih dari 1 tahun. Kemudian dikembangkan pemeriksaan IgG aviditas spesifik terhadap toxoplasma, dimana aviditas rendah menunjukkan paling tidak Anda baru 4 (empat) bulan terakhir terinfeksi toxoplasma.

Pengobatan Toxoplasmosis

Pengobatan pada wanita hamil tidak menghalangi terjadinya transmisi ke janin, tetapi mengurangi risiko terjadinya cacat kongenital. Penggunaan obat harus dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan terutama pada awal kehamilan.

Obat yang digunakan :

  1. Spiramisin

Ini merupakan obat yang sering digunakan pada toxoplasmosis pada kehamilan karena :

  • Mencapai kadar yang tinggi di plasenta
  • Termasuk antibiotika yang relatif aman untuk ibu dan janin
  • Efek samping relatif ringan
  • Efektif diberikan untuk mencegah cacat kongenital jika diberikan dalam 20 minggu pertama kehamilan. Pemberian spiramisin terus menerus diperlukan untuk membunuh toxoplasma di plasenta sepanjang kehamilan. Pengobatan ini dilaporkan mengurangi transmisi toxoplasma melalui plasenta sebesar 70%.

2. Kombinasi pirimetamin dan sulfonamide

Kombinasi  obat ini dianggap memberikan hasil yang memuaskan, namun baru dapat diberikan pada minggu ke 16 kehamilan karena pirimetamin menimbulkan efek teratogenik pada hewan percobaan.

Pencegahan :

Mungkinkah toxoplasmosis pada ibu hamil dicegah?

Tentu saja bahkan sebuah penelitian di Belgia mengatakan bahwa edukasi pendidikan kepada masyarakat yang intensif dapat mengurangi 63 % angka serokonversi. Adapun cara-cara pencegahannya adalah :

  • Tidak makan daging kecuali matang, dan tidak minum susu kecuali telah di pasteurisasi.
  • Hindari menyentuh mata dan mulut pada saat mengolah daging mentah, dan setelah itu maka wajib melakukan cuci tangan dengan sabun.
  • Hindari kontak dengan kotoran kucing atau kontaminannya  (misalnya memakai sarung tangan saat berkebun).
  • Sayuran harus dicuci atau dimasak.