Fungsi Penting Bedah Saraf

dr. Wisnu Baskoro, Sp.BS – Dimana ruang lingkup kerja bedah saraf?

Bedah saraf dalam istilah medis biasa disebut Neurologis Bedah, adalah spesialisasi medis yang berkaitan dengan pencegahan, pengobatan, diagnosis dan rehabilitasi gangguan yang mempengaruhi seluruh sistem saraf. Organ-organ yang termasuk dalam lingkup tersebut antara lain otak, tulang belakang, sumsum tulang belakang, saraf tepi dan tengkorak cerebrovaskuler. Bedah saraf lah yang melakukan operasi tertua dalam praktik medis yakni operasi otak.

Bagaimana perkembangan metode kerja bedah saraf ?

Di bidang bedah saraf, hampir semua teknik operasi untuk penyembuhan saraf yang dilakukan bersifat invasif dengan kata lain harus dengan membuat luka sayatan dan membuka tulang tengkorak untuk mengakses ke dalam jaringan otak atau yang biasa disebut sebagai craniotomy. Dengan berkembangnya teknologi informasi, teknik bedah saraf menjadi lebih maju. Teknologi informatika dapat membantu membuat pemetaan pada fungsi otak sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi defisit fungsi saraf (neurological deficit) yang diakibatkan oleh tindakan operatif.

Demikian pula perkembangan teknologi pencitraan modern saat ini telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi keberhasilan operasi bedah penyembuhan saraf. Visualisasi dengan menggunakan mikroskop pada waktu operasi, meningkatkan keberhasilan dan keamanan bagi penderita pasca operasi. Lebih canggih lagi, alat endoscopy telah banyak membantu para ahli bedah saraf untuk melihat setiap sudut di dalam otak manusia untuk menentukan posisi aneurism (pembesaran pembuluh darah) di otak sebelum dilakukan clipping (menjepit pembuluh darah yang berisiko terjadi rupture / pecah).

Seberapa aman operasi bedah saraf?

Pada dekade terakhir, tindakan bedah saraf dengan computer-assisted imageguided (neuronavigation) telah dikembangkan untuk membantu ahli bedah saraf melakukan tindakan operasi lebih aman, neuronavigation memungkinkan para ahli bedah saraf mengetahui lokasi lesi / tumor secara lebih akurat, dengan cara menentukan besarnya lesi / tumor dan menentukan teknik operasi yang tepat untuk mendekati lesi / tumor tersebut. Saat ini telah tersedia sistem navigasi berbentuk frame based atau frameless berdasarkan pada teknik perbedaan posisi lesi / tumor sebagai titik poin optic atau sistem electromagnetic.

Selanjutnya, semua jenis sistem pencitraan yang menunjang pada saat dilakukan operasi bedah saraf ini memerlukan data pencitraan yang diperoleh dari CT Scan (Computer Tomography Scanning), MRI (Magnetic Resonance Image) dan juga integrated fungsional MRI, positron emission tomography, serta magnetoencephalography yang diambil sebelum operasi dilakukan. Sehingga dengan demikian belum ada satu sistem yang dapat mendeteksi perubahan dalam otak secara berkesinambungan selama operasi berlangsung seperti pergeseran otak akibat bocornya cairan cerebrospinal (cairan dalam otak), pengambilan tumor, maupun perubahan bentuk otak akibat perubahan posisi pasien.

Disinilah kemahiran ahli bedah saraf dalam menggabungkan teknologi informasi dan teknik operasi diperlukan. Seorang ahli bedah saraf harus bisa menentukan jenis alat pencitraan yang mana yang diperlukan untuk membantu navigasi saat dilakukan operasi. Di antara mereka ada yang menggunakan berdasarkan data pencitraan yang diambil sebelum dilakukan operasi, lalu ada pula yang menggunakan 3D ultrasonografi yang dapat digunakan real time pada saat operasi berlangsung. Bila data diambil sebelum dilakukan operasi, maka hasil pencitraan ini akan bermanfaat pada saat menentukan petanda lokasi tumor sebelum dilakukan reseksi (pengambilan tumor) dengan cara membuat  garis disekitar batas tumor dengan bantuan pena khusus yang dapat memancarkan sinyal lalu titik posisi pena tersebut ditransmisikan dan diproyeksikan dalam gambar yang sudah ada.

Kondisi apa saja yang memerlukan operasi bedah saraf?

Kondisi yang perlu ditangani oleh ahli bedah saraf meliputi :

  • Spinal herniasi disk;
  • Spinal stenosis;
  • Hidrocepalus;
  • Trauma kepala (pendarahan otak, patah tulang tengkorak, dan lain-lain);
  • Trauma sumsum tulang belakang;
  • Trauma cedera dari saraf tepi;
  • Infeksi;
  • Tumor tulang belakang, sumsum tulang belakang dan saraf tepi;
  • Perdarahan intraserebral, seperti perdarahan subarachnoid, intraparenchymal dan intraventricular;
  • Beberapa bentuk yang resisten terhadap obat epilepsy;
  • Beberapa bentuk gangguan gerak (lanjutan penyakit Parkinson);
  • Rasa sakit kanker yang keras atau trauma pasien dan tengkorak / nyeri saraf perifer;
  • Beberapa bentuk gangguan kejiwaan;
  • Vascular malformasi (yaitu, malformasi arteriovenosa, angioma vena, angioma gua, telangectasias kapiler) dari otak dan sumsum tulang belakang;
  • Perifer neuropati seperti carpal tunnel syndrome dan neuropati ulnaris;
  • Moyamoya penyakit.