Epistaksis

dr. Pramavita Nur Junieva, Sp.THT-KL – Epistaksis atau perdarahan hidung (mimisan) merupakan kasus yang relatif sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Epistaksis kadangkala merupakan gejala atau manifestasi dari penyakit lain. Sebagian besar kasus epistaksis merupakan kasus ringan dan sering dapat berhenti sendiri tanpa memerlukan bantuan medis, lebih dari 90% pasien dengan epistaksis bisa diterapi dengan baik oleh dokter IGD. Walaupun begitu, kasus epistaksis yang berat dapat berakibat fatal apabila tidak segera ditangani. Angka kejadian epistaksis menurut jenis kelamin didapatkan lebih banyak pada laki-laki daripada wanita, dimana epistaksis lebih sering pada musim dingin daripada musim panas. Menurut usia, epistaksis sering terjadi pada anak-anak dengan puncak usia 2-10 tahun dan orang tua usia 50-80 tahun.

Epistaksis (mimisan) bisa didefinisikan pendarahan akut dari rongga hidung. Epistaksis anterior dapat berasal dari Plexus Kiesselbach, yaitu anyaman pembuluh darah di daerah sekat hidung, merupakan sumber perdarahan yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana. Epistaksis posterior, berasal dari Arteri Sphenopalatina dan Arteri Ethmoid Posterior yaitu pembuluh darah yang relatif lebih besar yang terletak di bagian belakang hidung, perdarahan cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat menyebabkan anemia dan syok. Sering ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.

Pada pasien epistaksis yang pasti akan terlihat adanya perdarahan dari hidung dengan jumlah perdarahan yang bervariasi, bisa sedikit atau banyak (profus) sehingga bisa jatuh pada kondisi yang membahayakan. Perdarahan dapat keluar dari depan / anterior atau posterior (post nasal), dimana darah bisa ditelan atau diludahkan pasien. Sifat perdarahan bisa terus-menerus (continous) atau hilang timbul (intermittent). Kadangkala pasien juga mengeluhkan adanya batuk darah atau muntah darah dan biasanya datang dengan keadaan cemas. Bahkan pada kasus perdarahan yang hebat bisa terjadi syok.

Pemeriksaan lanjutan untuk kasus epistaksis dapat dikonsultasikan kepada dokter THT. Penanganan kasus epistaksis lebih ditekankan pada kelainan atau penyakit yang mendasari, untuk itu diperlukan anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Perlu ditanyakan apakah darah terutama mengalir ke tenggorokan atau keluar dari hidung depan bila pasien duduk tegak, lamanya perdarahan dan frekuensinya, riwayat perdarahan sebelumnya, riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit hati, gangguan koagulasi, trauma hidung yang belum lama terjadi, konsumsi obat-obatan dalam waktu lama. Pemeriksaan pendukung / penunjang yang lain mungkin diperlukan untuk lebih memperkuat diagnosa serta menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Pemeriksaan penunjang tersebut berupa pemeriksaan CT-scan dan MRI yang merupakan bagian dari evaluasi serta pemeriksaan arteriograpi, embolisasi dan operasi bila diperlukan.

Pada kasus epistaksis anterior, kebanyakan mimisan dapat berhenti secara spontan pada beberapa menit. Langkah awal bila terjadi kasus epistaksis atau mimisan adalah dengan menghimbau untuk tidak banyak bergerak, kemudian memposisikan duduk dengan kepala dicondongkan ke depan yang bertujuan untuk menghindari darah yang mengalir balik ke tenggorokan, tekan hidung sambil melakukan kompres dingin pada hidung selama kurang lebih 10 menit. Apabila mimisan berlanjut dan volume darah yang keluar semakin banyak sebaiknya segera ke IGD atau dokter THT terdekat.