Difteri

Tri Windarti, AMK – Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Gejala :

  • Membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel;
  • Demam dan menggigil;
  • Nyari tenggorokan dan suara serak;
  • Sulit bernafas atau nafas cepat;
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher;
  • Lemas dan lelah;
  • Hidung beringus, awalnya cair lama kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah; dan
  • Bisul pada kulit.

Penyebab :

Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae, ditularkan melalui udara saat seorang (penderita) bersin atau batuk.

Penularan :

Penularan melalui (makanan, air terkontaminasi dan sanitasi).

Penularan :

  • Barang yang telah terkontaminasi oleh bakteri, misalnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada bisul akibat difteri di kulit penderita.
  • Kontak langsung dengan hewan yang sudah terinfeksi.
  • Meminum susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilasis.
  • Makanan yang terbuat dari susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi.

Pencegahan :

  • Selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun secara teratur dan teliti.
  • Mencuci sayur dan buah yang dimakan mentah.
  • Orang yang sakit disentri basiler sebaiknya tidak menyiapkan makanan.
  • Memasak makanan sampai matang.
  • Selalu menjaga sanitasi air, makanan, maupun udara.
  • Mengatur pembuangan sampah dengan baik.
  • Mengendalikan vektor dan binatang pengerat.

Vaksin untuk imunisasi difteri.

Dibagi dalam 3 jenis vaksin DPT-HB-HiB, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda secara bertahap :

  • Imunisasi dasar pada bayi (di bawah usia 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-HiB dengan jarak masing-masing 1 bulan.
  • Imunisasi lanjutan (booster) saat anak usia 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-HiB.
  • Imunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 1 SD sebanyak 1 dosis vaksin vaksin DT.
  • Imunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 2 SD sebanyak 1 dosis vaksin vaksin Td.
  • Imunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 5 SD sebanyak 1 dosis vaksin vaksin Td.

Komplikasi :

  • Pemblokiran jalan nafas;
  • Kerusakan otot jantung (miokarditis);
  • Kerusakan saraf (polyneuropathy);
  • Hilangnya kemampuan bergerak (kelumpuhan); dan
  • Infeksi paru-paru (gagal napas atau pneumonia).