Deteksi Dini Ketulian Bayi : Langkah Awal Menyongsong Kesuksesan

dr. M. Arief Purnanta, M.Kes, Sp.THT – Seorang ibu kebingungan ketika anaknya yang telah berusia dua tahun ternyata masih belum dapat berbicara. Dia merasa khawatir dengan kemungkinan ketidaknormalan organ bicara anaknya. Setelah berkonsultasi dengan dokter ternyata ditemukan bahwa organ pendengaran anaknya memang tidak berfungsi. Bayi yang belum pernah mendengar bunyi tentu saja tidak akan dapat berbicara tanpa dilatih.

Menurut dr. Arief Purnanta, M.Kes, Sp.THT, dokter spesialis THT di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, kebingungan ibu itu merupakan hal yang wajar akan tetapi seharusnya ketidaknormalan itu bisa dideteksi sejak dini. Dengan menggunakan alat yang disebut OAE atau Oto Acoustic Emission, alat deteksi ketulian dini untuk bayi, maka berbagai tindakan pencegahan dan perawatan bisa dipersiapkan sejak awal. Deteksi dini ketulian pada bayi sudah bisa dilakukan semenjak bayi berusia 2 hari.

Mendeteksi Ketulian

Tes pendengaran pada bayi secara garis besar terdiri dari deteksi, diagnosis pasti dan habilitasi (intervensi). Alat OAE biasanya dikombinasikan dengan alat yang bernama BERA (Brainsteam Evoked Response Audiometry) dan keduanya disebut dengan Gold Standard Newborn Hearing Screening. Prinsip kerja dari alat ini adalah memberikan bunyi berupa gelombang emisi akustik melalui pengeras suara mini ke dalam gendang telinga lalu ke dalam koklea. Apabila telinga sedang berada dalam kondisi sehat maka telinga akan memantulkan suara tersebut dan bisa dilihat melalui komputer atau alat pendeteksi.

Manfaat OAE

Menyadari ketidaknormalan pendengaran dari awal, orang tua bisa mempersiapkan berbagai macam langkah untuk menyikapinya. Bagaimanapun juga ketulian semenjak lahir dapat berdampak luas pada kehidupan anak, baik dalam perkembangan berbicara, bahasa, perilaku, kognitif atau pengetahuan, sosio emosional dan akan terus berlanjut hingga anak tersebut harus bekerja. “Apabila orang tua sudah mengetahui dari awal, diharapkan bisa meminimalisir gangguan tersebut. Anak bisa dilatih sejak dini dan diharapkan dia tidak akan berbeda dengan orang-orang lain yang terlahir normal”, ungkap dr. Arief Purnanta, M.Kes, Sp.THT. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa 50% dari bayi ternyata tuli tanpa faktor resiko atau penyebab. Menurut Joint Committee of Infant Hearing Statement (1994), ada beberapa faktor resiko terhadap ketulian pada bayi usia 0-28 hari, yaitu:

  1. Riwayat keluarga dengan tuli kongenital (sensorineural)
  2. Infeksi prenatal (TORCH)
  3. Anomali kepala leher
  4. Sindrom yang berhubungan dengan tuli kongenital
  5. Berat badan lahir rendah yakni kurang dari 1500 gram
  6. Bakteri meningitis
  7. Hiperbilirubinemia (bayi kuning) yang memerlukan transfusi tukar
  8. Pemberian obat ototoksik
  9. Asfiksia berat atau bayi yang lahir tidak menangis
  10. Mempergunakan alat bantu nafas / ventilasi mekanik selama lebih dari 5 hari

Akan tetapi ternyata bayi yang tidak memiliki faktor resiko pun bis ajuga mengalami ketulian sehingga setiap orang tua patut waspada akan setiap kemungkinan yang ada.