Cegah Hepatitis B Dengan Imunisasi

Desi Fajar Susanti, M.Sc, Sp.A – Hepatitis B merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia. Hepatitis B adalah peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B. Hepatitis B merupakan penyakit Hepatitis yang paling ditakutkan karena dapat menjadi kronik. Jumlah penderita Hepatitis kronis saat ini mencapai 350 juta dengan 4 juta kasus baru/tahun di dunia. Risiko menjadi kronik sangat tinggi (80%-95%) apabila infeksi tersebut terjadi pada bayi dan dalam 10-20 tahun dapat menjadi sirosis dan/atau Karsinoma Hepatoseluler (KHS).

Seseorang yang terinfeksi virus Hepatitis B dapat menderita sakit yang bersifat sementara atau menahun. Tanda klinis Hepatitis B bervariasi dari tanpa gejala, gejala ringan tidak khas (mual, muntah), gejala nyata dan khas (kuning) atau menjadi suatu keadaan Hepatitis yang berat dan fatal. Infeksi pada anak kebanyakan bersifat asimtomatik. Sedangkan pada anak besar gejala Hepatitis B akut dapat berupa lemas, tidak nafsu makan, demam, kuning, dan mual/muntah.

Penularan virus Hepatitis B secara umum dapat terjadi melalui kontak perkutan, parenteral, dan melalui hubungan seksual. Penularan pada bayi didapat secara vertikal dari ibu pembawa Hepatitis B kronik yaitu saat di dalam kandungan, saat lahir atau setelah lahir.

Hepatitis B bersifat endemis di seluruh dunia, Indonesia termasuk daerah endemis sedang-tinggi dengan prevalensi berkisar 3-20% dan prevalensi pada ibu hamil sendiri berkisar 3.6%.

Pencegahan merupakan upaya terpenting karena paling efisien (cost-effective). Secara garis besar pencegahan terdiri dari prefentif umum dan khusus yaitu imunisasi Virus Hepatitis B pasif maupun aktif. Pencegahan umum meliputi:

  1. Uji tapis donor darah.
  2. Sterilisasi instrumen kesehatan, alat dialysis individual.
  3. Membuang jarum disposable ke tempat khusus.
  4. Pemakaian sarung tangan oleh tenaga medis.

Pencegahan khusus dapat dilakukan dengan program imunisasi rutin pada bayi baru lahir. Pemberian vaksinasi Hepatitis B sedini mungkin sebelum bayi berusia 12 jam dimaksudkan supaya virus Hepatitis tidak masuk lebih dahulu daripada pemberian vaksinasi Hepatitis B. Bayi yang lahir dari ibu terinfeksi Hepatitis B selain mendapat vaksin perlu mendapat immunoglobulin Hepatitis B pada usia kurang dari 12 jam pada paha yang berbeda. Vaksinasi Hepatitis B ini kemudian akan diberikan kembali di usia 2, 3 dan 4 bulan sesuai dengan jadwal imunisasi rutin.  Pemberian tiga dosis vaksin Hepattis B akan menginduksi terbentuknya respon protektif anti yaitu HBs  10mIU/mL.

Selain pada bayi baru lahir, vaksinasi Hepatitis B diberikan pada:

  1. Petugas kesehatan atau pekerja lainnya yang berisiko terhadap paparan darah penderita Hepatitis B.
  2. Pasien Hemodialisa
  3. Pasien yang membutuhkan transfusi darah maupun komponen darah.
  4. Individu yang memiliki keluarga dengan riwayat Hepatitis B.
  5. Kontak atau hubungan seksual dengan karier Hepatitis B.
  6. Turis yang bepergian di daerah endemic Hepatitis B.
  7. Pengguna obat-obat suntik.
  8. Populasi berisiko secara seksual.
  9. Pasien dengan penyakit hati kronik.
  10. Pasien yang berencana melakukan transplantasi organ.